Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 58


__ADS_3

Bastian benar-benar menikmati masa liburannya, tidak ada pekerjaan yang berat sampai beberapa bulan kedepan, sebagian pekerjaannya masih bisa diselesaikan melalui panggilan video seperti meeting atau yang lainnya.


Seperti hari ini, ia menikmati tidur berkualitasnya di sebuah hotel mewah di pulau Bali tidak jauh dari villa tempat Melisa, Bibi Lauren dan juga Raihan berada.


Ia sengaja menyewa kamar hotel untuk dirinya sendiri, sebab tidak enak satu atap dengan Melisa, meski tidak ada yang mempermasalahkannya tetap saja sebagai laki-laki beretika dan bermoral ia menghindari itu.


Benar-benar masih tidur pulas Bastian bergelung dengan selimut tebalnya, ia hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada.


Saat masih bermimpi indah, tiba-tiba ia terusik dengan suara ketukan pintu yang menggebu, Bastian mengerjap memastikan kalau suara itu benar-benar nyata, bukan di dalam mimpinya.


Saat sudah sadar bahwa itu bukan mimpi Bastian berpikir mungkin itu room service yang akan membersihkan kamarnya, akan tetapi yang Bastian heran kenapa ketukan itu semakin keras saja.


Tidak ingin menduga-duga, Bastian yang masih dengan celana pendek dan muka bantalnya, berjalan menuju pintu, memutar kunci dan langsung membukanya.


Namun Bastian terkejut karena seorang gadis menerobos begitu saja, membuat Bastian terdorong mundur. Tanpa peduli dengan Bastian yang kebingungan, orang itu malah langsung menutup pintu begitu saja dan menguncinya.


Dengan gerakan panik orang itu sama sekali tidak mengindahkan keberadaan Bastian yang terbengong, bingung dan juga marah, gadis itu malah naik ketempat tidur lalu membuka kemejanya dan menyisakan kaos tali spaghettinya.

__ADS_1


"Tolong jangan beritahu kalau aku disini, nanti setelah mereka pergi akan aku jelaskan, aku tidak akan melibatkan mu."


Tanpa menunggu jawaban Bastian yang sejak tadi diam karena masih syok, gadis itu langsung berbaring dan menutup tubuhnya sampai bahu seolah-olah dia adalah teman menginap Bastian.


Masih belum bisa mencerna kejadian yang barusan saja terjadi, kini ada lagi seseorang yang mengetuk pintu kamar hotel Bastian.


Ia langsung membuka pintu dan terlihatlah tiga orang dengan tubuh bak algojo dan satu pria paruh baya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bastian pura-pura.


Meski ia belum sepenuhnya bisa mencerna kejadian ini, tapi Bastian sedikit paham jika gadis itu dan orang-orang ini sedang terlibat masalah.


Bastian masih pura-pura tidak paham "Tidak ada orang masuk kesini, Tuan. Mungkin Anda salah lihat," ucap Bastian berbohong.


"Tapi, jika anda tidak percaya silahkan periksa saja, tapi jangan bersuara karena kekasih saya sedang tidur," timpal Bastian lagi.


Sebenarnya dalam hati dia ingin sekali berteriak pada gadis di dalam selimut itu dan menyeretnya menyerahkan kepada orang-orang ini.

__ADS_1


Namun sisi baiknya entah kenapa lebih dominan untuk membantu gadis itu bersembunyi.


Bastian terus memperhatikan beberapa orang yang dengan hati-hati memeriksa setiap sudut kamar Bastian, namun nihil, mereka tidak menemukan siapapun di dalam sana, hanya ada seseorang yang tidur pulas sekali sehingga tidak menyadari beberapa orang masuk.


Orang-orang itu kembali mendekati Bastian yang sedang duduk santai di sofa, dia menyeringai kepada beberapa orang tersebut.


"Maafkan kami Tuan, sudah mengganggu ketenangan Anda, ternyata orang yang kami cari tidak ada disini," ucap laki-laki paruh baya itu dengan suara rendah.


"Hhmm, tidak masalah. Jika sudah tidak ada keperluan lagi, anda-anda boleh keluar, karena saya akan melanjutkan tidur saya yang terganggu tadi," sahut Bastian dingin.


"Ah, iya, silahkan Tuan, kami permisi,"


Setelah orang-orang itu pergi, Bastian menutup pintu dengan dibanting, membuat gadis yang sedang bersembunyi di balik selimut sedikit terlonjak.


Bastian menyeringai, ia mengunci pintu dan mengambil kuncinya lalu memasukkannya ke dalam saku celana pendeknya.


"Hei! Bangkit dari tempat tidurku," teriak Bastian, membuat gadis itu kembali terlonjak, namun sama sekali tidak berniat untuk bangkit.

__ADS_1


Di dalam selimut ia mengutuk orang-orang yang mengejarnya tadi, sungguh ia bersumpah akan memenjarakan mereka semua kalau dia bisa bebas dari sini nanti.


"Kau tuli, ya!" Tarik Bastian selimut tebal itu.


__ADS_2