Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 96


__ADS_3

Setelah Melisa pergi tadi, Byakta langsung mengistirahatkan diri. Karena itu dia sampai lupa untuk mengisi baterai ponselnya.


"Ah, ternyata sudah hampir senja." Byakta menyibak selimut dan beringsut dari tempat tidur.


Sebelum ke kamar mandi, Byakta menyambar ponselnya terlebih dahulu lalu mengisi daya pada ponselnya.


Tidak lupa ia juga menghidupkan terlebih dahulu gawainya, setelah itu meletakkannya di nakas supaya baterai terisi dengan baik.


Setelah itu tanpa melihat isi ponselnya, Byakta berlalu begitu saja ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Terlihat pada ponselnya begitu banyak panggilan tak terjawab dari Audrey, tidak hanya itu, pesan bertubi-tubi juga masuk begitu banyak.


Namun, ponsel Byakta ternyata lagi mode silent, sehingga laki-laki itu tidak mengetahui hal itu.


Sedangkan di tempat lain, telah terjadi keributan antara nenek dan Audrey, keduanya bersikeras dengan pendapat masing-masing.


Tidak ada satupun yang hendak mengalah, baik nenek yang bersikeras tidak mengizinkan Audrey untuk pergi.

__ADS_1


Begitu juga Audrey yang tidak mau kalah, ia memaksa akan tetap pergi untuk menemui suaminya, dua orang pegawai wedding organizer ikut memegangi Audrey yang tetap memaksa akan pergi.


"Nenek yang tidak boleh melakukan ini padaku, dia suamiku Nek, bagaimana bisa nenek akan menikahkan aku dengan yang lain, sedangkan aku masih sah istri orang,"


"Aku tidak peduli, pernikahan kalian tidak sah! Hari ini juga pernikahan akan berlangsung, bawa dia untuk dirias sekarang juga," tegas nenek kepada semua panitia WO yang sudah ia bayar mahal.


Tiba-tiba tubuh Audrey melemah, ternyata seseorang memberinya obat bius untuk memudahkan pekerjaan mereka, semua adalah atas perintah nenek.


Nenek benar-benar tidak akan membuat Audrey kembali kepada Byakta, bagi nenek, cukup sudah orang asing itu melukai cucunya, menelantarkan cucunya.


"Cepatlah datang, pernikahan ini waktunya saya majukan dua jam dari kesepakatan, karena dia terus memberontak," kata nenek di sambungan teleponnya.


Entah pada siapa nenek berbicara, tapi yang jelas dia sudah yakin bahwa laki-laki ini adalah pasangan yang tepat untuk cucunya.


Setelah menelpon laki-laki yang akan dinikahkan oleh Audrey, nenek kembali memerintahkan anggota WO untuk segera merampungkan pekerjaannya.


Nenek juga memeriksa hidangan yang dia pesan dari restoran yang cukup terkenal di kotanya.

__ADS_1


Meskipun tidak mengundang banyak orang, nenek tetap harus menyediakan sesuatu yang baik, agar pernikahan ini memberikan kesan baik untuknya.


Ya, untuknya, bukan untuk cucunya. Menurutnya apa yang menurutnya baik, itu adalah yang terbaik juga untuk Audrey.


Entah dari mana datangnya keegoisan nenek, padahal sebelumnya nenek tidak seperti ini, entah hal apa yang membuat nenek berubah drastis seperti ini.


Di dalam kamar tampak beberapa anggota WO bagian makeover sedang mendandani Audrey yang masih dalam kondisi pingsan.


Sementara Wina tantenya sibuk memeriksa ponselnya, sibuk menghubungi Byakta yang sejak tadi tidak mengangkat panggilan.


Hingga akhirnya dia menekan satu kontak yang menurutnya bisa membantunya membatalkan semua rencana nenek untuk menikahkan Audrey dengan laki-laki lain.


Lima kali panggilan yang di lakukan Tante Wina tidak mendapat jawaban. Hingga panggilan ke enam barulah pemilik nomor itu menjawab.


Keduanya membuat janji bertemu hari ini juga, sebab Tante Wina mengatakan ini sangat penting dan mendesak.


Setelah itu tanpa menunggu lagi Tante Wina langsung pergi diam-diam dari tanpa sepengetahuan nenek, syukurnya dia berhasil lolos.

__ADS_1


__ADS_2