Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 93


__ADS_3

Saat keduanya tengah asyik mengharu biru, tiba-tiba pintu ruangan tempat Byakta di rawat terbuka, memperlihatkan sosok Bastian yang sudah rapi seperti biasanya.


Byakta berdecak saat melihat Bastian datang dengan wajah santai, meskipun Byakta tahu apa yang dilakukan Bastian ketika kembali ke Bali, tetap saja ia tidak bisa menoleransi Bastian karena terlalu lama.


Padahal Bastian hanya pergi kurang dari dua hari.


"Bagaimana keadaan anda Tuan?" tanya Bastian basa basi sebab ada Audrey di sana.


"Cih! Simpan saja pertanyaanmu itu." Umpat Byakta kesal "Kau tahu, Sayang. Sepertinya setelah kita bersatu, dia juga akan menikahi seorang gadis," alihkan Byakta wajahnya pada Audrey yang sejak tadi diam.


Bastian mendengar itu langsung melengos tidak suka "Omong kosong, cepat sembuh dan pulang ke apartemen, menyusahkan!"


Setelah mengatakan itu Bastian lantas menghampiri Bibi Lauren dan juga Raihan yang sudah terjaga dari tidurnya.


Balita itu seperti bingung, matanya berkaca-kaca tapi tidak berani untuk menangis, Bastian menghampirinya lalu tersenyum sambil mengusap kepalanya.


"Kau sudah bangun, Boy? Sini uncle gendong." Bastian langsung mengangkat Raihan.


Namun, hal tak terduga terjadi, Raihan yang biasanya dekat dengan Bastian, tiba-tiba tidak mau dengannya. Balita itu menangis hingga Bibi Lauren pun ikut terbangun.


"Ada apa? Kenapa dia menangis, Bas? Kemana ibunya?" Bibi Lauren langsung bangun dan mengambil Raihan dari gendongan Bastian.


"Sudah … sudah …. Sini sama Oma, sudah jangan menangis lagi, kau lihat ini Oma yang menggendongmu, sudah diam, ya!"


Bukanya diam, balita itu menangis lebih kencang lagi, membuat Bastian dan Bibi Lauren kewalahan dibuatnya.


Bibi Lauren terus membujuk Raihan, menggendongnya serta berkata dan menunjukkan sesuatu agar Raihan berhenti menangis.

__ADS_1


Gerakan Bibi Lauren berhenti saat Audrey mendekat, ia tersenyum pada bibi Lauren "Berikan padaku, Bi. Siapa tahu bersamaku dia mau diam."


Sebelum memberikan Raihan pada Audrey, wanita paruh baya itu melihat ke arah Bastian dan Byakta secara bergantian, seperti ingin mengatakan 'apakah tidak apa-apa?'


Satu anggukan dari Byakta dan juga Bastian, membuat Bibi Lauren langsung memberikan Raihan pada Audrey.


Benar saja, ketika tangan lembut Audrey memegang Raihan, balita itu langsung diam dan memperhatika wajah Audrey beberapa detik, lalu balita itu tersenyum girang, lalu tangannya mengusap pipi Audrey.


Rasa haru tiba-tiba menyelimuti hati Audrey, ia teringat akan janin yang bahkan belum berbentuk itu harus meregang nyawa.


"Kau tampan sekali jika tersenyum seperti itu, mirip sekali dengan ibumu. Baiklah, karena kau menggemaskan, aku akan mengajak mu bermain."


Audrey membawa Raihan menuju pintu keluar tanpa mempedulikan tiga orang yang terharu melihat interaksi Audrey dan juga Raihan.


Begitu juga Melisa yang langsung pergi dari pintu saat melihat Audrey berjalan menuju pintu akan keluar.


Rasa bersalah kembali menyelimutinya, akan tetapi ia tidak sanggup untuk meminta maaf secara langsung. Lebih tepatnya ia belum mempunyai keberanian untuk itu.


Saat Melisa masih melihat Audrey membawa anaknya dengan tatapan bersalah, tiba-tiba ada sebuah tangan menyodorkan sapu tangan padanya.


"Tidak perlu merasa bersalah, semua sudah berlalu lama. Sekarang tinggal kau memperbaiki semuanya, aku yakin dia akan memaafkanmu," ujar Bastian sambil tersenyum.


Melisa langsung menurunkan tangan Bastian yang memegang sapu tangan, lalu ia mengusap air matanya dengan tangannya sendiri.


"Semua tidak semudah ucapanmu, Bas. Aku wanita sama seperti dia, tidak mudah menyembuhkan luka dan trauma," tukas Melisa lalu meninggalkan Bastian sendirian.


Entah rasa apa yang Melisa rasakan Bastian, tapi kerja otaknya menyuruh ia untuk menjauhi laki-laki itu.

__ADS_1


Bastian yang ditinggalkan begitu saja hanya bersikap acuh, sebab sebenarnya itu tidak terlalu penting baginya, ia hanya memberi nasehat kepada seorang sahabat, jika di terima dia bersyukur, jika tidak juga bukan suatu masalah besar.


Namun, tiba-tiba ponsel Bastian berdering, ia langsung melihat siapa yang menghubunginya. Setelah dilihat ternyata anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga Rania.


Belum sempat Bastian mengucapkan 'hallo' anak buahnya sudah berbicara menggebu dengan nafas yang sangat mengkhawatirkan.


Pengawal itu seperti orang yang sedang kehabisan oksigen di dalam suatu ruangan, membuat Bastian langsung panik.


"T-tuan, seseorang membawa Nona Rania, mereka menyemprotkan gas beracun, cepat kembali tuan, mereka membawa Nona —,"


Tiba-tiba pengawal itu tak sadarkan diri, karena panggilan masih tersambung. Namun, dia sudah tidak berbicara lagi dan ketika Bastian memanggilnya sudah tidak ada jawaban lagi.


Tanpa menunggu lama Bastian langsung pergi begitu saja meninggalkan rumah sakit, ia juga tidak sempat lagi untuk berpamitan kepada Byakta dan juga yang lainnya.


________________________________


Hai guys apa kabar semua ☺️ maaf sekali lagi maafkan aku yang suka menghilang.


Aku cuma mau ngasih tau kalian semua, kalau pemenang GA kemarin udah aku umumin dia iG aku @Rifah_Biey93. Tapi, sampai saat ini, pemenang belum ada yang DM aku. 😁


Dan aku juga mau kasih tau, kalau BASTIAN & RANIA enggak aku lanjutkan di judul ini, tapi di judul baru sebagai Sequel dari novel ini.


sekarang aku mau tamatin BIYAKTA & AUDREY dulu, biar otakku nggak ngebul 😂😂😂


Udah cuma mau kasih tau itu aja geessss.


Di segerakan DM ya untuk 3 orang pemenang GA.

__ADS_1


__ADS_2