Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 79


__ADS_3

Malam semakin larut, hawa dingin dari angin malam semakin terasa menusuk hingga ke tulang persendian.


Byakta memeluk dirinya sendiri, untuk mengurangi rasa dingin di tubuhnya. Semua ini ia lakukan demi seseorang yang sangat ia cintai.


Bahkan, ia sama sekali tidak memanfaatkan mobilnya untuk menghindar dari dinginnya angin malam.


Sesekali ia mengusap-usap bahu hingga lengannya, berharap usapan itu sedikit memberi rasa hangat di tubuhnya.


Terlintas dalam benaknya, andai ia tahu akan sesulit ini. Ia tidak akan menyia-nyiakan Audrey dulu, ingin sekali ia memutar waktu kembali, namun apalah daya ia tak kuasa akan hal itu.


Hanyalah satu kata yang cocok untuknya saat ini yaitu pasrah, pasrah jika harus kesulitan seperti ini untuk mendapatkan cintanya kembali.


Di tengah pergeluran hatinya dan juga hawa dingin yang terus menerpa, ada sepasang mata yang mengamatinya dari jauh.

__ADS_1


Memandang masih dengan tatapan sinis menghujam, "dasar bodoh, lakukan saja sesuka hatimu. Sampai kau mati pun aku tak akan peduli." Gumam nenek Rose yang melihat Byakta dari kaca jendela kamarnya.


Sedangkan Audrey masih sesenggukan di dalam kamar Tante Wina, keduanya sama-sama tidak tahu harus melakukan apa. Melihat Byakta yang kedinginan di luar sana membuat hati Audrey sakit sekali.


Sebab laki-laki itu sampai harus mengalami itu semua, sementara dirinya tidak bisa berbuat apa pun hingga saat ini.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Dia laki-laki hebat dan kuat, biarkan dia seperti itu, aku yakin nenek akan luluh nanti," tenangkan Tante Wina keponakannya itu.


Berada di posisi Wina juga sama tidak enaknya dengan Audrey dan Byakta, sebab rasa ingin membantu ada, akan tetapi melihat nenek yang berubah seratus delapan puluh derajat, membuatnya ciut sebelum melakukan apa pun.


Wina semakin tak mengerti harus melakukan apa, hingga keduanya tertidur di dalam kamar Tante Wina, Audrey yang lelah menangis pun tak kuasa untuk tidak memejamkan mata.


Sementara di apartemen, Bibi Lauren tak henti menghubungi Byakta, untuk menanyakan keberadaannya. Namun, meski sudah berulanga kali tetap Byakta tak menjawab satu pun panggilannya.

__ADS_1


Membuatnya di dera rasa khawatir, bahkan Bastian pun sama, nomor Bastian bahkan tidak aktif.


"Mel, mereka tidak pernah seperti ini, ada apa sebenarnya?" tanya Bibi Lauren penuh kekhawatiran.


Mendengar itu, Melisa ragu untuk memberi tahu bahwa Bastian tidak pulang ke Milan, laki-laki itu malah kembali ke Bali, entah melakukan apa.


Ia belum dapat kabar terkini lagi dari orang suruhannya, sementara Byakta yang sempat ia hubungi tadi setelah keluar dari unit apartemennya, mengatakan kalau ia akan mencari hunian baru untuknya dan Bastian selama di Jakarta.


"Mungkin, By sedang istirahat, bibi. Jangan khawatir," sahut Melisa berusaha memberi pemikiran positif pada orang tua di hadapannya ini.


"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Bibi Lauren lagi sambil berkutat pada ponselnya.


"Tadi, Byakta mengatakan, akan mencari hunian baru untuknya dan juga Bastian, barang kali dia sudah menemukannya dan lanjut istirahat. Bibi jangan khawatir, lebih baik bibi istirahat saja bersama Raihan. Aku akan memasak makanan untuk kita." Melisa beranjak dari duduknya menuju dapur minimalis di apartemen tersebut, bukan hanya lapar, akan tetapi ia juga ingin menghindari pertanyaan lain dari bibi Lauren.

__ADS_1


"Hmm, aku akan istirahat bersama cucuku. Kau, masaklah yang enak, aku akan makan nanti," ujar Bibi Lauren sambil beranjak juga pergi ke kamar di mana Raihan juga tertidur pulas.


__ADS_2