
Bastian dan Rania sampai di bandara Ngurah Rai Bali, mereka akan terbang ke Jakarta, setelah di sana baru Bastian akan membelikan tiket lain untuk Rania pergi.
Awalnya ia berniat akan berbeda penerbangan di bandara Ngurah Rai, akan tetapi Bastian berpikir Rania belum aman jika pergi dari kota ini sendirian, bisa jadi orang yang mencarinya akan mengikutinya.
Bastian juga belum menanyakan akan kemana gadis itu pergi untuk memulai hidup baru, bahkan ia sangat malas untuk bertanya, karena sesungguhnya ia tidak tega membiarkan Rania pergi.
Ia tidak tahu perasaan apa yang sedang membuatnya gunda, semakin ia tidak ingin peduli dengan perasaan itu, justru ia semakin membuat hati Bastian berkecamuk.
Pesawat akan berangkat satu jam lagi, saat ini keduanya sedang duduk di lounge karena Bastian ingin meminum kopi, cairan kafein yang sangat ia butuhkan saat ini.
Biasanya jika sedang menghadapi masalah atau pekerjaan yang berat, Bastian selalu membutuhkan kopi sebagai penenang agar bisa bekerja lebih baik lagi.
Namun, kali ini cairan kafein itu sama sekali tidak berfungsi saat ia mulai merasakan gundah karena tidak rela jika Rania pergi.
__ADS_1
"Pesanlah sesuatu untuk mengisi perutmu, pesawat akan terbang satu jam lagi, kita punya setengah jam untuk mengisi perut, setelah itu kita ke boarding area," ucap Bastian pada Rania yang sejak tadi diam saja.
Gadis yang biasanya ceria dan pemberani kini berubah diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat, apa kau sakit ?" tanya Bastian heran, sebab saat di situasi menegangkan beberapa jam yang lalu Rania justru sangat antusias.
Lalu kenapa sekarang dalam situasi aman ia malah terlihat takut dan pucat sekali? Bastian sampai heran melihat gadis kecil di hadapannya. Sungguh tidak bisa ditebak, sebentar ketakutan, sebentar terlalu berani dan antusias.
"Hmmm, aku tidak pernah naik pesawat sebelumnya," Rania menjedah kalimatnya sambil menunduk "Apa akan aman jika kita naik pesawat? Bagaimana jika nanti jatuh atau hal mengerikan lainnya terjadi? Seperti di film-film yang sering aku tonton."
Hal itu membuat Bastian tersenyum samar, apa-apaan pikirnya gadis ini? Menghadapi mafia justru berani, layaknya dia sebagai salah satu pemeran di film action.
Sekarang ia takut karena berpikir pesawat itu akan jatuh? Sungguh ini tidak masuk akal, selain aneh, Rania adalah gadis paling unik yang baru ia temui.
__ADS_1
"Kalau begitu jangan naik pesawat," ujar Bastian enteng sambil menyeruput kopinya.
"Apa kita akan naik angkutan darat, Om?" tanya Rania penuh harap.
"Kita? Naik angkutan umum? Apa kau waras?"
Rania berdecak melihat ekspresi Bastian saat ia mengatakan angkutan umum "Orang kaya di dunia ini memang sama saja! Sombong dan angkuh," cibir Rania.
Mendengar ocehan kesal Rania, Bastian menyeringai. "Aku bukan tidak ingin melalui jalur darat, hanya saja banyak urusan yang menungguku untuk cepat sampai,"
Rania hanya mengedikkan bahunya tidak bisa lagi menjawab ucapan Bastian, Rania menyadari orang-orang seperti Bastian pasti tidak seperti dirinya, yang mencari pekerjaan saja susah, boro-boro menjadi orang sibuk seperti Bastian.
"Kau tidak perlu takut, ada aku bersamamu," tanpa sadar ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Bastian.
__ADS_1
Rania yang mendengar samar namun jelas refleks melihat pada wajah Bastian yang tiba-tiba terdiam mencarna sendiri ucapannya barusan.
"M-maksudku, nanti disana ada pramugari yang akan membantu kita, mereka tau apa yang harus dilakukan ketika pesawat bermasalah, kau tidak perlu khawatir apalagi takut." Bastian bangkit dari duduknya untuk menutupi rasa gugupnya yang tiba-tiba muncul ketika Rania menatapnya penuh arti.