
Melihat Bastian bangkit dari duduknya, Rania refleks juga bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Bastian. Karena rasa takut akan bayang-bayang pesawat jatuh, Rania tidak begitu peduli dengan Bastian. Bahkan ia tidak tahu kalau laki-laki itu sedang merasa canggung saat ini.
Waktu yang dinanti Bastian pun tiba, kini keduanya sudah berada di dalam pesawat, keduanya duduk berdampingan karena memang Bastian memesan dua kursi yang berdampingan.
Tidak ada lain karena ia khawatir pada Rania yang mengaku sangat takut, benar saja saat ini gadis itu bahkan diam dengan keringat dingin yang terus mengucur.
Rania terus memainkan jari yang satu dengan yang lainnya, mungkin itu ia lakukan untuk mengurangi rasa takutnya.
Kini sudah terdengar suara seorang pramugari yang memberi tahu bahwa pesawat sebentar lagi akan
Jantung Rania berdebar kencang sekali, berkali-kali ia menarik nafas untuk mengurangi rasa gelisah di dalam dirinya.
Bastian yang melihat Rania gelisah yang cukup parah, mengambil tangan gadis itu lalu ia genggam. Sontak Rania langsung menoleh pada Bastian yang selalu memasang wajah datar.
__ADS_1
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja, tidak perlu takut, aku pastikan kau akan aman dan sampai dengan selamat," tutur Bastian tanpa melihat Rania yang masih melihat ke arahnya.
Hati gadis kecil itu kembali menghangat, laki-laki ini memang terlihat datar dingin dan angkuh, akan tetapi di dalam hatinya ada jiwa yang hangat penuh perhatian dan kasih sayang.
Rania tersenyum tanpa melepas pandangannya pada wajah Bastian yang sama sekali tidak menoleh, tanpa ia sadari ketakutan itu tidak ada lagi dalam hatinya.
Kecemasan dan keringat yang tadi mengucur hilang begitu saja.
Rania langsung gugup dan menarik tangannya yang tadi di genggam Bastian, gadis itu membenahi duduknya dan langsung memejamkan matanya.
Bastian merasa lucu melihat tingkah Rania yang menurutnya menggemaskan itu. Bastian melihat pada wajah cantik itu yang kini pura-pura terpejam, hidung mancung, pipi yang sedikit cabi, bibir tipis nan mungil.
Ketika melihat bibir mungil itu, jiwa lelakinya tiba-tiba muncul kembali, semua datang campur aduk di dalam hatinya. Rasa iba, rasa kagum, rasa tidak ingin jauh dan rasa lain yang Bastian sendiri tidak bisa mengatakan itu rasa apa, yang jelas saat ini mendominasi di hatinya adalah rasa tidak rela jika harus berpisah dengan gadis itu nanti.
__ADS_1
Namun ia tidak punya alasan apa pun untuk menahan gadis itu, walau Rania sempat menawarkan balas budi atas semua yang sudah ia lakukan untuk gadis itu, tetap saja ia tidak ingin egois menahan seseorang di sampingnya untuk hidup bersamanya hanya dengan sebuah alasan balas budi.
Bastian menghela nafas pelan, ia berharap setelah ini, Rania bisa hidup lebih baik, bisa bekerja dan menata hidupnya kembali.
Entah keingin dari mana, tiba-tiba tangannya terangkat untuk lalu memegang pucuk kepala gadis itu sambil tersenyum.
"Hiduplah dengan baik setelah ini, that poor little girl." Bastian terus mengusap pada pucuk kepala Rania.
Sedangkan Rania yang tadi hanya ingin pura-pura tidur untuk menghindari kecanggungan, gadis itu malah benar-benar jatuh pada alam mimpi.
Rania menggerakkan kepalanya saat merasakan usapan pada pucuk kepalanya, bukannya bangun Rania malah semakin nyenyak.
"Tidurlah, kau sudah bekerja keras hari ini, kau pantas mendapatkan kehidupan lebih baik setelah ini." Usap Bastian sekali lagi pucuk kepala Rania penuh perasaan.
__ADS_1