
Di dalam sebuah villa, tampak seorang gadis sedang sibuk berusaha ingin berteriak meminta bantuan siapa saja yang bisa membantunya lepas dari tempat ini.
Ia terus bergerak, berharap tali yang mengikatnya bisa memberinya celah untuk melepaskan diri.
Namun sayang sekali, benda yang mengikatnya itu tak kunjung lepas mengendur juga.
Meski begitu ia tak kehabisan akal, tatapannya mengedar ke seluruh ruangan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membebaskan diri.
Nihil, tidak ada satupun benda yang bisa digunakan untuk memotong tali sialan itu. Tapi setelah mengamati kembali, ia melihat ada sebuah pecahan kaca tepat di sudut lemari, kalau dilihat sekilas memang tidak akan terlihat, karena kaca itu bening.
Namun benda itu sangat jauh dari tempatnya duduk, Rania tidak tahu bagaimana mencapainya sedangkan dia terikat kuat.
Tidak kehabisan akal, Rania pun mulai menggeser kursinya perlahan, bergerak pelan tapi pasti.
Di tengah kegiatannya yang ingin melepaskan diri, Rania mendengar seseorang datang, suaranya sangat familiar di telinganya.
"Om Bas?"
Matanya terbelalak, dia tidak salah dengar. Memang itu suara laki-laki yang kemarin menolongnya, Rania pun semakin yakin saat satu kalimat ia dengar dengan jelas.
"Gadis? Ah! Apakah anda sudah menemukan gadis yang anda cari kemarin? Syukurlah, setidaknya dia belum kabur kemana pun, gadis yang menyusahkan"
__ADS_1
Tidak salah lagi, itu benar-benar Om Bas, pikirnya. Hal tersebut membuatnya lebih bersemangat untuk lepas, jantungnya juga tak kalah bersemangat mengetahui laki-laki itu berada disini juga.
Tidak tahu apakah sebuah kebetulan, atau laki-laki itu sengaja mengikutinya kesini untuk menyelamatkannya seperti kemarin.
Entahlah, dia tidak mau menduga untuk saat ini. Rania hanya ingin cepat mendapatkan kaca tersebut.
****
Di villa lain, Bastian terus mondar-mandir memikirkan cara, bagaimana bisa masuk ke dalam sana tanpa harus adu jotos dengan mereka.
Hal tersebut membuat semua anak buahnya bingung sendiri, apalagi Joe yang ikut bingung harus bagaimana, padahal sebagai seorang mafia, seharusnya dia tahu apa yang akan mereka lakukan kalau hanya menyelamatkan seorang gadis.
Namun, saat mendengar alasan Bastian yang tidak ingin gegabah mengambil tindakan, membuatnya ikut buntu.
"Kita tidak tahu siapa orang yang akan membelinya, menurut keterangan gadis itu dia seorang turis juga. Kita tidak bisa mengambil resiko untuk terlibat masalah dengan orang itu, karena feeling ku mengatakan dia bukan orang sembarangan," tutur Bastian tegas.
Bastian melihat suasana luar melalui jendela, tampak dari jauh di halaman villa itu, penjagaan semakin ramai, sepertinya mereka menambahnya.
Hatinya semakin gusar membayangkan bagaimana ketakutannya gadis kecil itu di sana, ia ingin nekat namun kewarasan masih menyadarkannya.
"Kelihatannya mereka menambah personil untuk berjaga," ucap Joe yang ikut mengintip di jendela bersama Bastian.
__ADS_1
Bastian mengangguk lalu berdehem "Satu dari penjaga itu mengenalku dan mencurigaiku," sahut Bastian santai, namun membuat Joe mengerutkan kening.
"Bagaimana bisa?" tanya Joe penasaran dengan yang terjadi sebenarnya.
Lalu Bastian pun menceritakan awal pertemuannya dengan gadis bernama Rania itu, hingga membuatnya harus sampai di villa ini.
"Jangan bilang anda menyukainya, makanya anda melakukan ini semua," tebak Joe sambil menyeringai.
Bastian mendengus mendengar bualan Joe yang menurutnya bodoh itu. "Apa aku harus menyelamatkan orang-orang yang aku suka saja? Hentikan bicara omong kosongmu."
Alih-alih berhenti, Joe malah tertawa mendengar ucapan Bastian barusan. "Itulah yang membuat saya bingung, selama ini tuan tidak pernah peduli dengan siapa pun, kecuali keluarga nyonya Lauren. Tapi, sepertinya gadis itu membuat anda berpaling, sehingga anda kembali kesini dan meninggalkan urusan tuan Byakta hanya demi menyelamatkan gadis yang tidak anda kenal itu,"
"Hentikan, atau aku akan menembak kepalamu, Joe!" Ancam Bastian dengan tatapan tajam.
_______________________________
Lagi??
Babnya Bas atau By? 🤭
yang bersedia ngelike, mana suaranya???
__ADS_1