Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 14


__ADS_3

Audrey pulang dengan beberapa barang miliknya, setelah pulang dari makam sang ayah, Audrey singgah sebentar ke rumahnya lalu ia pun pulang setelahnya.


Ia bersyukur karena tidak bertemu dengan ibu tirinya saat pulang ke rumah, kalau bisa ia tidak ingin bertemu lagi dengan wanita jahat itu.


Saat pulang ia sempat bertemu dengan Bibi Lauren, wanita paruh baya itu hanya melemparkan senyum saja. Sekali lagi Audrey bernapas lega, karena tidak harus berbohong lagi dari mana saja dia seharian ini.


Gadis itu pun segera naik ke lantai atas menuju kamarnya bersama Byakta. Kamar yang sebenarnya kurang nyaman, karena pemiliknya yang dingin dan arogan tidak mau berbagi tempat tidur, jadilah dia tidur di lantai beralaskan kasur tipis, kalau bukan karena Bibi Lauren yang mengatur semuanya, ingin saja dia meminta kamar sendiri daripada harus berdua bersama laki-laki dingin itu.


Setelah meletakkan benda yang ia bawa dari rumahnya tadi, Audrey bergegas untuk membersihkan diri.


Seperti biasa, Audrey yang suka lupa membawa baju ganti ke kamar mandi kini harus mengalami peristiwa menegangkan.


Dengan menggunakan handuk, Audrey menutup tubuhnya, gadis itu berpikir tidak akan masalah, toh pemilik kamar belum menampakkan batang hidungnya sejak tadi, Ia berjalan santai keluar dari kamar mandi menuju lemari bajunya.


Saat sedang memilih baju terdengar suara derap langkah mendekati pintu kamarnya, Audrey membelalakkan matanya.

__ADS_1


'itu pasti manusia es batu plus arogan itu' Gumamnya dalam hati.


Buru-buru ia menyambar bajunya asal dan ingin cepat kembali ke kamar mandi, namun terlambat, pintu sudah terbuka dan Byakta pun masuk.


Audrey mematung di tempatnya dengan baju ganti di tangannya untuk menutupi bagian dadanya yang setengah menyembul.


Tidak berbeda dengan Audrey, Byakta yang baru masuk ke kamar sudah disuguhi pemandangan yang mendebarkan dada pun ikut diam mematung beberapa saat.


Awalnya ia terkejut, tapi setelah sadar dengan penampilan Audrey, laki-laki itu menyeringai, otaknya pun bekerja langsung untuk menjahili gadis di depannya.


Byakta yang iseng ingin menjahili gadis di hadapannya ini tidak menyurutkan langkahnya sama sekali, ia terus melangkah hingga Audrey terpojok di dinding.


Ada rasa senang menghampiri hatinya saat melihat wajah Audrey yang memerah karena ketakutan, ia berniat balas dendam karena tidak bisa tidur tadi malam.


'kau membuatku tidak tidur satu malaman, jadi rasakan pembalasan ku' kata Byakta dalam hati.

__ADS_1


Audrey membuang muka ke samping saat satu tangan Byakta bertumpu pada dinding dan satu tangannya lagi mencoba menyusuri pipi hingga leher mulusnya.


Jantungnya yang sudah tidak bisa berdetak normal membuat kaki Audrey seperti tidak bertulang, kalau bukan karena tubuhnya yang bersandar di dinding, mungkin dia sudah merosot terduduk di lantai.


Byakta yang awalnya hanya ingin mempermainkan Audrey, kini terjebak dengan permainannya sendiri, rasa ingin lebih itu tiba-tiba menjalari hatinya.


'sial! Kenapa dia jadi manis begini kalau ketakutan! Tubuhnya harum sekali, aku benar-benar menginginkannya'


Byakta terus menyusuri leher jenjang Audrey yang tersuguh akibat gadis itu membuang muka ke samping.


Wangi sabun dan shampo menyeruak indra penciumnya, membuat jantungnya berdegup kencang, kini ia menyusuri dengan menggunakan bibirnya, tanpa sadar ia memberikan kecupan demi kecupan di leher Audrey.


Namun semua terhenti saat Audrey mendorong sekuat tenaga tubuh besar Byakta lalu ia berlari kembali ke kamar mandi.


Sedangkan Byakta yang baru sadar mengumpat kebodohannya yang sudah lepas kontrol di hadapan gadis itu, dan itu melukai harga dirinya yang membuat segala peraturan di dalam ketar perjanjian itu.

__ADS_1


__ADS_2