Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 85


__ADS_3

Melisa menggelengkan kepalanya, tidak mungkin rasa itu seperti yang dia pikirkan saat ini, ia selalu mengingat bahwa Bastian melakukannya hanya karena Raihan adalah anak biologis Byakta. Laki-laki itu sudah berulang kali mengatakan bahkan menegaskan kalau mereka sekarang bersaudara dan bersahabat.


Anggukannya saat Bibi Lauren mengatakan untuk membuka hatinya pada Melisa, hanya untuk menyenangkan wanita tua itu, tidak lebih dari apa pun, jika Byakta mulai menggodanya. Ya, Melisa tahu itu dan perasaan ini tidaklah benar.


Bastian berhak memilih dan menentukan kebahagiaannya sendiri, ia tidak perlu mendengarkan ucapan Bibi Lauren, karena itu hanya akan membuatnya terjebak dengan seorang janda dari sahabatnya yang melahirkan anak biologis sahabatnya, itu sungguh ironi.


Melisa menarik nafas dalam-dalam, untuk menetralkan perasaan sialan yang tiba-tiba muncul di hatinya.


Ia kembali membaca laporan yang dikirimkan oleh orang suruhannya, di sana di jelaskan bahwa Bastian sedang dalam misi menyelamatkan seorang gadis yang akan dijual oleh ayah tirinya.


Tidak pasti dituliskan disana kapan Bastian bertemu dan bisa terlibat dengan gadis itu, tapi Melisa mengingat bahwa sebelum ke Jakarta Bastian sudah mengenal gadis itu.


Melisa juga mengingat saat terakhir kali mereka pergi jalan, Bastian terburu-buru saat akan kembali ke hotelnya. Saat masih berpikir keras, Bibi Lauren datang mengagetkannya.


"Astaga, Bibi! Kau membuat jantungku hampir tidak berdetak lagi." Melisa mengelus dadanya dan menggenggam erat ponselnya.

__ADS_1


"Kau sedang apa? Serius sekali, apa kita tidak jadi berangkat ke rumah sakit?" tanya Bibi Lauren sambil mengambil baju gantinya dan berlalu ke kamar mandi.


Wanita tua itu tidak curiga sedikitpun pada Melisa, wanita itu mengelus dadanya, "untung saja." Lalu ia segera mengetik beberapa pesan kenapa orang suruhannya untuk memberi bantuan kepada Bastian, tidak lupa juga Melisa mentransfer uang bayaran untuk mereka.


Setelah itu Melisa memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dan ia mulai mengganti baju Raihan, balita itu sudah mandi tadi, jadi Melisa tidak perlu memandikannya lagi, hanya mengganti bajunya saja.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya bibi Lauren dan Melisa sampai di parkiran rumah sakit.


Mereka segera masuk dan bertanya kepada resepsionis menanyakan dimana ruangan yang Audrey tuliskan di pesan singkat tadi.


Akhirnya Melisa dan bibi Lauren sampai di lantai lima, disana mereka kembali bertanya kepada beberapa orang suster yang lewat. Lalu suster tersebut memberitahu letak ruangan yang dimaksud dengan jelas.


Bibi Lauren menghentikan langkahnya saat melihat Audrey yang mondar-mandir di depan ruangan seperti orang cemas.


"Mel, aku tidak salah lihatkan?" tanya Bibi Lauren cemas.

__ADS_1


"Ya, Bibi tidak salah lihat, itu Audrey istri Byakta," jawab Melisa tenang.


"Aku takut dia masih marah dan menghardikku lagi, kite pergi saja, Mel." Tarik Bibi Lauren tangan Melisa.


Namun, Melisa tidak membiarkan itu terjadi, "tidak, Bi. Semua sudah berlalu, aku yakin Audrey sudah memaafkan kita semua," kata Melisa tak yakin.


Sebab, dia sendiri saja tidak tahu akan bersikap seperti apa pada gadis itu. Ia juga tidak tahu Audrey sudah memaafkannya atau belum, mengingat hubungan mereka memang tidak baik dari pertama bertemu, ditambah dengan insiden yang disebabkan oleh Melisa sendiri.


Saat keduanya masih sibuk memutuskan untuk pergi atau menghampiri, suara Audrey menginterupsi di pendengaran keduanya.


"Bibi Lauren!" Panggil Audrey antusias.


Tidak hanya memanggil, Audrey bahkan kini sedang berjalan sedikit berlari menghampiri mereka.


"Bibi, kenapa tidak kesana. Byakta sedang istirahat disana, aku dari tadi menunggu kedatangan kalian," ucap Audrey sambil mengambil tangan Bibi Lauren lalu ditarik menuju ruangan dimana Byakta di rawat.

__ADS_1


__ADS_2