
"Om, kau tau? Tadi adalah penerbanganku yang pertama, itu sungguh luar biasa," ucap Rania sudah yang kesekian kalinya.
Gadis itu terus mengoceh dengan ekspresi yang begitu antusias, kini wajahnya cerita kembali, berbanding terbalik saat akan berangkat tadi.
Sedangkan Bastian hanya diam tidak menanggapi, bukan tidak peduli pada Rania, hanya saja Bastian mulai bosan dengan ocehan Rania yang itu-itu saja sejak keluar dari pesawat tadi.
Padahal sepanjang perjalanan ia hanya tidur dan lebih parahnya lagi gadis itu mendengkur, sampai penumpang lain menegur Bastian agar membangunkan Rania, karena merasa terganggu dengan dengkuran gadis itu.
"Om, bukankah aku sangat keren?" tanya Rania dengan wajah semringah.
"Diamlah Little, kau sangat berisik. Ingat, kau tidur dan terbangun saat pesawat sudah mendarat tadi," ingatkan Bastian, sementara Rania cemberut mendengar ucapan Bastian yang benar adanya.
"Kau tidak asik, Om. Kau terlalu kaku dan pendiam," ucap Rania kesal.
Bastian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rania yang aneh menurutnya, tapi sedikit menggemaskan juga.
"Kau lapar tidak, little? Kau tidak makan apa pun tadi," tanya Bastian menatap Rania yang masih kesal.
__ADS_1
Rania yang tadi kesal kembali sumringah saat Bastian menawarkannya makan, tadinya ia ingin mengatakan kalau dia lapar, akan tetapi ia malu dan tidak ingin merepotkan Bastian.
"Iya, aku lapar Om," jawab Rania antusias.
"Kau ingin malam apa? Kita bisa singgah sebentar untuk membelinya,"
"Apa saja, Om, yang penting makanan dan halal," sahut Rania tersenyum manis.
Senyuman yang mampu mengguncang jiwa dingin Bastian, senyuman yang memporak-porandakan hati Bastian, entah sejak kapan senyuman itu selalu membuat Bastian berdebar.
Laki-laki itu bukan hanya ingin menghindari senyuman Rania yang membuat jantung berdebar, tapi ia juga ingin menghubungi Melisa untuk menanyakan keadaan Byakta.
Rania menurut saja apa yang diperintahkan Bastian, ia masuk ke dalam mobil setelah seorang yang tampak seperti bodyguard membukakan pintu mobil yang sangat mewah itu.
Gadis itu terkagum-kagum dengan hal-hal yang baru dalam hidupnya, bersama Bastian dia bisa merasakan hal baru.
Berhadapan dengan mafia sungguhan, naik pesawat dan sekarang ia sedang duduk di dalam mobil mewah yang selama ini hanya ia lihat di televisi dan juga di jalanan kota tempat ia tinggal.
__ADS_1
Hidupnya yang susah tidak pernah ia membayangkan kehidupan yang mewah, meski hanya makan makanan lezat di warung masakan Padang sekalipun.
Sebab ia memang seorang gadis yang terlahir miskin, ketika ayahnya meninggal, lalu ibunya menikah lagi, mereka berpikir akan memiliki kehidupan yang lebih baik.
Namun, malang tidak dapat di talang. Bukanya hidup bahagia, tapi justru keduanya menderita, karena ibunya menikahi laki-laki jahat yang bekerja bersama para mafia-mafia jahat.
"Apa yang sedang kau pikirkan, little? Sampai kau melamun seperti orang bodoh," ujar Bastian datar.
Rania langsung mengusap bulir yang hampir jatuh dari pelupuk matanya, gadis itu tidak membayangkan akan hidup terlunta-lunta seperti ini, ia bersyukur Bastian mau menolongnya. Namun, setelah kasus ibunya selesai di ungkap, ia tidak tahu akan kemana, yang jelas biar dia menikmati semua fasilitas yang diberikan Bastian saat ini.
"Ah, tidak! Aku hanya merindukan ibuku," jawab Rania sambil tersenyum paksa.
Bastian tidak menanggapi lagi, ia hanya mengarahkan sopir yang mengendarai mobil miliknya itu, untuk menuju sebuah apartemen yang sudah ia sewa beberapa bulan kedepan untuk Rania tinggal disana.
_______________&&&
Maaf ya guys aku selow up dulu, mohon perngertiaanya ya, My baby lagi sakit, rewel banget. ππππ
__ADS_1