
Byakta sedang asyik berkutat dengan berkasnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, tertera nama istrinya disana, Audrey Cantika.
Awalnya ia mengernyit heran, sedetik kemudian tersungging senyum di bibirnya, untuk pertama kali Audrey menghubunginya lewat telepon.
Ia tidak langsung mengangkat panggilan itu, agar tidak terlalu kentara, kalau dia sangat senang Audrey menghubunginya.
Ada setitik harapan kalau gadis itu akan menyuruhnya untuk pulang, karena ingin sekali ia mengelus perutnya dan merasai pertumbuhan calon anaknya.
Hingga panggilan yang ketiga, Byakta baru mengangkatnya, terdengar umpatan gadis itu yang tidak terlalu kentara.
"Tuan, bisa anda pulang sekarang juga? Ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan anda," ucap Audrey tanpa basa-basi, ia sadar karena bukan sedang menelpon suami tercinta.
Byakta memegang dadanya, ada debaran aneh di sana yang mengetuk hatinya, saat mendengar suara Audrey yang begitu lembut namun sedikit ketus.
"Baik, satu jam lagi saya sampai ke rumah," sahut Byakta datar.
Padahal hatinya sungguh berbunga-bunga, untuk pertama kalinya Audrey mau menghubunginya, ia berharap setelah sampai di rumah ia bisa melakukan hal yang paling ingin ia lakukan yaitu memegang perut Audrey.
__ADS_1
Segara ia menyelesaikan pekerjaannya yang memang tinggal sedikit lagi, mood booster yang tiba-tiba datang, membuatnya lebih bersemangat mengerjakan pekerjaannya.
Wajah yang tak biasa dari pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan pakaian itu, membuat para pegawainya terheran-heran.
Byakta yang terkenal dingin tak tersentuh, seperti menunjukkan keajaiban dunia untuk pertama kalinya, ia tersenyum kepada siapa saja yang ia temui.
"Eh, Pak By barusan tersenyum,"
"Aku nggak lagi mimpikan? Pak By senyum sama aku,"
"Iya benar, aku nggak salah lihat, Pak By beneran senyum,"
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Bastian heran.
"Memangnya, wajahku kenapa?" tanya balik Byakta.
Ia meraba wajahnya, ia merasa wajahnya tidak apa-apa, akan tetapi kenapa semua orang bertanya dan memandangnya sedikit aneh, kemarin istrinya yang terus muntah setiap melihat wajahnya, bahkan dengan kejamnya gadis itu mengatakan 'jangankan melihat, mengingatnya saja, perutku serasa diaduk'
__ADS_1
Harga diri Byakta terjun bebas dari ketinggian puluhan ribu kaki dan langsung terhempas ke bumi saat seorang suster di rumah sakit menahan tawa mendengar Audrey berkata seperti itu.
"Horor," jawab Bastian tak acuh.
Byakta mengernyit. Horor?
"Hei, kau pikir aku siluman, seenaknya saja bilang wajahku horor!" pekik Byakta tak terima Bastian mengatai wajahnya yang tampan.
Bastian mengangkat bahu acuh, ia segera masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin mobil. Begitu juga dengan Byakta, ia masuk kedalam mobil dengan wajah sedikit kesal karena ucapan Bastian yang mengatainya 'horor'.
"Mau ku beri tahu satu hal?" tanya Bastian sambil menarik pedal gas dan mobil pun jalan.
"Apa!" Meski enggan, Byakta tetap menyahuti Bastian.
"Wajahmu yang seram, lebih baik daripada wajahmu yang tersenyum setiap bertemu dengan orang tadi, terlihat horor," kata Bastian tanpa dosa.
"Kau sudah bosan hidup! Sejak kapan aku tersenyum pada semua orang? Yang benar saja kau ini," sangkal Byakta masih tak terima.
__ADS_1
Bagaimana orang lain tidak heran, sedangkan dirinya sendiri saja tidak sadar kalau sepanjang jalan keluar dari perusahaan tadi ia menebar senyuman yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Byakta memang baik pada semua karyawannya, akan tetap untuk akrab dan sembarang tersenyum itu bukanlah dirinya.