Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 76


__ADS_3

"Nek, maafkan aku, sungguh aku tidak ingin berbuat begitu pada Audrey, aku tidak pernah menyangka aku akan jatuh cinta padanya, cobalah mengertilah, Nek," ucap Byakta penuh dengan nada permohonan.


Nenek tidak menanggapi ucapan Byakta sama sekali, setelah melihat Wina masuk, nenek pun membalikkan tubuhnya hendak masuk.


Melihat nenek yang mengacuhkannya, Byakta tidak kehabisan akal, ia akan melakukan apa pun agar nenek mau memaafkannya.


"Kalau nenek belum mau memberi maaf padaku, aku akan terus disini sampai nenek memaafkan aku," teriak Byakta, tanpa peduli nenek menggubrisnya atau tidak.


Nenek mendengarnya, tapi ia terus masuk tanpa berniat berhenti atau menjawab, pintu pun tertutup meninggalkan Byakta yang keras kepala.


Sementara dari lantai dua, tepatnya di kamar Audrey, ia melihat semua yang terjadi dengan air mata berderai.


Tadi dia sudah salah sangka pada laki-laki yang sedang berjuang di bawah sana, sampai tidak sadar sudah membuat satu-satunya akses berkomunikasi mereka hancur begitu saja.


Namun, ditengah kesedihannya, ada yang membuncah di hatinya, ternyata laki-laki itu mau memperjuangkannya, secarik senyum terbit di bibirnya, tipis sekali.


Audrey mengulang kembali awal pertemuan mereka hingga sebuah kesepakatan untuk saling menguntungkan pun terjadi.


Semua berawal dari rahimnya yang disewakan pada laki-laki itu seharga lima miliar, tempat dimana sebuah kehidupan dimulai, tempat dimana garis nasib dituliskan.

__ADS_1


Ya, dari sanalah kisah cinta mereka dimulai, seperti kehidupan di dalam rahim, seperti itulah proses perjalan cinta mereka, tidak mudah namun memberi kesan yang tak akan pernah terlupakan hingga maut menjelang.


Audrey mengusap perut ratanya, ia juga mengingat sang adik yang dulu ia perjuangkan, Audrey merasa secara tidak langsung sebelum pergi adiknya ingin menempatkan Audrey di tempat yang tepat, tidak lagi pada kehidupan yang mengerikan bersama ibu tiri mereka.


Entahlah, Audrey tidak tahu itu, tapi yang ia rasakan saat ini adalah tuhan selalu meletakkan hikma di setiap kejadian di dunia ini.


Audrey mengusap air matanya, kini hanya tinggal satu titik lagi penghalang untuk mereka bersama, setelah mengarungi perjuangan hidup saling berjauhan, yang satu ingin melupakan dan yang satu terjatuh hingga tak berdaya.


Sekarang tidak lagi, kini keduanya sudah di jalan yang sama, yaitu berjuang untuk bersama menjalin lagi mahligai yang hampir sirna.


Sementara di depan gerbang, Byakta masih bertahan, ia masih menunggu disana, berharap nenek akan iba padanya.


Satu jam, dua jam, empat jam hingga tujuh jam berlalu tidak satupun orang yang terlihat keluar dari dalam rumah, baik itu nenek, Wina atau Audrey sekalipun.


Rasa cemas akan di tinggalkan tiba-tiba merasuk dalam hatinya, bagaimana kalau dia sudah berjuang tapi ternyata Audrey malah berpihak pada nenek.


Byakta tidak bisa membayangkan jika itu terjadi, akan sehancur apa dia tanpa gadis itu.


"Aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya, jika cara baik-baik tidak bisa, aku akan melakukan cara lain sampai dapat." Gumam Byakta penuh ambisi.

__ADS_1


Saat sedang bergumam sendiri, Byakta melihat ada beberapa orang laki-laki yang kelihatannya warga yang tinggal disekitar rumah nenek Audrey.


Byakta terkesiap, ia takut di tanya yang aneh-aneh oleh mereka, apalagi sampai harus terjadi kesalahpahaman yang tidak penting.


"Selamat malam, Pak. Ada yang bisa kami bantu? Saya melihat anda sejak sore tadi berada disini, apakah anda menunggu pemilik rumah ini?" tanya seorang laki-laki untuk mewakili yang lainnya.


Byakta segera berdiri dari tempat duduknya, lalu membungkukan badan sedikit memberi hormat lalu tersenyum ramah namun terpaksa. Sungguh ia benci suasana ini, ia seperti orang yang dicurigai akan berbuat jahat, karena Byakta melihat orang-orang yang di hadapannya ini, menatapnya dengan tatapan penuh curiga.


"Selamat malam, ya, saya sedang menunggu pemilik rumah, tapi hingga malam ternyata mereka belum kembali juga," jawab Byakta asal.


"Kenapa tidak di hubungi saja?" tanya laki-laki itu lagi.


"Ah, sudah! Tadi sudah saya hubungi katanya sebentar lagi sampai," bohong Byakta.


Sungguh ia malas sekali harus berjumpa dengan orang-orang ini, kalau tidak mengingat seseorang di dalam sana, mungkin dia sudah pergi dan tak akan kembali, tapi ia tidak melakukan itu.


"Ooh, begitu. Baiklah, kalau perlu bantuan rumah saya di sebelah rumah ini, silahkan datang saja," tawar laki-laki yang terlihat sudah tidak muda lagi yang ternyata tetangga nenek Audrey.


"Ah, iya, terima kasih," ucap Byakta sambil tersenyum paksa.

__ADS_1


Setelah berbasa-basi akhirnya mereka pergi juga, Byakta dapat bernafas lega, setidaknya ia tidak di usir oleh orang-orang itu.


__ADS_2