Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 45


__ADS_3

Seperti tidak punya pekerjaan, Bastian dan Byakta sibuk menyusun rencana untuk membuat suasana kebetulan saat bertemu dengan Audrey nanti.


Sejak pukul lima subuh keduanya sudah berada di perusahaan agar tidak bertemu dengan Audrey di luar.


Ini adalah rencana yang tidak direncanakan sebelumnya, tapi mendadak terencana sejak Bastian mengetahui Audrey bekerja di perusahaan milik Byakta yang kepemimpinannya di alihkan pada Bastian.


Hingga karyawan mulai berdatangan untuk menjemput rezeki, keduanya masih berada di ruangan Presdir.


"Kau yakin dia tidak bisa kemana-mana lagi?"


"Ya, tentu. Akan kemana dia? Aku sudah membuatnya terikat dengan perusahaan ini." Bastian menyeringai mengingat kelicikannya, ia sudah memperkirakan apa saja yang akan terjadi jika gadis itu mengetahui bahwa pemimpin perusahaan tempatnya bekerja adalah orang yang mungkin sangat ingin ia hindari.


Bahkan sampai hari ini Bastian selalu berusaha untuk tidak bertemu dengan Audrey, agar semua rencananya berjalan dengan mulus.


"Kau memang bisa diandalkan, bulan depan ambillah tiket liburan kemana saja untukmu dan Melisa, ajak serta anak itu untuk berlibur," tutur Byakta.


Bastian mengangguk, "Terima kasih," ucapnya lirih.


"Omong kosong! Berhenti mengucapkan itu, kau sudah bekerja keras, kau pantas mendapatkannya." Tepuknya pundak Bastian, ia bangga memiliki asisten seperti Bastian.


"Kapan aku bisa bertemu dengannya? Ku pikir dia sudah datang sekarang," tanya Byakta tidak sabar.


"Bersabarlah, sebentar lagi, aku akan keluar menemui kepala kebersihan. Kau bersiaplah, jangan lupa seperti rencana awal," ingatkan Bastian lagi.

__ADS_1


Di jawab anggukan oleh Byakta, mendadak jantungnya berdebar, setahun sudah, apakah dia masih seperti dulu, lembut dan sendu?


Entahlah, Byakta memegang dadanya, debaran itu semakin kencang saat ia melihat pada dinding kaca ruangannya, dinding kaca yang hanya orang dari dalam yang bisa melihat, sedangkan orang yang di luar hanya melihat kaca tebal yang hitam.


Wajah itu, wajah yang sangat ia rindukan, wajah itu tidak berubah bahkan terlihat semakin cantik dan dewasa.


Tanpa sadar Byakta yang sudah mengunci pintu dengan remot, mendekat ke kaca itu, ia melihat Audrey yang sedang merapikan penampilannya, Byakta meraba kaca, tangannya menyusuri garis wajah Audrey dengan penghalang kaca.


Bulir bening tiba-tiba menetes saat jarak keduanya semakin dekat, hanya terhalang kaca dinding itu saja.


Ingin rasanya Byakta menembus kaca ini dan langsung memeluk dan mendekap tubuh mungil itu lalu menghujaninya dengan ciuman kerinduan.


Ketukan pintu membuat Byakta tersadar kalau Audrey sudah pergi dari depan kaca tersebut, sekarang gadis itu sudah berada di depan pintu dan mengetuknya.


"Masuk," sahut Byakta dari dalam ruangan.


Membuat Audrey memberanikan diri membuka pintu dan masuk, ia sedikit gugup karena akan berhadapan langsung dengan pemilik perusahaan.


Setelah itu Audrey menutup pintu perlahan, ia melakukannya dengan sangat hati-hati, namun tersentak saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Aku merindukanmu," ucap Byakta.


Audrey yang masih belum paham dengan yang terjadi, kenapa ia di peluk dan kenapa kurang ajar sekali, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, ia kenal suara itu, ia kenal aroma maskulin ini, memori ingatannya kembali ke waktu satu tahun silam.

__ADS_1


Ia langsung memberontak melepaskan diri lalu berbalik ingin melihat siapa yang tadi memeluknya. Seketika matanya terbelalak melihat sosok tampan nan mempesona itu ada di hadapannya saat ini.


Audrey mundur ke belakang sambil menutup mulutnya tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini.


minuman yang ada di tangannya pun terjatuh membentur lantai


"K-kau!"


Byakta melangkah maju ingin memeluk gadis itu lagi dan membisikkan ke telinganya bahwa ia rindu.


"Stop! Jangan bergerak." Tuding Audrey. Ia mundur mendekat ke pintu dan akan membukanya kembali dan lari dari tempat ini sekarang juga.


Sungguh ia tak tahu apa yang terjadi saat ini, kenapa tiba-tiba laki-laki ini ada disini? sejak kapan?


Namun sayang pintu tidak bisa terbuka, karena Byakta sudah menekan tombol kunci pada remote di sakunya.


Bastian dari ruangan lain yang melihat dari kamera cctv yang tersambung langsung ke tabletnya menepuk jidatnya, semua tidak berjalan sesuai rencana, laki-laki bucin itu merusak semuanya.


"Cih! Dasar tua Bangka bucin." umpat Bastian kesal.


Padahal rencananya mereka akan membuat semua murni kebetulan, tapi melihat ini semua, Audrey pasti akan berpikir kalau semua ini sudah direncanakan.


Setelah ini Audrey pasti akan pergi dan tidak peduli dengan kontrak kerja yang sudah susah payah di buat oleh pastian.

__ADS_1


Bastian mengutuki kebodohan bosnya yang mendadak jadi bodoh saat di hadapan wanitanya.


__ADS_2