Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 57


__ADS_3

"Nenek, panggil saja Byakta atau By," pinta Byakta tanpa segan.


"Ah, tentu saja, kau sudah ku anggap seperti cucuku sendiri, baiklah baiklah, Byakta, ya, aku akan memanggilmu begitu,"


Byakta mengangguk senang, semoga ini awal yang baik untuknya menggapai restu keluarga Audrey. Byakta mengamini sendiri doa di dalam hatinya.


"Aku sungguh kasihan pada cucuku yang cantik itu," ucap nenek dengan raut wajah yang berubah jadi sendu, sungguh nenek tidak berpura-pura, ia memang merasa sedih jika mengingat semua cerita kehidupan Audrey di kampung halaman ayahnya.


"Ada apa dengannya, Nek?" tanya Byakta penasaran, sedangkan Audrey hanya diam sejak tadi menyimak keduanya.


Ia sama sekali tidak terusik meskipun sang nenek menceritakan tentang dirinya, ya karena nenek menceritakan itu semua bukan pada orang lain, melainkan pada pelakunya sendiri, karena ia sudah tahu nenek akan membahas apa tentang dirinya.


"Dia sungguh gadis yang malang, setelah ibunya meninggal, ia dan adiknya di bawa ayahnya ke kampung halamannya di Milan." Nenek menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Beberapa waktu di sana ayahnya menikah lagi, namun tidak begitu lama ayahnya pun meninggal juga, mereka hidup dengan ibu tiri yang jahat, kau tau nak, apa yang dilakukan ibu tirinya itu?" tanya nenek pada Byakta sambil mengusap bulir bening di ujung matanya.


Byakta hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan nenek yang harus ia jawab atau tidak, yang jelas saat ini perasaannya mulai tak enak, apalagi ia melihat sekilas Audrey menyeringai.


"Ibu tirinya menjual Audrey kepada pengusaha kaya raya di Milan, untuk di nikahi dan melahirkan anak, jika ia bisa melahirkan anak untuknya maka pengusaha kaya itu akan membayarnya lima miliar, sungguh malang nasib cucuku."


Nenek mulai tersedu-sedu, sementara Byakta sudah ketar-ketir akan cerita nenek yang secara tidak langsung menceritakan dirinya.


"Audrey awalnya menolak, tapi nyawa adiknya akan melayang kalau ia tidak mendapatkan uang saat itu juga, mau tidak mau ia harus berkorban untuk menyelamatkan adiknya,"

__ADS_1


Nenek semakin keras menangis, membuat Byakta khawatir sendiri, ia memberi kode pada Audrey, namun gadis itu acuh tidak peduli.


"Aku tidak tahu laki-laki macam apa yang menginginkan anak, tapi tidak ingin memiliki istri, dia pikir dia lahir dari siapa kalau tidak dari istri atau wanita seperti kami!"


Kali ini suara nenek cukup tinggi, membuat Byakta terlonjak kaget, bagaimana ini? Batinnya ketakutan.


"Kalau aku bertemu dengan laki-laki itu, aku akan memotong miliknya, akan aku iris tipis-tipis seperti sosis, lalu aku masak dengan bumbu cabai dan aku beri makan pada peliharaan tetangga sebelah." Nenek mengepalkan tangannya, giginya gemeretak menahan emosi.


Sedangkan Byakta meringis membayangkan jika nenek benar-benar melakukannya, seketika miliknya terasa ngilu membayangkan ucapan nenek akan terealisasi.


Audrey yang diam sejak tadi hanya menunduk dan menutup mulutnya menahan tawa, perutnya rasa digelitik ribuan tangan, seandainya bisa terbahak, ia akan terbahak sekuat mungkin.


"Eh, Nek! Sudah larut malam, saya akan pulang, terimakasih kasih teh dan cemilannya juga cerita tentang kehidupan Audrey,"


"Ah, iya iya, silahkan, sering-sering main kesini, ya, jangan sungkan," katanya nenek berbasa-basi.


Tanpa melihat lagi wajah Audrey, Byakta langsung masuk ke dalam mobil, ia bergidik ngeri, ia tidak menyangka nenek akan menyeramkan seperti itu.


Mobil melesat begitu saja, meninggalkan nenek dan Audrey di depan pintu, "nenek suka kamu dekat dengannya, sepertinya dia menyukaimu," ujar nenek pada Audrey.


"Apa nenek akan merestui jika dia memiliki niat baik pada Rey, Nek?" tanya Audrey berbinar.


"Pastikan dulu dia bukan suami orang, sayang. Karena yang nenek lihat umur kalian berbeda jauh, kita tidak ada yang tahu kan, lebih baik cari tahu dulu, sebelum menyesal kemudian," tutur nenek panjang lebar.

__ADS_1


Audrey hanya mengangguk, dia memang istri orang nek, lebih tepatnya suamiku, batin Audrey tertawa dalam hati.


Ia kembali teringat wajah Byakta yang ketakutan saat nenek bercerita tentangnya tadi, dapat Audrey rasanya kalau laki-laki itu merasakan ngilu pada asetnya saat nenek ingin mengiris tipis-tipis miliknya jika bertemu.


Setengah jam berlalu, saat Audrey hentak tidur, ponselnya berdering menunjukkan sebuah panggilan Video yang tidak lain dari Byakta, dengan malas Audrey mengangkat panggilan itu dan mengarahkan layar ponselnya pada wajahnya yang sudah merangsek ke selimut tebal.


"Aku ngantuk, kenapa kau malah melakukan panggilan Video?"


Terdengar Byakta mendesah kesal, ia melihat Audrey begitu santai padahal ia sedang ketakutan atas ucapan nenek tadi.


"Sayang, kau jahat sekali. Apa kau akan bahagia jika nenek benar-benar mengiris milikku!" Byakta menatap layar dengan wajah memelas yang membuat Audrey gemas padanya.


"Itu urusanmu dengan nenek, kenapa bawa-bawa aku, aku ngantuk ingin tidur." Sembunyikan Audrey setengah wajahnya di balik selimut.


"Kenapa kau menceritakannya detail sekali, sayang! Aku tidak yakin nenek akan dengan mudah merestuiku," keluh Byakta masih dengan wajah memelas.


"Itu masalahmu, kenapa menyalahkan aku! Sudah, aku ngantuk mau tidur, good night hubby."


Audrey langsung mematikan sambungan telepon videonya, lalu ia terbahak sendiri mengingat wajah Byakta yang seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.


Ia melihat lagi pada ponselnya yang kembali berdering karena Byakta melakukan panggilan video lagi, gadis itu itu sengaja tidak mengangkatnya karena ia tahu Byakta pasti mau membahas panggilan Audrey padanya tadi.


Audrey terlalu malu untuk itu, oleh sebab itu ia langsung memutuskan panggilannya begitu saja.

__ADS_1


Tidak lama satu notifikasi pesan masuk, Audrey langsung membukanya dan membaca isi pesan tersebut.


*Aku ingin besok kau memanggilku seperti tadi, love you honey*


__ADS_2