
Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit tampak beberapa perawat dan dokter mendorong brankar darurat rumah sakit. Di atasnya tergeletak Byakta yang sedang tak sadarkan diri, laki-laki itu di temukan warga sedang tergeletak di depan gerbang rumah nenek Audrey.
Suhu tubuhnya sangat panas, ya, Byakta mengalami demam yang sangat tinggi sekali. Saking tingginya, membuatnya tak tahan dan pingsan begitu saja.
Audrey ikut mendorongnya menuju ruang IGD sambil tersedu-sedu, dalam hatinya ia mengutuk dirinya sendiri. Malam itu ia ketiduran sampai pagi datang, padahal ia berniat waktu tengah malam akan menemui Byakta secara diam-diam.
Namun paginya ia dikagetkan oleh seorang warga yang baru pulang dari masjid. Waktu sudah menunjukkan pukul lima subuh, ia tersentak saat beberapa warga meneriaki mereka yang berada di dalam rumah.
Saat sudah sampai di depan ruang IGD, seorang suster menghentikan Audrey yang ingin ikut masuk ke dalam.
"Mbak, tolong tunggu di luar, kami akan membawa pasien untuk diperiksa," ucap suster tersebut dengan sopan.
__ADS_1
"Tapi Sus, saya harus ikut, saya ingin melihat keadaannya," sahut Audrey memelas.
"Tidak bisa mbak, tolong patuhi aturan rumah sakit. Kami tidak bisa membawa siapapun kedalam, ini sudah menjadi aturan rumah sakit, mohon kerjasamanya, ya." Suster tersebut berbalik dan meninggalkan Audrey tanpa menunggu respon gadis itu lagi.
Pintu IGD pun tertutup, hal itu membuat Audrey merasakan Dejavu, ia pernah di kondisi saat ini. Yaitu saat Rayyan adiknya juga ditangani oleh dokter dan dia menunggu di luar ruangan sambil harap-harap cemas.
Gadis itu terus mondar-mandir di depan ruangan sambil menggigit kukunya sendiri, untuk mengurangi rasa gelisa di hatinya.
Banyak sekali yang ia takutkan, bagaimana jika Byakta pergi selamanya, bagaimana jika ia tak tertolong, membuat air matanya tak berhenti mengalir.
"Sus, bagaimana keadaannya, dia baik-baik saja kan, sus?" Audrey langsung mengajukan pertanyaan pada suster tersebut saat melihatnya menghampirinya.
__ADS_1
"Dokter kami sedang memeriksa pasien, saya kesini ingin memberitahu anda, kalau ponsel pasien terus berdering sejak tadi, mungkin anda bisa memeriksanya," jelas suster tersebut sambil mengulurkan ponsel milik Byakta yang sempat ia ambil dari dalam mobil dua jam sebelum ia pingsan.
"Ah, mungkin itu ibu mertua saya, sus. Berikan ponselnya, saya akan mengabarinya sekarang juga," tutur Audrey sambil mengambil ponsel milik Byakta dari tangan suster tersebut.
Setelah memberikan ponsel milik Byakta tadi, suster tersebut masuk kedalam lagi. Sedangkan Audrey langsung memeriksa riwayat panggilan di ponsel Byakta.
Dan benar saja dugaannya, yang memanggilnya tadi tidak lain adalah Bibi Lauren, jantung Audrey berdebar, bagaimana caranya ia mengatakan keadaan Byakta pada bibi Lauren, sudah lama sekali ia tidak bicara kepada wanita tua itu.
Saat sudah menyakinkan dan menguatkan hati, Audrey pun menghubungi kontak Bibi Lauren yang diberi nama oleh Byakta "My Mom"
Pada dering pertama panggilan langsung diangkat, jantung Audrey semakin tidak menentu, ketika mendengar suara seorang wanita tapi bukan Bibi Lauren.
__ADS_1
Audrey langsung menebak itu pasti Melisa, karena Byakta pernah mengatakan jika wanita itu memang tinggal bersama Bibi Lauren. Selain mengurus anak biologis Byakta, Melisa juga merawat Bibi Lauren yang sudah mulai senja.
"Halo, By? Bibi sedang mandi, hubungi lagi nanti," kata Melisa di sambungan teleponnya.