
Sekitar dua puluh lima menit akhirnya Tante Wina sampai di tempat tujuan yaitu sebuah cafe bernuansa outdoor.
Dia tidak masuk, Tante Wina hanya menunggu di luar saja, dia menunggu dengan harap-harap cemas, sebab waktu yang mereka miliki tidaklah banyak.
Tante Wina terus celingak-celinguk melihat siapa saja yang baru datang, sambil sesekali memeriksa ponselnya, siapa tahu ada kabar lain.
Hingga tiga puluh menit berlalu, tidak membuat Tante Wina putus asa, dia terus berpikir positif, mungkin tempat tinggal orang itu jauh dari tempat mereka akan bertemu.
Setelah tiga puluh menit, tiba sebuah mobil yang cukup mewah berhenti tepat di depan Tante Wina.
Lalu kaca mobil terbuka memperlihatkan seorang wanita yang tidak lain adalah Melisa.
"Hai, kamu tantenya Audrey 'kan? Naiklah, mari bicara di dalam mobil saja," ajak Melisa sopan.
__ADS_1
Tante Wina yang menyadari dia adalah orang yang di teleponnya tadi, langsung naik begitu saja.
Melisa menutup kaca mobil, sebab ia tidak ingin pembicaraannya dengan Tante Wina didengar oleh siapapun, sebab Tante Wina mengatakan kalau ini sangat penting.
"Bagaimana kau langsung tau aku orangnya?" tanya Tante Wina polos.
Membuat Melisa tersenyum atas kepolosan Tante Wina. "Lewat GPS, tidak susah jaman sekarang untuk menemukan seseorang," jawab Melisa tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada tantenya Audrey ini.
Melisa memang harus melakukannya, sebab mulai saat ini, siapa pun yang berhubungan dengan Audrey, adalah orang-orang yang harus dia hormati, seperti dia menghormati Byakta dan juga Bibi Lauren.
Mendengar Melisa memperkenalkan diri dan menyebut namanya, membuat Tante Wina gugup.
Sebab yang dia tahu dari cerita Audrey, Melisa adalah mantan istri Byakta dan juga ibu dari anak biologis nya Byakta.
__ADS_1
Tiba-tiba perasaanya menjadi tidak enak, ada rasa khawatir tiba-tiba menyerang hatinya, ia merasa telah menghubungi orang yang salah.
"Tidak perlu khawatir, semua adalah masa lalu, aku dan Byakta sudah berdamai dengan masa lalu kami, tidak lagi membicarakan perihal dulu, semua sudah berlalu, sekarang kami hanya rekan kerja. Terlepas dari aku yang memiliki anak, itu hanya anak biologis saja, sebab dulu Byakta menikahi aku secara siri, berbeda dengan Audrey, dia dinikahi secara sah hukum dan agama. Tidak perlu khawatirkan apapun, sekarang apa yang menjadi masalah Audrey ataupun Byakta dan keluarga besarnya adalah masalahku juga, aku tidak akan mengambil keuntungan untuk apa pun itu," jelas Melisa panjang lebar saat melihat sekilas raut gelisa Tante Wina setelah ia memperkenalkan diri.
"Benarkah itu? Kau sudah bertaubat sungguhan? Kalau kau berbohong, aku tidak akan menceritakan semuanya padamu," Tante Wina sebenarnya bukan tipe orang yang suka mengancam, dia hanya berpikir realistis, ambil pelajaran dari masa lalu.
"Tidak semua orang akan terjebak di masa lalu dan menyia-nyiakan masa depan yang mungkin lebih baik, ya, itulah aku. Aku tidak ingin terus dihantui rasa bersalah, oleh sebab itu aku memilih berhenti dan menerima kenyataan kalau inilah takdir hidupku," jawab Melisa bijak, dia tidak mengubah sedikitpun mimik wajahnya, tersinggung atau apapun itu.
Sebab memang dia sudah benar-benar berdamai dengan masa lalu itu, bahkan saat ini ia sedang berusaha menghapus kisah lama itu.
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi sampai kau harus menghubungiku?" tanya Melisa serius.
Tante Wina yang dari tadi di selimuti rasa khawatir yang mendadak datang setelah mengetahui siapa wanita di hadapannya ini, ia sampai lupa jika waktunya tidak banyak lagi untuk menghentikan aksi nenek.
__ADS_1
"Astaga aku sampai lupa, baiklah siapa pun kau, aku berharap ucapanmu tidak mengandung kebohongan," ujar Tante Wina.