
Tanpa sadar hampir setengah jam sudah Bastian dan Byakta sedang asik membahas beberapa hal tentang perusahaan dengan Byakta yang masih terus menanda tangani beberapa berkas.
Di saat sedang asik, tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang meminta tolong.
Keduanya sama-sama terdiam kala mendengar pekikan adalah suara bibi Lauren memanggil Byakta dan meminta tolong.
Setalah memastikan kalau itu benar-benar suara bibi Lauren yang sedang panik meminta tolong, keduanya segera bergegas menghampiri Bibi Lauren yang ternyata berada di dekat tangga.
Setelah sampai disana, langkah Byakta berhenti saat melihat Bibi Lauren sedang memangku sebagian tubuh Audrey yang tidak berdaya di lantai, tampak begitu banyak darah mengalir dari kakinya.
Jantungnya berdetak kencang mendapati itu semua, ia berdiri seperti patung menyaksikan itu semua. Masih teringat wajah sendu Audrey karena mengkhawatirkan keadaan adiknya, dengan bahasa yang sangat lembut, gadis itu berusaha meminta izin padanya untuk pergi menjenguk adiknya.
"By, cepat tolong! Ayo kita kerumah sakit," sentak Bibi Lauren.
Membuat Byakta tersadar dan dengan cepat mengangkat tubuh Audrey, ia tidak bisa bicara apapun saat ini, lidahnya keluh, pikirannya melayang pada kemungkinan yang paling buruk.
__ADS_1
Ia pergi bersama bibi Lauren dan juga supir, Byakta terus memeluk tubuh Audrey yang tidak berdaya, tiba-tiba rasa takut kehilangan muncul meresahkan hatinya.
Rasa takut yang baru pertama kali muncul, rasa takut yang teramat sangat, rasa takut yang melebihi rasa takutnya pada trauma masa lalunya dulu.
Bastian sengaja tidak ikut dengan rombongan yang membawa Audrey ke rumah sakit, karena ia menemukan ponsel Audrey yang tercampak tidak jauh dari tempat Audrey jatuh.
Ia melihat layar itu yang sedang menampilkan sebuah pesan singkat dari seorang dokter yang menangani adiknya, Rayyan.
Ia menduga penyebab jatuhnya Audrey dari tangga adalah pesan singkat yang berisi pemberitahuan, bahwa pasien yang bersama Rayyan Ahmed telah meninggal dunia lima belas menit yang lalu.
Bastian segera memeriksa ponselnya yang ternyata sedang dalam mode senyap, ia semakin mengumpat kebodohannya sendiri.
Segera ia bergegas menyusul semua orang kerumah sakit, begitu banyak urusannya saat ini, yang pertama ia akan memberi tahu Byakta dan bibi Lauren tentang adiknya Audrey, yang kedua ia akan menggantikan Audrey untuk proses pemakaman.
Ia menekan pedal gas dan mobil pun malaju meninggalkan rumah kediaman Byakta. Tanpa ia sadari ternyata sejak kejadian tadi, seseorang mengamati dan bersorak riang, sekarang jalannya semakin lebar untuk menjadi satu-satunya seseorang yang akan melahirkan pewaris untuk Byakta Arsena laki-laki kaya raya itu.
__ADS_1
"Kerja yang bagus," ucap Melisa kepada salah satu pelayan rumah Byakta yang membantunya menjalankan aksinya untuk mencelakai Audrey.
Orang itu mengangguk tersenyum, ia bangga telah menjalankan tugas dengan baik, itu artinya ia akan segera mendapat bayaran sekarang juga.
"Jangan lupakan bayaran saya, Nona. Kirim segera agar saya cepat pergi dari tempat ini," kata pelayan tersebut.
"Tenang, kau akan mendapat hak mu sekarang juga." Melisa merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya, ia mengetikkan sesuatu disana.
"Terkirim, ok, selesai! Kau bisa menikmatinya, selamat tinggal," sekali lagi Melisa menepuk bahu pelayan tersebut, lalu ia pergi dari rumah Byakta.
Tadinya Melisa datang hanya untuk mendekati bibi Lauren, ia berpikir semakin akrab semakin baik untuknya menjalani hari kedepannya nanti di rumah ini.
Pada saat ia baru saja memasuki pintu utama, ia melihat Audrey sedang menerima panggilan dari seseorang, tampak wajahnya terkejut dan panik. Melisa mendengar sedikit, sepertinya seseorang sedang dalam kondisi tidak baik. Ia langsung menangkap jika itu adalah adik kesayangan yang di lindungi gadis itu dengan nyawanya.
Melisa mengetahui semua itu dari seseorang yang ia sewa untuk mencari tahu tentang Audrey. Melisa tersenyum penuh arti melihat kepanikan Audrey saat menutup panggilan dan naik ke lantai atas, ia pasti ingin meminta izin pada Byakta untuk pergi.
__ADS_1
Sebelum ia meneruskan langkahnya untuk masuk menemui bibi Lauren, seorang pelayan yang membuka pintu untuknya tadi lewat, ia memanggilnya dan mengajak kerja sama untuk mencelakai Audrey dengan bayaran yang tinggi.