Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 68


__ADS_3

Rania kedua dari kamar mandi dengan wajah sembab, dia menangis di dalam tadi, karena takut tubuhnya bahkan sampai bergetar.


Bastian seketika merasa terenyuh hatinya melihat wajah polos itu, ingin rasanya dia memeluk gadis malang itu, tapi kewarasannya melarang itu terjadi.


"Cih, kau menangis, cengeng sekali kau! Bagaimana kau bisa hidup dalam pelarian jika kau cengeng seperti itu," hardik Bastian.


Rania hanya diam tak ingin menanggapi ucapan Bastian, namun di hatinya dia membenarkan ucapan Bastian, harusnya dia kuat dan tegar. Kehidupan di luar sana lebih kejam lagi nantinya, apalagi dia sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini.


Rania mengambil paper bag yang diberikan Bastian padanya, lalu kembali masuk kedalam kamar mandi, dia memilih memakai piyama celana panjang, dia tidak mungkin memakai gaun karena akan tidur.


Setelah selesai, Rania keluar dari kamar mandi, canggung, ya itulah yang ia rasakan saat ini, ia tidak tahu akan melakukan apa.


Rania melirik Bastian yang sedang menonton televisi, di layar menampilkan film bergenre action, meski tidak terlalu menyukai itu, Rania mencoba ikut menikmati, duduk di lantai bersandar meja ikut menikmati film yang sedang tayang.


"Kenapa di bawah, duduklah di atas, kau bisa masuk angin jika duduk di situ," ucap Bastian datar.


"Tidak, Om. Aku suka duduk di bawah, di rumahku, kami bahkan menonton TV sambil berbaring di lantai," tolak Rania halus.


Tidak mungkin dia menyetujui langsung titah Bastian, akan jadi apa kalau dia duduk di sebelah laki-laki itu, sementara Bastian hanya memakai celana pendek dan kaos tipis saja.

__ADS_1


"Ini bukan di rumahmu dan tidak ada ibumu yang akan merawat jika kau sakit karena masuk angin," sahut Bastian tanpa melihat Rania.


Rania tidak menjawab, juga tidak melaksanakan ucapan Bastian yang menyuruhnya duduk di sofa yang sama.


"Aku rasa memang pendengaran mu bermasalah, suka sekali kalau membuatku mengulang kata-kata," cibir Bastian kesal karena Rania tak kunjung melakukan perintahnya.


"Apa tidak masalah kalau aku duduk di sebelah, Om? Kalau tiba-tiba kekasih om datang akan jadi masalah besar," tutur Rania.


Bastian menghela nafas, gadis ini benar-benar membuat rasa kesal dan iba secara bersamaan. Akhirnya Bastian mematikan televisi lalu bangkit dari tempat duduknya menuju ke kasur.


"Tidurlah, sudah larut malam." Matikan Bastian lampu dan menggantinya menjadi lampu tidur.


Rania dapat melihat dalam keremangan lampu, Bastian mulai memejamkan mata sambil memeluk guling.


Pikirannya jauh menerawang hari esok apa yang akan terjadi, akan pergi kemana dia sama sekali tidak bisa menebaknya, hanya satu yang sangat mengganggu pikirannya, akan kemana dia besok, bahkan uang sepeser pun ia tak punya, tapi jika ia tidak pergi dari kota ini, ia akan tertangkap oleh ayah tirinya dan dia akan dijual.


Rania memiringkan tubuhnya menghadap ranjang di mana Bastian sudah terlelap, apakah orang itu akan mau menolongnya lagi jika ia meminta bantuan.


'aku tidak tahu siapa kau, tapi Tuhan sangat baik karena mempertemukan aku denganmu, semoga orang baik sepertimu, selalu mendapatkan kehidupan yang baik'

__ADS_1


Rania mulai memejamkan mata, dia tidak ingin berpikir terlalu keras, biarlah takdir yang akan menentukan hari esok.


Saat Rania sudah terlelap masuk ke alam mimpi, Bastian kembali membuka matanya, ia tahu sejak tadi gadis itu tampak termenung.


Bastian tahu apa yang dipikirkan gadis itu, dia tidak punya siapa-siapa, ayah ibunya sudah tidak ada, bahkan kota ini bukan kampung tempat orang tuanya tinggal, dia datang ke tempat ini karena ayah tirinya yang membawanya untuk dijual.


Bastian tahu bagaimana rasanya sendiri, tidak punya orang tua atau keluarga. Namun ia masih beruntung hidup di panti asuhan, lalu ketika sudah menginjak usia sepuluh tahun Bibi Lauren mengadopsinya, hidup tanpa kekurangan, juga ia mendapat kasih sayang dari bibi Lauren tanpa membedakan antara dirinya dan Byakta.


Bastian kembali membaringkan tubuhnya, menarik selimut dan memejamkan mata, satu solusi terbesit di benaknya, tapi ia akan menyampaikan besok saja pada Rania.


____________________________________


Komentar kalian aku share di story' iG Lo 🤗


follow iG aku yuk 🤭 @Rifah_Biy93


kalau mau komennya aku share gitu, ayok kasih komen yang ok ☺️ nanti di akhir novel juga bakal aku buat give away Lo, komentar paling aku suka.


yuk dari sekarang kasih komen yang ok.

__ADS_1


Thanks juga buat yang kasih aku vote 🥰 likenya juga, yang banyak ya ☺️


sharangheo kalian 😘😘


__ADS_2