
Setelah memasuki kamar mandi dan menanggalkan semua pakaiannya, Audrey terkejut saat pintu kamar mandi di buka seseorang.
Matanya terbelalak saat melihat Byakta masuk sudah dalam keadaan tanpa busana, jantung Audrey berdebar kencang.
Jika cinta dan rindu sudah bermain di saat dua insan telah bersama, tidak ada yang bisa mencegahnya, ia menggebu untuk segera menyatu.
Tidak menunggu aba-aba, Byakta langsung meraih tangan Audrey dan menghentakkan tubuh istrinya hingga membentur dada bidangnya.
Secara alami gerakan cinta dan rindu itu bersama mempermainkan sebuah rasa yang tak dapat diungkapkan, rasa yang membawa insan melayang hingga nirwana.
Byakta terus beraksi, laki-laki itu memegang kedua rahang Audrey dan langsung melahap benda kenyal nan manis gadis itu penuh cinta dan hasraat yang menggebu-gebu.
Awalnya Audrey masih terkejut dan tidak merespon perbuatan Byakta padanya, namun saat benda kenyal itu semakin bermain, Audrey pun akhirnya sadar dan paham apa yang diinginkan suaminya.
Audrey mulai menggerakkan tangannya memeluk punggung Byakta agar tubuh mereka tidak lagi memiliki jarak, sementara Byakta terus mengeksplor tiap inci rongga mulut Audrey.
Puas disana, kini Byakta mulai mengarah ke leher jenjang Audrey, membuat gadis itu menggeliat, keduanya berlomba-lomba menunjukkan rasa cinta itu.
Perlahan Byakta membawa Audrey ke bawah shower, lalu satu tangannya bergerak menghidupkan shower tersebut tanpa melepaskan kegiatannya pada Audrey.
__ADS_1
Air mengucur membasahi tubuh dua insan yang sedang dimabuk cinta, rasa dingin di tubuh tidak menghentikan kegiatan panas mereka, justru malah semakin menggebu dan menginginkan lebih.
"Boleh, ya, sayang?" Bisik Byakta di telinga Audrey.
Gadis itu hanya menjawab dengan satu anggukan tanpa membuka sedikitpun matanya, padahal dalam hati gadis itu, ngapain tanya lagi kalau suasananya udah kayak gini, kan malu.
Mendapat izin dari sang istri, Byakta semakin brutal menjadi-jadi, cinta yang telah lama menanti pelabuhannya, kini membara bagai api yang membakar hutan belantara.
Byakta terus memberi gerakan-gerakan sensual dengan tangannya, bibirnya masih sibuk menciptakan stempel cinta di leher jenjang mulus tanpa cela itu.
Suara gemericik air berpadu dengan suara erotis yang mengalun indah, membuat dua insan itu semakin tidak sabar untuk menuju puncak surga dunia.
Hingga matahari terbenam mereka masih mengulang lagi dan lagi kegiatan berpeluh itu untuk memadamkan gejolak rindu yang terpendam selama ini.
Matahari cerah menyambut dua insan yang sedang di mabuk cinta, keduanya masih berpelukan mesrah menikmati kebersamaan setelah berpisah begitu lama.
"Tetap seperti ini, Sayang. Jangan tinggalkan aku lagi, mulai hari ini aku dan kamu tidak akan terpisahkan lagi," ucap Byakta sambil memeluk erat tubuh mungil Audrey.
Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban, apa yang dirasakan Byakta, ia juga merasakan hal yang sama. Tidak ingin berpisah lagi, tidak ingin jauh lagi, kini dia sadar bahwa ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan pada mereka untuk membenahi semua kesalahan mereka di masa lalu.
__ADS_1
"Tapi aku gerah, By! Aku pengen mandi, aku pengen sarapan," keluh Audrey manja.
Byakta sampai melupakan hal yang paling penting dari semuanya dalam menyambut hari, yaitu sarapan. Ya, awali pagimu dengan sarapan, bukan harapan. Begitu yang pernah author baca.
"Maaf sayang, ayo aku bantu mandi. Setelah itu kita pergi beli sarapan diluar." Byakta menyibak selimut dan langsung berdiri tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Hal itu membuat Audrey memalingkan wajah karena malu, walaupun mereka sudah menikah sejak lama, sungguh situasi dan pemandangan pagi ini adalah hal pertama dalam pernikahan mereka.
"Kamu duluan aja, By," ucap Audrey gugup, di dalam pikirannya terlintas awal mula kejadian tadi malam.
Audrey berpikir jika mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi bersama, tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi perihal seperti semalam.
Melihat kegugupan Audrey, Byakta langsung mengerti jika gadis itu merasa tidak nyaman dengan suasana di dalam kamar itu.
"Kenapa?" tanya Byakta pura-pura tidak paham.
"Emmm, badan aku pegel semua, kamu duluan aja, aku sebentar lagi aja." Audrey kembali beringsut dan menutup dirinya dengan selimut tebal.
Byakta langsung terbahak melihat tingkah istrinya, bukan dia tidak tahu kalau istrinya gugup, ia hanya ingin menggodanya saja.
__ADS_1
Tanpa mengurangi tawanya, Byakta berjalan menuju lemari untuk mengambil boxer miliknya lalu memakainya. Ia tidak ingin keisengannya barusan membuat Audrey semakin terlambat sarapan.