Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 51


__ADS_3

Mobil milik Byakta kembali jalan menyusuri jalanan kota Jakarta, keduanya tampak bahagia, bahkan sama sekali tidak melepas tautan tangan mereka.


Sesekali Byakta mengangkat tangan Audrey untuk ia kecup, sungguh ini bukan lagi mimpi, melainkan ini adalah kenyataan.


Ia dapat memeluk, mencium dan menatap istrinya yang nyata, bukan hanya sekedar mimpi dan bayangan semata.


Byakta membelokkan mobilnya ke jalan yang tampak asing untuk Audrey. Ya, Byakta sengaja tidak menuju kantor, sebab ia berniat menghabiskan waktu seharian ini bersama Audrey saja.


Audrey yang menyadari kalau mereka tidak menuju kantor pun mendadak jadi khawatir.


"Kita akan kemana?" tanya Audrey sedikit bingung.


"Tentu saja menghabiskan waktu, memangnya mau kemana lagi?" jawab Byakta santai.


"Tapi aku harus bekerja, nanti aku di pecat dan membayar denda kalau bolos tanpa izin,"


Byakta tersenyum mendengar kekhawatiran Audrey, wajahnya menjadi menggemaskan jika ia sedang bingung. Byakta jadi teringat saat pertama kali gadis itu menjadi istrinya, ia sengaja memecahkan gelas untuk membangunkan Audrey.


Tidak disangka aksinya itu membuat jantungnya sendiri berdebar, saat melihat wajah cantik natural Audrey yang nampak bingung dengan situasi saat itu.


"Sayang, kau lupa siapa bos di tempatmu bekerja? Sudah jangan khawatir," ujar Byakta bangga.


"Cih, sombong sekali dia," ucap Audrey pelan hampir tak terdengar.

__ADS_1


Akan tetapi ternyata byakta mendengar cibiran Audrey padanya barusan, membuatnya kembali mengulas senyum.


"Bahkan sekarang kau pun bisa ikutan sombong, sayang," ucap Byakta sambil tersenyum.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya, aku ingin semua orang di perusahaan tidak ada yang tahu tentang kita," tegas Audrey.


Bukan ia tidak suka menjadi istri bos, akan tetapi ia tidak ingin mereka banyak bertanya dan berpikir buruk tentangnya dan Byakta.


"Kenapa! Apa kau malu?" tanya Byakta serius.


Audrey menggeleng "Tidak,untuk apa aku malu? Hanya saja aku belum siap untuk menjawab pertanyaan teman-temanku dan aku juga tidak ingin mereka berpikir aneh-aneh yang tidak penting. Biarlah hanya kita saja yang tahu, itu akan lebih baik untukku dan untukmu juga,"


Byakta mengedikkan bahunya, sebenarnya ia sendiri tidak masalah orang tahu atau tidak dan akan berpikir apa tentang mereka berdua, tapi ia menghargai keputusan Audrey dan tidak ingin berdebat di hari bahagia ini.


Ia pikir menghabiskan waktu hari ini dengan berjalan-jalan keliling mol misalnya, atau nonton film di bioskop, atau pergi ke suatu tempat yang romantis, tapi Audrey salah besar, Byakta justru membawanya ke apartemen yang ia sendiri tidak tahu punya siapa dan akan apa disana.


"Aku ingin berdua denganmu seharian ini," jawab Byakta santai sambil membuka sabuk pengamannya di ikuti Audrey juga.


Setelah keluar dari mobil dan memastikan mobil sudah terkunci, Byakta meraih tangan Audrey untuk di gandeng.


Keduanya berjalan beriringan dan masuk ke dalam lift, "kesini lagi, sayang." Rapatkan Byakta tubuh keduanya, membuat Audrey gugup bukan main, akan tetapi tidak bisa menolak laki-laki di sebelahnya.


"Tanganmu dingin, Honey?" Genggam Byakta tangan istrinya.

__ADS_1


"Eh, tidak tahu! Aku rasa lebih baik kita jalan ke tempat lain saja kalau mau menghabiskan hari," ucap Audrey terbata sambil berpaling ke arah lain untuk menutupi kegugupannya.


Mendengar ucapan Audrey, membuat Byakta gemas, apalagi tingkah gugupnya yang membuat Byakta semakin ingin menjahili.


"Di luar sana, aku tidak bisa melakukan ini." Byakta langsung menyambar bibir mungil Audrey dengan bibirnya sendiri.


Membuat gadis itu tiba-tiba kaku, namun gerakan lembut dari Byakta mampu merilekskan tubuh Audrey hingga gadis itu mulai terbuat dan memejamkan mata menikmati perbuatan Byakta padanya.


Melihat Audrey terpejam Byakta semakin menjadi, laki-laki itu memegang tengkuk Audrey untuk memperdalam lumatannya, tapi itu tidak berlangsung lama sebab denting lift menghentikan aksi brutal Byakta barusan.


"Ayo kita lanjutkan di dalam." Byakta menarik tangan Audrey.


Tapi gadis itu menghentikan langkahnya mendengar ucapan Byakta yang sedikit horor.


"Aku tidak mau, aku mau pulang saja." Audrey menghempas tangan Byakta dan berniat akan pergi saat itu juga.


Melihat tingkah Audrey, membuat laki-laki itu tertawa, padahal dia hanya ingin menggoda istrinya saja.


"Hei! Kenapa tidak mau?" Teriak Byakta karena Audrey sudah akan kembali masuk ke dalam lift, lalu Byakta mengejar langkah Audrey, bisa gawat kalau dia benar-benar pergi.


"Kau menakutkan, aku tidak mau jika hanya berdua dengan mu. Aku takut terjadi hal yang kau inginkan jika aku masih disini bersama mu." Gerutu Audrey kesal.


Byakta terbahak mendengar ucapan kesal Audrey, ia semakin gemas dengannya. Meski Byakta ingin, walau bagaimana pun ia adalah laki-laki normal, tapi dia tidak akan melakukannya sebelum mendapat restu dari nenek atau pun keluarga Audrey.

__ADS_1


"Kau salah sangka, sayang. Aku tidak sehoror yang kau pikirkan, sudah ayo, ada yang ingin aku tunjukkan padamu." Byakta kembali menggenggam tangan Audrey dan mengajaknya masuk ke dalam unitnya yang memang tidak terlalu jauh dari lift berada.


__ADS_2