Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 36


__ADS_3

Hati bibi Lauren tersentak dengan ucapan kasar Audrey padanya, mendadak hatinya mencelos dan bulir bening itu luruh tanpa menunggu di perintah.


Kaget dan tidak percaya, sosok lemah lembut penuh ketulusan itu tiba-tiba menjadi berang dan ketus. Seketika bibi Lauren pun sadar, betapa beratnya jadi gadis itu, semua terjadi secara bersamaan meluluhlantakkan hati dan kehidupannya, adiknya meninggal di hari yang sama dengan bayinya yang keguguran.


Siapa yang akan sanggup dengan kondisi ini, mungkin jika itu terjadi padanya, ia tidak akan sanggup dan memilih untuk mati saja. Seketika Bibi Lauren bisa mengatur hatinya saat menyadari betapa hancurnya Audrey saat ini, ia memaklumi sikap Audrey yang tiba-tiba kasar dan ketus.


"Ah, baiklah jika kau ingin istirahat, Bibi akan menunggu di luar, panggil saja jika kau butuh sesuatu,"


Cepat-cepat bibi Lauren keluar dari ruangan itu, agar tidak terlihat air matanya yang jatuh tanpa diminta.


Sampai di luar Bibi Lauren langsung menangis sejadi-jadinya, ia sedih, ia juga ikut terluka melihat kondisi Audrey yang mungkin terganggu psikisnya akibat dari semua tekanan di hidupnya.


Byakta yang sudah menebak yang terjadi di dalam segera menghampiri Bibi Lauren dan memeluk wanita tua itu, ia merasa bersalah saat ini.

__ADS_1


"Tenangkan diri bibi, dia hanya sedang marah, lebih baik kita mengalah saja dulu. Bibi bilang dia gadis yang baik dan lembutkan? Percayalah, ini tidak akan berlangsung lama." Usap Byakta punggung Bibi Lauren yang bergetar akibat menangis.


Ia hanya diam saat mendengar Byakta berbicara untuk menenangkannya dan sesekali menyedot ingusnya.


Lama Bibi Lauren menumpahkan kesedihannya, ia tak tahu akan menyalahkan siapa, karena ia juga sadar ini tidak luput dari kesalahannya juga.


Setelah merasa lega, bibi Lauren kembali ke dalam, wanita tua itu memaksa untuk kembali meski Byakta melarangnya.


Laki-laki itu takut jika nanti Audrey semakin tak terkendali dan malah berbuat kasar kepada bibi Lauren, karena kondisinya saat ini sedang dalam kemurkaan yang besar.


Tanpa basa-basi ia langsung menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah sakit, tidak lain untuk menyerahkan hasil tes DNA yang mereka lakukan terhadap bayi yang dikandung Melisa.


"Kau baca ini," ucap tegas Bastian, hatinya bergemuruh setelah mengetahui hasil tes DNA tersebut.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Byakta menerima map yang di sodorkan Bastian.


Ia langsung membuka map tersebut, mengeluarkan isinya dan langsung membacanya, air mukanya tampak berubah-ubah saat membaca kata demi kata yang tertulis di dalam kertas tersebut.


"Jadi, dia benar mengandung anakku? Bagaimana bisa? Kami bercerai sudah sangat lama, ini pasti rekayasa!" Byakta memijat keningnya tidak percaya akan hasil tes DNA itu.


Di kertas itu menyatakan jika dari keseluruhan pemeriksaan sembilan puluh sembilan persen genetik janin itu sama dengan genetik Byakta.


"Aku tidak percaya ini, Roland pasti salah, hubungi dia sekarang juga dan suruh dia datang kesini, kalau tidak mau, katakan padanya aku akan menghancurkan hidupnya," titah Byakta, ia kembali memijat keningnya frustasi.


Bagaimana ini bisa terjadi, jelas-jelas Melisa pergi dalam keadaan tidak sedang mengisi, walaupun ia hamil setelahnya, harusnya kandungannya tidak seumur itu.


Namun sekali lagi fakta menyatakan jika janin itu memang anak dari Byakta di lihat dari kertas yang sedang diremas itu.

__ADS_1


Bastian pun menghubungi Roland untuk menyampaikan pesan dari Byakta dan membuat janji bertemu nanti malam. Roland mengiyakan tanpa bertanya alasannya apa sampai meminta bertemu, sebab mereka sudah biasa menghabiskan waktu bersama walau hanya untuk minum satu cangkir kopi.


__ADS_2