Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 73


__ADS_3

Di apartemen Byakta, Bibi Lauren masih saja menggerutu sebab tempat tinggal Byakta sangatlah sempit, bahkan hanya ada satu kamar di dalam apartemen tersebut.


"Buang saja uangmu, jika membeli tempat luas saja kau tidak bisa," cibir Bibi Lauren.


Byakta hanya bisa menghela nafas pasrah, biarkan saja Bibi Lauren mengomel sesuka hatinya, dia tidak akan lagi menjawab atau pun membantah wanita tua itu.


"Bi, terserah mau mengomel atau ingin menarik telingaku lagi, tapi bantu aku kali ini saja," ucap Byakta memasang wajah memelas.


Bibi Lauren mendengus mendengar ucapan Byakta "Memangnya sejak kapan kau melakukan apa pun sendiri, kau bahkan selalu merepotkan Bastian dan Melisa, sekarang kau bilang bantu aku sekali ini saja. Cih! Kau menyebalkan, setelah menyuruh orang tua seperti ku berangkat mendadak, sekarang kau seolah-olah sudah mandiri sejak dulu, ku pukul kepalamu baru kau tau rasanya," ujar Bibi Lauren panjang kali lebar, membuat Byakta meringis membayangkan memang dia selalu menjadi orang yang merepotkan.


Byakta mendekat untuk menjelaskan semuanya pada bibi Lauren, namun bibi Lauren sudah memasak wajah tidak bersahabat pada Byakta.

__ADS_1


"Stop, aku capek, kau bahkan tidak menawarkan wanita tua ini minuman atau istirahat," cegah bibi Lauren Byakta yang sudah akan mendekat.


"Oh, ****! Bibi ayolah, neneknya Audrey tidak merestuiku dengannya, dia mengusirku kemarin saat akan menjelaskan semuanya," Byakta frustasi menghadapi Bibi Lauren yang masih kesal padanya.


Melihat wajah frustasi Byakta, bukanya membuat bibi Lauren iba, wanita paruh baya itu malah terbahak-bahak.


"Neneknya Audrey boleh juga, dia sudah melakukan hal benar jika tidak merestui mu." Bibi Lauren semakin terbahak melihat wajah Byakta yang berubah-ubah ekspresinya.


"Aku akan membantumu untuk meyakinkan keluarganya, jangan khawatir, itu hanya kemarahan orang tua, sebentar lagi dia akan menerima dan memaafkan, beri keluarganya waktu untuk berpikir, lagi pula tidak mungkin Audrey akan diam saja dalam situasi ini," ujar Melisa ikut bergabung dengan keduanya di ruang tamu.


"Kalau aku tidak akan lagi mau membantunya, biarkan si tua Bangka ini berjuang sendirian, sepertinya aku harus mengundang nenek Audrey untuk minum kopi bersama, aku akan katakan padanya persulit saja atau bahkan tidak usah di restui." Lagi-lagi Bibi Lauren terbahak melihat ekspresi Byakta yang menyedihkan.

__ADS_1


"Kau sangat jahat! Tidak akan ku larang kau minum kopi, lalu jika kau sakit aku akan mengirimmu kembali ke Milan, agar kau tidak bisa melihat resepsiku nanti." Byakta menyeringai.


Lalu berpura-pura melakukan panggilan pada Bastian "Halo, Bas. Bekukan semua ATM wanita tua ini, jangan beri dia uang apa pun, sebelum dia bersedia membantuku," ucap Byakta pura-pura di panggilan telepon.


"Hai! Apa yang kau lakukan, baiklah … baiklah! Kau menyebalkan." Bibi Lauren bersungut-sungut.


Kini Byakta yang malah terbahak melihat Bibi Lauren yang panik mendengar ATM nya akan di bekukan.


"Kau sudah berjanji dan tidak boleh ingkar, besok aku akan membawa Bibi ke rumah nenek Audrey," ucap Byakta sambil berdiri dan pergi meninggalkan dua wanita beda generasi itu.


Ia merasa tidak enak jika harus berada di apartemennya sebab ada Melisa disana, bagaimanapun mereka sempat pernah bersama meski tidak menyimpan kenangan apapun.

__ADS_1


Byakta berniat mencari apartemen lain untuknya dan Bastian nanti jika laki-laki itu sudah kembali. Byakta teringat akan Audrey, tidak tahu kabar kekasihnya itu bagaimana saat ini, sebab sejak ia pergi dari rumah neneknya Audrey, Byakta sama sekali tidak menghubungi Audrey walau hanya sekedar memberi kabar, hal itu membuatnya tiba-tiba rindu.


__ADS_2