Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 82


__ADS_3

"Ada apa ini, Joe? Siapa mereka? Apa kau punya urusan yang belum selesai dengan orang lain?" Bastian ikut berakting mengikuti permainan Joe.


"Tidak, Tuan! Justru mereka mencari Tuan, apa anda mengenal mereka?"


Bastian menggelengkan kepalanya, kali ini ia tidak berbohong. Memang dia sama sekali tidak mengenal satu pun di antara mereka. Ia hanya tahu mereka adalah orang-orang yang menyekap Rania di villa tadi.


"Ada apa Tuan-tuan mencari saya?" tanya Bastian tegas, begitu juga sorot matanya yang melampirkan ketidaknyamanannya.


"Kau yang datang ke villa kami tadi, apa kau tahu dimana gadis yang bersama kami?" Salah satu dari mereka mewakili semuanya untuk bertanya.


"Gadis? Hah! Kalian selalu menuduhku membawa gadis yang tidak tahu seperti apa orangnya, lagi-lagi kalian membuatku merasa tidak nyaman," ucap Bastian datar, tatapannya tajam menghujam lawannya.


Membuat orang-orang yang mencari Rania merinding, "Tapi, hanya anda dan kami yang menginap di villa itu, bisa saja dia meminta tolong pada kalian untuk membawanya lari,"


Bastian memutar bola matanya jengah. "Seharusnya ini sudah diluar batas kesabaran ku, kalian terus menuduh dan mencurigai aku. Aku tidak akan membiarkan kalian sesuka hati melakukan apa yang kalian mau. Kalian tidak tahu siapa kau, Joe habisi mereka, buang mayatnya ke jurang. Setelah itu, kita pergi."


Bastian menegaskan setiap kalimatnya bahwa ia tidak ingin di batah dengan alasan apapun.


"Aku tunggu setengah jam, selesaikan semuanya," timpal Bastian lagi.

__ADS_1


Padahal Bastian hanya memberi ancaman saja, dia tidak sekejam itu untuk menghabisi orang lain.


Jika Bastian hanya berakting, berbeda dengan para pengganggu itu, mereka menciut saat itu juga. Ketika melihat beberapa orang turun dari mobil yang berhenti di belakang mobil milik Bastian.


Mereka sudah bersiap dengan pistolnya masing-masing, tatapan tajam yang membidik mangsanya, terlihat buas dan menakutkan.


Sementara di dalam mobil Bastian dan Rania melihat wajah-wajah pias itu penuh kemenangan.


Pada saat Joe dan segenap anak buahnya ingin memberi serangan kepada orang-orang yang menghadang mereka, tiba-tiba satu unit mobil mendekat dan mengerem mendadak.


Pintu mobil terbuka, lalu turun seseorang yang sangat Rania kenali, yang tidak lain adalah ayah tirinya itu. Mata Rania membelalak, tubuhnya bergetar ketakutan, tangannya yang tadi di genggam Bastian kini malah berbalik menjadi Rania yang menggenggam lebih erat lagi, seolah-olah ia ingin menahan rasa takutnya sendirian.


Namun, Rania sama sekali tidak merespon ucapan Bastian, tubuhnya semakin terasa bergetar hebat, ingin rasanya ia menjerit. Namun, dia masih sadar, jika dia menjerit semuanya akan berantakan.


Oleh sebab itu dia menahan semuanya, meski tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran.


"Hei! Kau kenapa?" tanya Bastian yang sedikit panik melihat keadaan Rania yang menjadi-jadi setelah melihat ayah tirinya.


Mendengar suara Bastian yang mengagetkannya, membuat Rania refleks berbalik dan memeluk Bastian erat.

__ADS_1


"Aku takut, aku takut," ucapnya lirih di dada Bastian.


Bastian yang masih tidak mengerti akan perubahan Rania barusan, hanya bisa membiarkan gadis itu memeluknya erat sekali.


"Tenanglah, aku akan bersamamu, percayalah kau akan baik-baik saja." Tangan Bastian terangkat untuk mengusap punggung Rania.


Bastian merasakan dadanya hangat dan basah, akibat terkena air mata Rania, "Dia ingin melecehkan ku, aku takut, aku takut." Rania semakin terisak tak karuan.


Entah kenapa mendengar ucapan Rania, hati Bastian meradang, ada yang memburu di hatinya. Bastian memegang lengan Rania lalu menjarakkan tubuh keduanya.


Dapat ia lihat wajah Rania yang kuyu penuh ketakutan, hatinya sakit melihat gadis di hadapannya ini, mengapa hidupnya bisa semalang ini.


"Apa kau bilang? Dia ingin melecehkan mu?" tanya Bastian penuh emosi.


Melihat rania yang mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyaan Bastian, membuatnya semakin meradang, sungguh tidak bisa disebut manusia orang seperti itu.


Bastian mengambil ponselnya, lalu melakukan panggilan kepada Joe yang tampak masih bersitegang kepada ayah tiri Rania dan juga anak buahnya.


"Habisi mereka semua, terutama laki-laki yang memakai kemeja putih. Ini bukan bagian dari rencana, tapi ini perintah dari Bastian Arsena," Bastian sengaja menekankan kata perintah agar Joe langsung paham tanpa harus bertanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2