
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun sepasang anak manusia yang sedang kasmaran masih betah di posisinya, saling memeluk di atas sofa apartemen milik Byakta.
Ditambah dengan pemandangan malam kota Jakarta yang terpampang jelas di hadapan keduanya lewat dinding kaca apartemen Byakta, lampu-lampu gedung pencakar langit menambah keindahan malam untuk keduanya.
Seperti tidak ingin berpisah lagi, Byakta terus memeluk erat tubuh mungil Audrey, sambil sesekali mengecup kepala belakang gadis itu, juga terkadang menghidu ceruk leher yang membuatnya candu.
"Sudah pukul delapan, kau tidak ingin mengantarku pulang?" tanya Audrey pada Byakta yang masih sibuk di ceruk lehernya.
"Tidak,"
"Nenek akan marah padaku jika aku pulang terlambat," jelas Audrey.
Sebenarnya pun ia tidak ingin pulang, meski tidak melakukan apapun selain berpelukan melihat indahnya kota Jakarta, tapi ini adalah posisi paling nyaman yang pernah ia rasakan.
Meski kadang risih dengan sikap jail Byakta, tapi ia menikmati hari ini dengan bahagia yang membuncah.
"Biarkan saja, kau kan istriku," sahut Byakta acuh.
"Istri yang kau biarkan pergi selama setahun?" Cibir Audrey sambil menyeringai.
"Sayang, jangan bahas lagi, atau aku akan menggigit telingamu," ancam Byakta.
"Gigit saja kalau kau berani," tantang Audrey tanpa sadar kalau hal itu memancing sisi normal Byakta yang sudah susah payah ia kendalikan sejak tadi.
Bukannya menggigit telinga Audrey, laki-laki itu malah mengeratkan pelukannya, lalu membuat gerakan sensual pada telinga Audrey, membuat gadis itu terkesiap dan lama-kelamaan gerakan itu menimbulkan glanyar hasrat yang pernah ia rasakan dulu.
Tubuh gadis itu meronta minta dilepaskan, tapi tubuh dan bibirnya sama sekali tidak sejalan, tubuhnya meronta tapi bibirnya melenguh mengeluarkan suara indah yang membuat Byakta lupa kalau dia tadi hanya ingin mengerjai Audrey.
Gerakannya kini turun ke leher mulus Audrey, membuat gadis itu semakin menjadi, ia tidak lagi meronta, malah menerima semua sentuhan-sentuhan yang diberikan Byakta padanya, tanpa sadar kini Audrey sudah terbaring dengan Byakta di atasnya.
Bahkan dua kancing kemeja yang digunakan Audrey pun sudah terbuka, memperlihatkan dada mulus dan sedikit bagian dari aset indah Audrey.
__ADS_1
Byakta tak berhenti, ia semakin bersemangat saat suara indah milik Audrey terus menggema di ruangan itu, namun otak waras Byakta menghentikan semuanya.
"Aku akan mengantarmu pulang, sayang. Bahaya jika kau terus disini." Byakta mengangkat tubuhnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Audrey yang sudah setengah melayang atas perbuatan Byakta padanya, ada sedikit rasa kecewa di hatinya, tapi segera ia tepis begitu saja, karena tidak mungkin mereka akan melakukannya sekarang.
Ia pun segera merapikan kancing kemejanya dan juga rambutnya, lalu ia bangkit mengambil tasnya.
Byakta keluar dari kamar mandi, wajahnya sudah lebih segar, ia mengulas senyum saat melihat Audrey sudah siap akan pergi, tapi mukanya sedikit ditekuk.
"Kau kecewa, Honey?"
"Tidak! Untuk apa aku kecewa?" jawabnya cepat sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Byakta tertawa "benarkah kau tidak kecewa? Tapi wajahmu mengatakan begitu," ejek Byakta istrinya.
"Kau menyebalkan, aku ingin pulang sekarang juga!" Audrey bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar Byakta.
"Iya, iya kita pulang, sini peluk dulu." Byakta langsung memeluk tubuh mungil itu.
"Kau menyebalkan," ucap Audrey yang sudah berada dalam pelukan Byakta.
"Secepat mungkin aku akan memintamu kembali pada keluarga mu, supaya aku bisa memelukmu sepanjang hari tanpa harus mengantarmu pulang,"
Audrey langsung menjarakkan tubuhnya "Memelukku sepanjang hari? Kau pikir aku tidak punya perut! Sekarang saja aku lapar karena kau tidak pelepasku sejak datang ke tempat ini, kau mau membunuhku dengan nama cinta dan kerinduan? Kau memang menyebalkan Byakta Arsena," sungut Audrey.
Hilang sudah suasana romantis yang tercipta barusan. "Astaga, sayang aku lupa, maafkan aku, baiklah kita pergi makan sebelum mengantarmu pulang." Masih sempat Byakta mencuri satu kecupan di bibir Audrey sebelum mengambil kunci mobil dan juga dompetnya.
"Nenek tidak akan merestuimu, kalau dia tahu kau membuat cucunya kelaparan,"
"Tidak akan terjadi,"
__ADS_1
"Pasti terjadi,"
"Tidak akan kalau kau tidak memberitahunya,"
"Dan akan ku beri tahu,"
"Kau jahat sekali,"
"Kau lebih jahat, membiarkanku kelaparan,"
"Tapi aku tidak sengaja,"
"Kau sengaja,"
"Tidak, sayang,"
"Aku tidak percaya padamu,"
Dan perdebatan terus berlangsung sampai keduanya berada didalam lift, seperti anak kecil keduanya terus berdebat tiada henti.
"Kau harus percaya,"
"Tidak akan, kau mau membunuhku,"
"Hei, tidak mungkin aku membunuhmu, jangan berkata lagi, atau aku—," belum selesai Byakta bicara, Audrey sudah menyatukan bibirnya pada Byakta lalu melepasnya cepat bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Audrey langsung lari begitu saja meninggalkan Byakta yang masih mematung karena aksi cepat Audrey padanya.
Ia tidak menyangka Audrey berani melakukan itu padanya, padahal sejak mereka baikan, Byakta lah yang selalu menyerang duluan.
"Kau terlalu banyak bicara Tuan Arsena," ucap Audrey sambil berlari.
__ADS_1