Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 78


__ADS_3

"Lalu untuk apa kita disini kalau tidak berbuat sesuatu? Kita tidak tahu apa yang mereka lakukan pada gadis itu di dalam sana," celetuk Joe sambil melihat perubahan air muka Bastian.


Joe menyeringai saat melihat ternyata Bastian semakin gusar saja, setelah mendengar celetukannya barusan.


"Diamlah kalian di sini, aku akan melihat kondisi di luar," titah Bastian sambil melangkah ke arah pintu.


Namun langkahnya terhenti saat mendengar sebuah ketukan dari jendela samping villa. Tidak hanya Bastian yang mendengarnya, Joe dan beberapa anak buahnya pun ikut menoleh ke arah suara.


Tepat di jendela samping villa terlihat sesosok wanita mengetuk-ngetuk kaca jendela tersebut, sambil memanggil nama seseorang dengan berbisik.


"Om Bas … Om Bas …. Cepat buka jendelanya, aku tahu Om Bas di dalam, tolongin aku lagi, Om!"


Semua orang yang berada di ruang tamu tersebut saling pandang satu sama lain, namun Bastian segera paham siapa yang sedang berada di balik jendela itu.


Langkahnya lebar menuju jendela, dengan jantung yang berdebar kencang. Setelah sampai di dekat jendela, Bastian langsung menyibak gorden dan benar dugaannya, itu Rania, gadis yang akan dia tolong.


"Kau?"


Rania sempat tersenyum saat melihat Bastian menyibak kain gorden tersebut "Om, cepetan buka, nanti aku ketahuan!" pinta gadis itu memelas.

__ADS_1


Bastian tidak menunggu lagi langsung membuka jendela tersebut dan membantu Rania masuk perlahan ke dalam.


Setelah melewati jendela itu, refleks Rania langsung memeluk Bastian, begitu juga Bastian yang memang sudah khawatir sejak kemarin, tanpa sadar membalas pelukan Rania tidak kalah erat.


Keduanya berpelukan seperti satu pasang kekasih yang sudah terpisah lama, tampak Bastian menarik nafas lega saat tahu ternyata gadis yang ia khawatirkan itu baik-baik saja.


"Tuan, dia siapa?" satu pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Joe.


Membuat kesadaran Bastian kembali pada titik saraf yang semestinya, seketika itu juga ia menyadari sudah melakukan kesalahan besar.


Bastian langsung menjarakkan tubuhnya dari Rania, membuat eratan kedua tangan Rania terlepas begitu saja.


Bastian dan Rania menjadi salah tingkah, namun gadis itu dengan cepat menguasai itu semua, ia mengalihkan suasana canggung itu.


"Ah, maafkan saya Om Om semuanya, Saya kira nggak ada orang." Rania menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam Bastian padanya.


Masih dengan tangan yang menutup mulutnya, mata Rania mengamati satu persatu orang yang ada di ruangan itu.


*Mati gue, sebenarnya siapa Om Bas, ini? Kok, mereka semua kelihatan kayak mafia-mafia yang ada di koleksi film action gue, sih!* Gumam Rania dalam hati.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa sampai kesini?" tanya Bastian tegas, sangat bertolak belakang dengan dia yang tadi memeluk Rania penuh kekhawatiran.


Joe mengulas senyum tipis di bibirnya, ia melihat Bastian sangat gugup saat ini, ini adalah fenomena langkah kedua yang ia lihat dari Bastian, yaitu gugup.


Padahal selama ini, dia selalu tampil sempurna di belakang Byakta dengan wajah tampan tapi dingin.


Joe beralih melihat Rania, ia tidak menyangka sama sekali, bahwa gadis yang sudah mengalihkan perhatian Bastian hanyalah gadis manis yang imut bertubuh mungil.


"Aku lari! Tadinya mereka mengikatku, tapi aku bisa lepas dan lari kesini," jelas Rania jujur.


"Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?" pertanyaan lanjutan dilontarkan Bastian lagi.


"Tadi aku mendengar suara Om Bastian, waktu masih di ikat. Aku berusaha lepas dan melarikan diri, tapi aku nggak tahu mau lari kemana, karena semua villa tampak gelap, kecuali hanya villa ini yang terang, ya, sudah aku kesini. Ternyata feeling ku benar, Om Bastian ada disini," jelas Rania panjang kali lebar.


Setelah mendengar semua penjelasan Rania, Bastian beralih kepada Joe, ingin meminta pendapat akan melakukan apa malam ini.


Karena sudah pasti sekarang orang-orang yang menyekap Rania sedang mencari gadis itu.


"Joe, dia tidak bisa disini malam ini, dia harus segera pergi," ujar Bastian sedikit gusar.

__ADS_1


Mendengar ucapan Bastian, Joe sudah tahu dia harus melakukan apa saat ini. Joe memberi isyarat pada salah satu anak buahnya untuk mengambil travel bag miliknya, untuk memberikan Rania sesuatu.


__ADS_2