Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 48


__ADS_3

Pagi datang seperti biasa, tapi menjadi tidak biasa untuk Audrey, gadis itu tampak menyibak malas selimut tebalnya, berkali-kali bibir mungilnya berdecak jika mengingat kejadian kemarin.


"Aku ingin berhenti kerja, tapi terikat kontrak sialan itu," Audrey mendesah.


Ia tahu, itu pasti akal-akalan Byakta untuk menjebaknya lagi. Audrey menggeleng, tidak mungkin, kalau memang seperti itu, kenapa semua orang juga sama.


"Ah, entahlah! Aku ingin mencekik lehernya, seenaknya saja dia memelukku, cih!" Audrey memukul-mukul bantalnya sambil membayangkan itu Byakta.


Masih dengan pikirannya yang pusing memikirkan Byakta yang datang tiba-tiba, terdengar nenek berteriak memanggilnya untuk segera keluar.


Audrey mengernyit heran, sebab tak biasanya nenek menyuruhnya untuk cepat, apalagi sampai berteriak memanggilnya untuk segera selesai.


Tidak ingin membuat nenek kesal, Audrey segera bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Setelah mandi ia pun bersiap dengan seragam kerjanya, yaitu seragam kebersihan. Tidak berdandan, gadis itu hanya menyempol rambutnya dan mengoleskan liptin pada bibirnya agar lebih terlihat segar.


Buru-buru menyambar tasnya, Audrey segera keluar kamar dan agak sedikit berlari menuruni anak tangga.


Ketika sampai di tangga terakhir Audrey memberhentikan langkahnya menatap nyalang sosok yang tengah duduk bersama neneknya.


"Ah, itu dia. Audrey sini, ini bos kamu datang ingin bertanya sesuatu padamu, katanya ada barang yang hilang di ruangannya, barangkali kau melihatnya," jelas nenek pada Audrey yang sudah memandang Byakta sengit.

__ADS_1


"Eh, iya nek. Kalau begitu aku pergi dulu, ya, Nek." Salim Audrey tangan nenek yang sudah keriput termakan usia.


"Kenapa buru-buru, sarapan saja dulu," ucapan nenek seketika membuat Audrey memberhentikan langkanya.


Byakta tersenyum penuh kemenangan, ternyata mudah sekali untuk membuatmu melihatku lagi, aku akan lakukan cara apapun, yang penting kamu jadi milikku.


"Yaaah, sayang sekali, Nek. Soalnya pak Byakta ada meeting sebentar lagi, Nek,"


"Waah benarkah, Nak? Baiklah, segera pergi jangan sampai terlambat,"


"Iya, sebentar lagi ada meeting, jadi saya mohon pamit, ya, Nek," ucap Byakta dengan logat bulenya.


Byakta bisa sedikit berbahasa Indonesia, meski tidak terlalu fasih, tapi dia bisa mengerti apa yang orang katakan padanya.


Gadis itu akan segera mengayuh sepedanya, namun suara baritone itu menghentikannya.


"Kenapa tidak sekalian ikut dengan mobil saya saja, Nona?"


Audrey memutar matanya jengah, ingin sekali ia melempar wajah sok polos laki-laki itu dengan pot bunga kesayangan neneknya, janda bolong.


Audrey berbalik badan dengan senyum terpaksa dibuat-buat karena ada nenek yang mengamati sambil tersenyum. Ada harapan di hatinya jika Audrey bisa mendapatkan orang baik setelah semua penderitaan yang dialaminya dulu.

__ADS_1


"Bukannya saya tidak sopan menolak, tapi pulangnya nanti saya akan naik apa kalau sekarang saya ikut dengan anda, Pak?" jelas Audrey sambil tersenyum tapi matanya menyorotkan ketidaksukaannya.


"Kenapa khawatir, sayang. Bos kamu akan antarkan kamu lagi nanti setelah pulang, iya, kan, Pak?" sambung nenek.


Audrey tercengang mendengar ucapan nenek, baru kali ini nenek memberinya izin untuk pergi bersama laki-laki, setelah beberapa laki-laki ia usir terang-terangan karena ia tidak suka Audrey didekati laki-laki.


Mendapati anggukan dari Byakta, nenek semakin antusias, semoga dengan begini Audrey bisa dekat dengan bosnya itu, karena nenek melihat ada tatapan berbeda dari Byakta saat melihat cucunya, terpancar ketulusan itu.


Sedangkan Audrey mengepalkan tangannya saat ia melihat Byakta setuju dengan ucapan nenek.


'kalau saja nenek tahu siapa dia, nenek pasti akan membuatnya babak belur sebelum dia keluar dari gerbang rumah' batin Audrey kesal.


Ingin sekali ia memberitahu siapa laki-laki ini, biar saja dipukuli nenek pakai sapu, biar tahu rasa dia.


__________________________


yang bingung sama anak Byakta yang di kandung Melisa mungkin nggak fokus bacanya, padahal udah saya jelaskan kalau Roland menanam ****** Byakta ke Melisa, itu hanya anak biologis Byakta saja karena tidak ada pernikahan kedua antara Byakta dan Melisa.


Soal Melisa nikah sama Bastian, maaf, saya nggak pernah bilang Melisa sama Bastian something πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† karena gk gitu konsepnya, dan kenapa Melisa bisa berada di keluarga Byakta, akan saya jelaskan di bab selanjutnya nanti, sekarang kita fokus ke si tua bucin ngejar cintanya dulu.


jadi jangan kemana-mana ya geeesssss ikutin terus next babnya RAHIM LIMA MILIAR

__ADS_1


soal kemarin saya nggak up beberapa hari, karena saya lagi ngadain acara tasyakuran anak kedua saya.


terima kasih untuk kalian yang selalu setia menanti upnya Rahim Lima Miliar, love sekebon sawit untuk Kalian 😘😘😘


__ADS_2