Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 47


__ADS_3

Audrey meninggalkan ruangan tempatnya bertemu Byakta tadi, dengan masih menangis, banyak dari rekannya yang bertanya dia kenapa, Audrey tidak menjawab satupun pertanyaan mereka, ia langsung ke loker tempatnya menaruh tas dan barangnya, lalu ia bergegas pergi dengan sepeda kesayangannya.


kenapa? Kenapa dia harus datang dan kembali mengingatkan sakit itu, di saat aku sudah berusaha bangkit dan berdamai dengan segalanya.


Tidakkah dia tahu aku berusaha melupakan semua demi kebahagiaannya yang tidak pernah merasakan memiliki keluarga selain bibinya.


Pergilah, mungkin kita ditakdirkan tidak akan bersama, aku sudah menutup semuanya, menahan diri dan mencegah semua rasa yang aku miliki, aku tidak lagi menginginkan itu semua, rasa yang baru tumbuh itu sudah mati bersama dua nyawa itu.


Audrey terus mengayuh sepedanya, air matanya sama sekali tidak menyurut, dalam sekejap semua berubah seakan masa lalu kembali datang.


Di kantor Byakta tampak termenung, ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan semuanya.


Ia mengingat kembali kata-kata Audrey yang salah paham dengan keadaan setelah dia pergi.


"Kau brengsek! Tidakkah kau berpikir bagaimana perasaan Melisa saat kau pergi ke sini? Tidakkah kau berpikir saat kau menemuiku dan meminta kembali sedangkan ada hati lain yang ingin bersama mu?"


"Aku bisa jelaskan, banyak yang sudah terjadi dalam setahun ini, semua tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Byakta sendu, mencoba menjelaskan semuanya.


"Kau pasti berpikir dia akan baik-baik saja, karena dia tau kau tidak bisa menerimanya?" Audrey menyeringai.


"Kau memang tidak pernah tau bagaimana perasaan orang lain, kau terlalu larut dalam kekelaman masa lalumu, hingga menganggap semua orang sama seperti ibumu." Audrey mengusap air matanya lalu bergegas pergi setelah Byakta membuka kembali pintu itu dengan remote di sakunya.

__ADS_1


"Pulanglah ke negaramu, lepaskan aku, lupakan aku, bahagialah bersamanya, anggap kita tidak pernah bertemu." Audrey berlalu dan pintu tertutup kembali meninggalkan Byakta yang dia tercenung.


"****! Dia bahkan tidak memberiku kesempatan, wanita siapa yang dia maksud? Malisa?"


Byakta mendesah mengingat Melisa yang pernah mengandung anak biologisnya, Audrey pasti sudah menyangka kalau Byakta menikahi wanita itu.


"Sialan! Susah payah aku mengupayakan agar kau bisa mengikatnya sebelum mendapatkannya kembali, tapi kau malah merusak semua rencana kita." Umpat Bastian bosnya.


"Aku tidak tahan melihatnya, makanya jatuh cinta biar kau tahu rasanya," cibir Byakta mengejek sisi jomblo asistennya.


Padahal dia sendiri juga belum tahu nasibnya akan seperti apa, sedangkan Audrey menghindarinya sekarang.


Di saat keduanya masih saling mengumpat, tiba-tiba ponsel milik Bastian berdering, menampilkan nama Melisa di layarnya.


"Kau serius mengajakku dan Raihan berlibur?"


"Iya aku berangkat besok, aku tunggu di bandara saja, ajak bibi ikut serta, wanita tua itu butuh liburan juga sepertinya,"


"Iya, akan aku katakan pada bibi, nanti. Bagaimana kabar disana? Aku dengar dari bibi kalian sudah menemukan Audrey," antusias Melisa.


"Ya, kami sudah menemukannya. Tapi, si tua bucin itu merusak semuanya,"

__ADS_1


Melisa tertawa mendengar umpatan Bastian, seperti biasa mereka selalu begitu jika tidak menyangkut urusan pekerjaan.


"Persiapkan semuanya, aku akan berangkat malam ini," tegas Bastian masih pada sambungan teleponnya.


"Hei, kau bercanda, Bas! Bagaimana si tua bucin itu kalau kau tinggal," kelakar Melisa.


"Sialan, kalian menceritakan diriku di depan orangnya," umpat Byakta kesal.


"Biarkan saja dia berjuang sendiri, aku sudah lelah, dia yang memberiku tiket liburan. Jadi, bukan salahku kalau aku meninggalkannya," seringai Bastian mengejek pada Byakta yang menatap jengah.


"Ya, baiklah. Aku akan packing malam ini, sudah, ya, sampaikan salamku pada gadis itu, By." ucap Melisa pada Byakta dan Akhiri Melisa panggilan teleponnya.


Byakta berdecak dalam hati. Bagaimana aku akan menyampaikan salamnya, kalau belum apa-apa saja dia sudah salah paham denganmu.


Byakta membayangkan nasibnya besok, tidak tahu akan bagaimana dia memperjuangkan cintanya. Ia melirik pada Bastian, ingin meminta sesuatu, namun urungkan karena takut Bastian akan terus meremehkannya.


Sudah cukup waktu satu tahun dia menjadi pengecut yang hanya melamun dan menangisi kepergian cintanya.


"Ck, kalian sangat tidak setia kawan, kalian akan bersenang-senang sedangkan aku berjuang sendirian." Ia menatap jengah Bastian yang mulai bangkit dan menyeringai.


"Kupikir aku berhak mendapatkan tiket penyegaran otak setelah bekerja keras dan kau kacaukan begitu saja," kekeh Bastian syarat akan ejekan.

__ADS_1


"Selamat berjuang, Man." Tepuk Bastian pindah Byakta yang ditepis langsung oleh empunya.


Bastian melangkah keluar dari ruangan seraya bersiul-siul dan sedikit berdendang tidak jelas, meninggalkan Byakta yang mengumpat galau.


__ADS_2