Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 30


__ADS_3

Setelah kegiatan panas itu, Audrey duduk di tempat tidur sudah memakai pakaiannya, ia sedang mengutuk dirinya sendiri yang terlihat menikmati permainan itu.


"Bisa-bisanya aku mengeluarkan suara menjijikkan itu." Ia memukul kepala, malu pada dirinya sendiri.


Sedangkan Byakta masih didalam kamar mandi membersihkan diri, tak henti bibirnya mengukir senyuman di bawah guyuran air shower.


Wajah Audrey yang kebingungan, wajah yang panik dan wajah polos itu seperti daya tarik untuk Byakta merasa terhibur.


Dadanya berdebar setiap kali melihat wajah itu, terkadang panik dan ketakutan, terkadang kebingungan, dan yang paling sering ia lihat adalah wajah polos yang membuat dadanya berdebar setiap kali melihatnya.


Ia menyudahi mandinya dan menyambar handuk, ia berencana ingin mengajak gadis itu keluar rumah. Ia membaca di sebuah artikel bahwa ibu hamil harus bahagia, agar anak yang dikandung juga ikut bahagia.


Saat keluar dari kamar mandi, ia tidak melihat Audrey di kamar, akan tetapi bajunya sudah disiapkan oleh gadis itu di tempat tidur.


Ia yang tadinya membuat peraturan di dalam surat perjanjian itu, bahwa Audrey tidak boleh melayaninya, kini merasa senang saat Audrey berinisiatif menyiapkan baju untuknya.


Yang membuatnya semakin senang adalah warna dan model baju yang dipilih Audrey sesuai dengan seleranya.


"Apa sekarang aku sudah terlihat seperti suami?" Ia tersenyum sendiri mendengar ucapannya sendiri.


Saat baju selesai mengenakan baju pilihan Audrey, ponselnya berbunyi. Ia segera melihat siapa yang menghubunginya di saat ia sedang tidak masuk kantor.


Bastian is calling …..

__ADS_1


Byakta mengerutkan kening saat melihat Bastian menghubunginya, pasti ada hal penting sehingga ia menghubunginya.


Karena Bastian sangat tahu kebiasaan Byakta yang tidak ingin diganggu saat libur, kecuali kalau ada hal yang mendesak atau penting.


"Ada apa?" tanya Byakta tanpa basa-basi.


"Baiklah, aku tunggu dirumah," sahutnya lagi setelah mendengarkan Bastian bicara di seberang telepon.


Lalu ia menutup panggilan saat mendengar pintu kamar terbuka dan mendapati Audrey yang sudah berlinang air mata.


"Tuan, adik saya sedang kritis, apa saya boleh pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya?" tanya Audrey, ia berharap Byakta mengizinkannya pergi.


Byakta memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup melihat air mata Audrey yang mengalir, ia masih gengsi untuk menunjukkan perasaannya pada gadis itu.


Sekuat tenaga ia menekan hatinya agar tidak iba dengan tangisan gadis itu, i segera mengambil jaketnya dan bergegas untuk pergi ke rumah sakit.


Sedangkan Audrey yang merasa kecewa karena tidak mendapatkan izin dari suaminya pun tak berhenti menangis.


Ia sangat khawatir dengan kondisi adiknya, ia ingin ada disana untuk menguatkannya agar bisa bertahan sekali lagi untuk sembuh.


"Aku dan Bastian yang akan pergi melihat keadaannya," timpal Byakta lagi, ia menyambar dompet dan kunci mobilnya lalu ia segera pergi.


Saat sampai di pintu, sebelum menutupnya, Byakta berbalik "semua akan baik-baik saja, kau bisa berdo'a untuk adikmu, itu lebih baik dari pada kau pergi dan membahayakan kandungan mu,"

__ADS_1


'dan juga dirimu' Gumamnya dalam hati.


Audrey hanya mengangguk saja, ia tidak bisa melawan karena ini sudah perjanjian mereka dari awal.


Sampai di lantai bawah, Byakta bertemu dengan Bastian yang membawa beberapa berkas di tangannya, wajahnya menunjukkan kemarahan.


Namun, Byakta tidak peduli itu, yang akan ia lakukan saat ini adalah cepat sampai ke rumah sakit dan memastikan kalau adik iparnya baik-baik saja.


"Ada yang ingin ku bahas denganmu, penting," kata Bastian.


"Nanti saja, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit," sahut Byakta dengan raut khawatir.


"Tidak bisa, ini sangat penting, jika kita tidak segera menyelesaikannya, perusahaan kita akan bangkrut dan kita jadi gembel," jelas Bastian serius.


"Baiklah, sebentar saja." Byakta berjalan menuju ruang kerjanya.


Bastian menjelaskan titik masalah di perusahaan mereka, ia sudah mengerjakannya dan dia datang tinggal meminta tanda tangan Byakta saja.


'hanya tanda tangan saja, kan? Baiklah, ini tidak akan lama' batin Byakta.


Sedangkan pihak rumah sakit terus menghubungi Bastian, namun laki-laki itu tidak menyadarinya, karena ponselnya di mode senyap.


Begitu juga dengan Audrey, efek menangis dan juga tenaga yang sudah terkuras akibat kegiatan panas tadi, Audrey ketiduran, hingga tidak menyadari pihak rumah sakit yang menghubunginya, karena ponselnya dalam mode senyap sama seperti Bastian.

__ADS_1


__ADS_2