
Bastian sudah selesai bersiap, ia akan pergi ke villa, karena hari ini ia akan mengajak Raihan jalan-jalan, karena beberapa menit yang lalu, Melisa menghubunginya untuk minta diantar pergi jalan-jalan.
Namun sebelum itu ia melakukan panggilan pada pihak hotel tepatnya room service untuk mengantar beberapa makanan berat dan ringan, tidak lupa juga cemilan, jus dan air mineral.
Setelah selesai, ia menatap gadis yang kini sedang meringkuk di sofa sedang tertidur, ada rasa iba di hati Bastian saat melihat lamat-lamat wajah gadis itu.
Bastian mendekat akan membangunkan gadis itu, untuk memberitahunya kalau ia akan pergi keluar dan akan kembali saat malam.
"Hei, bangun, kau tidur atau mati?" Guncang Bastian tubuh gadis itu.
Seketika gadis itu beringsut seperti ketakutan, namun ia langsung bisa menguasai diri saat melihat ternyata Bastian yang membangunkannya.
"A-ada apa, Om? Maaf aku ketiduran," ucap gadis itu gugup.
Aroma maskulin yang tercium dari tubuh Bastian membuat gadis itu gugup dan jantungnya berdebar kencang.
__ADS_1
"Aku akan keluar, malam baru kembali, sebentar lagi room service akan datang mengantar makanan, kunci pintu setelah aku pergi, jangan buka jika ada yang mengetuk pintu dan tidak usah khawatir itu aku, karena aku membawa kunci lain," jelas Bastian panjang lebar.
Gadis itu hanya mengangguk, hatinya menghangat ketika ia merasa masih ada orang baik yang mau menolong gadis tidak jelas sepertinya.
Tidak lama room service pun datang, ia membawa begitu banyak jenis makanan, cemilan dan juga minuman. Gadis itu mengernyit heran, untuk apa laki-laki itu memesan banyak makanan padahal dia akan pergi.
Namun gadis itu diam saja, dia tidak ingin bertanya apapun, ia hanya akan melakukan apa yang dikatakan laki-laki itu, yang penting dia selamat dari ayah tirinya dan juga orang-orangnya.
Setelah room service pergi, Bastian mengingatkan gadis itu lagi untuk tidak membuka pintu apapun yang terjadi jika ingin selamat.
"Eh, aku tidak punya ponsel, Om. Ayah tiriku mengambilnya kemarin," jelas gadis itu.
Bastian menggaruk keningnya frustasi, sebenarnya ia tidak ingin ini terjadi, tapi ia bisa apa kalau Tuhan sedang menunjuknya untuk melakukan kebaikan.
Lalu ia mengeluarkan satu ponsel miliknya dari saku jaketnya, lalu memberikannya pada gadis itu.
__ADS_1
"Ambil ini, jika ada apa-apa cepat hubungi nomor ini." Sodorkan Bastian ponselnya.
Gadis itu tersenyum, dalam hati ia bersyukur karena Tuhan masih baik padanya, meski ia tidak tahu nanti akan kemana, tapi ia tetap bersyukur hari ini dia bisa lepas dari ayah tirinya.
"Terima kasih, Om," ucap gadis itu sumringah.
Setelah berulang kali mengingatkan gadis itu untuk tidak membuka pintu, Bastian akhirnya keluar dari kamar hotel tersebut.
Ia berjalan menyusuri koridor hotel untuk menuju lift, saat akan masuk ke dalam lift Bastian melihat dari jauh orang-orang yang tadi masih berkeliaran di hotel itu.
Seketika rasa khawatir Bastian menyelimuti hatinya, bagaimana jika mereka menemukan gadis malang itu? Bastian masuk ke dalam lift, menekan pada tombol lantai dasar.
Setelah itu ia mengeluarkan ponselnya, ia mengetikkan sesuatu pada gadis yang berada di dalam kamar hotelnya.
*Jaga dirimu baik-baik, orang yang mencarimu belum pergi dari hotel in, ingat jangan buka pintu apapun yang terjadi*
__ADS_1
Pesan terkirim, setelah itu Bastian mengutuk dirinya yang begitu khawatir dengan gadis yang berada di dalam kamar hotel yang dipesannya.