Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 87


__ADS_3

Melihat Rania yang rapuh dan tidak berdaya membuat Bastian ingin sekali melindunginya sampai kapan pun.


"Aku akan melakukan sesuai dengan keinginanmu, aku dan anak buahku sudah mengumpulkan bukti atas semua kejahatan bajiingan itu. Aku akan membantumu untuk menuntutnya, supaya dia mendapat balasan setimpal untuk semuanya," ujar Bastian meyakinkan.


Mendengar itu Rania berbinar, tumbuh harapan di hatinya untuk kembali hidup bebas. Meskipun menjadi budak laki-laki di sampingnya ini, setidaknya dia tidak hidup di dalam pelarian.


"Terima kasih, Om! Terima kasih, atas semuanya. Setelah ini aku akan melakukan apa saja untukmu, Om," tanpa sadar Rania menggenggam tangan Bastian saking senangnya.


"Aku tidak menginginkan apa pun, kecuali. Setelah ini hiduplah dengan baik, aku akan membelikanmu tiket pesawat, pergilah dari kota ini, terserah kau ingin kemana, yang penting kau aman dan bisa menata hidupmu kembali," tutur Bastian tulus. Tapi, ada rasa tidak rela di hatinya saat mengatakan kepada Rania untuk pergi.


Namun, lagi-lagi ia menepis rasa yang tidak pernah dia kenal itu. Tidak ingin memikirkannya lagi, Bastian membuka pintu mobil. Ia ingin menghentikan perkelahian yang terjadi, tapi ia terkejut karena ia mengenali salah satu orang kiriman Melisa sedang membantu Joe dan anak buahnya.

__ADS_1


Ia sudah menduga, pasti wanita itu sudah melacaknya sampai kesini. Bastian mengumpat, padahal dia sudah menutup semua aksesnya agar wanita itu tidak mengetahui urusannya.


Bukan ia ingin menyembunyikan semua ini pada Melisa, akan tetapi ia tidak ingin ada yang mengetahui tentang Rania. Biarlah gadis itu hidup tanpa bayang-bayang dirinya setelah ini.


Karena sudah pasti jika Bibi Lauren mengetahuinya, ia akan sangat heboh dan mencari gadis itu dimana pun, sebabnya tidak lain adalah senang jika Bastian dekat dengan seorang wanita atau gadis dan sudah pasti akan menyuruhnya segera menikah.


Tidak, Bastian belum siap jika harus menikah sekarang, perusahaan yang ia bangun sendiri belum sepenuhnya berhasil, dia belum bisa bertopang dagu.


Dia ingin jika menikah nanti dia sudah tidak lagi sibuk urusan pekerjaan, dia ingin jika menikah nanti dia hanya fokus menata rumah tangga saja bersama istri dan anak-anaknya, oleh sebab itu dia sangat bekerja keras saat ini.


Ya, itulah kode yang sudah mereka kenali selama bergabung dengan Joe. Semua mundur termasuk Joe yang agak heran, kenapa Bastian meminta berhenti, padahal ia sendiri tadi yang menyuruh menghabisi.

__ADS_1


Orang-orang dari ayah tiri Rania sudah hampir tak berdaya, begitu juga ayah tirinya itu. Lalu Bastian berjalan mendekat dengan gagahnya.


Laki-laki itu tersenyum miring saat melihat lebih dekat keadaan ayah tiri Rania, karena suasana gelap, Bastian tidak bisa memastikan sudah seperti apa wajah lebam ayah tiri Rania itu.


Tapi dia dapat memastikan, jika Joe sudah membuatnya merasakan sakit untuk pertama kalinya dan akan dilanjutkan saat di penjara nanti sesuai keinginan Rania.


"Cih! Seharusnya aku tidak mempercayaimu waktu itu." Ayah tiri Rania berdecak saat mengenali Bastian.


Namun Bastian hanya menanggapinya dengan senyum mengejek, dia sudah tidak ingin membalas ucapan kotor yang keluar dari mulut kotor tua Bangka itu.


Sebab ia tidak ingin melampaui batas, padahal sebenarnya ia ingin sekali menghajar laki-laki kurang ajar ini, saat mengingat Rania yang tertekan padahal baru melihatnya saja.

__ADS_1


"Joe, ringkus mereka semua, bawa ke kantor polisi di kota ini, keluarkan semua bukti yang kita punya. Aku ingin dia dihukum seberat-beratnya, jika bukti yang kita punya belum memadai, cari lagi agar si brengsek ini dihukum sampai dia tidak ingin hidup lagi," titah Bastian lantang bercampur benci.


"Dan, cari tahu apa sebab kematian ibu Rania. Selidiki dengan detail, aku akan menunggu hasilnya di Jakarta," timpal Bastian lagi, lalu ia kembali ke dalam mobil dan pergi bersama Rania dan seorang anak buah Joe untuk mengantarkan mereka ke bandara malam ini juga.


__ADS_2