Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 37


__ADS_3

Hari terus berganti, kesehatan Audrey begitu sangat cepat pulih, entah karena memang gadis itu kuat, atau hanya berusaha cepat sembuh agar bisa cepat pergi mencari kehidupan baru sendirian.


Dengan izin dari dokter, Audrey hari ini sudah boleh pulang, Bibi Lauren membantunya membereskan barang-barang milik Audrey, walau gadis itu masih nampak dingin dan diam, bibi Lauren tidak mempermasalahkan, ia menganggap maklum atas diri Audrey yang seperti itu, sebab wanita tua itu masih sangat bersalah pada gadis yang sedang duduk di kursi roda menatap hamparan gedung-gedung pencakar langit.


"Bisa aku minta sesuatu ketika sampai di rumah nanti?" Pintaa Audrey mengada-ada.


Bibi Lauren menghentikan kegiatannya kala mendengar Audrey berbicara padanya, meski sekarang gadis itu sudah enggan menyebutnya bibi.


"Apa itu, Nak?" Jawab Bibi Lauren.


"Selama masa pemulihan, aku ingin tidur di kamar yang berbeda dari laki-laki itu," utarakan Audrey hati ya.


Bibi Lauren tampak menimbang permintaan Audrey, karena sebenarnya yang memutuskan ini adalah Byakta, bukan dirinya.


"Baiklah, nanti bibi tanya dulu pada Byakta," sahut Bibi Lauren dan kembali mengemas barang-barang.

__ADS_1


****


Waktu terus bergulir, namun luka itu masih begitu menganga di dalam hati Audrey, sering ia menangis sendirian di kamarnya, menyesali semuanya.


Ya, sejak ia meminta di rumah sakit saat itu untuk pindah kamar di setujui Byakta, laki-laki itu terus mengalah dan mengabulkan semua permintaan gadis itu tanpa membantah sedikitpun.


Setengah bulan sudah sejak keluar dari rumah sakit, kini Audrey sudah nampak sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya.


Semua orang semakin bersikap baik padanya, termasuk Byakta, ia yang tidak pernah peduli dengan hidup orang lain, kini ia terlihat sangat peduli dengan Audrey.


Kini Audrey nampak sedang berdiri di balkon menikmati hembusan angin malam yang menyejukkan jiwanya, ia memejamkan mata merasakan kehadiran ibu, ayah dan adiknya sedang memeluk dirinya yang sepi.


Mengalir bulir bening itu untuk yang kesekian kalinya setiap ia melakukan hal ini sebelum tidur.


"Ibu, Ayah, Rayyan aku rindu! Tidakkah kalian kasihan denganku, kalian meninggalkan aku sendirian di sini." Audrey terisak lagi.

__ADS_1


Gadis itu kembali kedalam kamar setelah melepas sesaknya bersama dinginnya angin malam, ia berharap angin akan menyampaikan segala rindunya pada mereka yang sudah pergi meninggalkannya sendirian.


Audrey menatap travel bagnya di dekat lemari, ia akan pergi dari sini dan akan memulai hidup baru. Segala rencana sudah ia susun, ia tidak peduli dengan takdir yang sudah pasti akan menghalanginya.


Ia akan setegar karang melawan semua demi kebebasan dan hidup normal seperti manusia pada umumnya.


Gadis itu pun mulai membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata, berharap pagi segera tiba.


Di tempat lain, yaitu di kamar Byakta, laki-laki itu sedang memikirkan bagaimana cara mendekati istrinya, ia sama sekali tidak punya nyali untuk itu.


Bahkan beberapa cara sudah didapatkan berbekal pencarian di ponselnya, namun ia tak yakin ia bisa melakukannya, belum pun bertemu dan menyampaikan langsung yang ingin disampaikan, keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya.


Setelah lelah berlatih, akhirnya Byakta pun tidur memasuki alam mimpi yang tak pernah jadi nyata.


Mata hari merangkak naik, menerangi bumi indah yang memberikan banyak kesempatan pada manusia untuk menghasilkan segala upaya agar tetap bisa bertahan hidup.

__ADS_1


Audrey sudah siap dengan travel bagnya, ia berjalan santai menuruni anak tangga satu persatu.


__ADS_2