Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 62


__ADS_3

Bastian kembali ketempat dimana Melisa dan Raihan berada, ia terus memperhatikan ibu dan anak yang sedang tertawa, Bastian tersenyum melihat keduanya.


Terlintas dalam pikirannya, jika suatu saat dia memiliki istri dan juga anak, pasti hidupnya sangat bahagia.


Sebagai seorang anak yang tidak tahu siapa orang tuanya, sudah meninggal atau masih hidup, Bastian selalu merasa kesepian, meski di antara hidupnya ada Bibi Lauren dan Byakta, bahkan kini ada Melisa dan juga Raihan, Bastian masih selalu merasa sepi.


Melisa menghampiri Bastian, kelihatannya mereka berdua sudah lelah, Bastian pun mengajak keduanya untuk mencari makanan.


Ketiganya masuk kedalam food court yang ada di mall tersebut. Tersaji beraneka macam makanan disana, tiba-tiba Bastian mengingat seseorang yang sedang berada di dalam kamar hotelnya.


Melisa sudah memilih makanan untuknya dan juga untuk Raihan, Bastian mengatakan tidak jadi makan karena tiba-tiba tidak berselera.


Sambil menunggu Melisa makan, Bastian memeriksa ponselnya, tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab dari nomor ponselnya yang ia berikan kepada gadis itu tadi.


Hatinya menjadi gelisa dan bertanya-tanya, dia tidak menghubungi karena baik-baik saja, atau tidak menghubungi karena dia tidak sempat mengabarinya kalau dia dalam bahaya.


"Bas, are you ok? Kau terlihat gelisah,"


"Hah! Tidak, ini Byakta mengirim pesan mengenai pekerjaan," jelas Bastian berbohong.


Tidak mungkin dia memberitahu Melisa jika dia sedang menyembunyikan seorang gadis di kamar hotelnya, belum waktunya atau tidak akan pernah diceritakan pada siapapun, karena besok juga gadis itu sudah pergi.


Melisa hanya ber oh ria saja, meski kurang yakin dengan jawaban Bastian, dapat Melisa lihat laki-laki itu memang sedang memikirkan sesuatu, lebih tepatnya khawatir akan sesuatu.

__ADS_1


Namun Melisa tidak mau mendesak laki-laki itu untuk bercerita dengan apa yang terjadi, sebab dia tidak punya hak untuk itu.


Melisa memilih untuk cepat menghabiskan makanannya, karena sepertinya Raihan juga sudah lelah dan mulai mengantuk.


Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang, dalam perjalanan keduanya tidak terlibat percakapan apapun.


Melisa memandang jalanan sambil sesekali memberi tepukan menenangkan pada Raihan yang sudah tidur.


Sedangkan Bastian bergelut dengan pikirannya sendiri, rasa khawatir itu bertambah saat pesan yang dikirim sama sekali tidak direspon gadis itu, jangankan respon, dibaca saja tidak.


Ditambah lagi, saat dia melakukan panggilan berkali-kali, sama sekali tidak di angkat oleh gadis itu, sebenarnya apa yang terjadi? Menyusahkan saja. Batin Bastian mengumpat.


Setelah mengantarkan Melisa dan Raihan ke villa, Bastian langsung putar balik untuk pergi tanpa singgah sebentar sekedar menyapa Bibi Lauren.


Dia turun dari mobil dan langsung buru-buru naik ke lantai dimana kamarnya berada. Setelah sampai di lantai tempat kamarnya berada, Bastian setengah berlari menyusuri koridor hotel.


Setelah sampai, ia segera mengambil kunci dan langsung membuka kamarnya kalau masuk begitu saja, langkahnya terhenti, nafasnya pun mendadak ikut berhenti ketika melihat kamar hotelnya berantakan, tempat bekas makan, lalu bungkus cemilan berserakan di meja dan si sofa.


Seketika Bastian menggeram melihat ini semua, sudah pasti ini kerjaan gadis tidak tahu diri yang sedang tertidur pulas di tempat tidurnya.


"Hei, bangun!" Teriak Bastian frustasi.


"Astaga, apa yang kau lakukan dengan kamarku! Bangun! Kau tidak dengar?"

__ADS_1


Bastian marah, bagaimana gadis ini bisa tidur pulas sekali seperti tidak pernah ada masalah dalam hidupnya, sedangkan dia berlari dari parkiran hingga sampai ke kamar hanya karena mengkhawatirkan manusia yang bahkan tidak dia kenal.


Gadis itu melenguh dan membalikkan tubuhnya sambil mengucek mata, setelah menyadari bahwa Bastian sudah kembali, gadis itu melonjak langsung mendudukkan tubuhnya seketika.


"Loh, Om, kau sudah pulang? Sudah malam ya?" tanya gadis itu sedikit beringsut sebab melihat wajah tak bersahabat dari si pemilik kamar tersebut.


Bukannya menjawab pertanyaan gadis itu, Bastian mengulang pertanyaan yang sama "kau apakan kamar ku, hah!"


"Eh, tidak ada, memangnya aku ngapain?" tanya balik gadis itu tempat merasa berdosa sedikitpun.


"Astaga, Tuhan! Manusia apa yang kau kirim untuk aku tolong?"


"Kau lihat itu, itu dan itu? Kau itu seorang gadis, kenapa jorok sekali! Astaga, cepat bereskan itu, setelah itu pergi dari kamar ini dan pergi dari hidupku, aku tidak ingin menolong siapapun!"


Bastian terus membentak-bentak gadis yang sejak tadi terdiam karena bentakan yang dilontarkan Bastian padanya. Seketika gadis itu meneteskan air matanya.


"Hikss … hikss. Kau kan bisa beritahu aku baik-baik, tidak perlu membentakku begitu. Ya, aku tahu, aku berhutang Budi padamu, tapi haruskah kau membentakku untuk hal yang sepele?" ucap gadis itu terisak.


Bastian mengacak rambutnya, mengapa dia bisa emosi seperti ini? Apa hanya karena kamar yang berantakan atau karena gadis itu tidak menjawab panggilannya? Bastian tidak tahu itu, yang jelas ingin sekali dia berteriak meluapkan emosinya yang tidak tahu kemana arahnya.


Tanpa menjawab gadis itu, Bastian masuk kedalam kamar mandi untuk menenangkan diri, seharian di luar membuatnya gerah dan ingin berendam, dia juga tidak ingin melihat wajah gadis itu untuk saat ini.


______________________________

__ADS_1


Pendukung Melisa ♥️ Bastian, mana suaranyaaaaaaaaa???????? 🥳🥳🥳🥳🥳🥳


__ADS_2