Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 91


__ADS_3

Bastian sengaja membeli sebuah apartemen baru untuk Rania tinggal, ia membelinya menggunakan identitas orang lain, agar Melisa tidak bisa menemukan gadis kecilnya.


Untuk saat ini, Bastian berencana untuk menyembunyikan Rania terlebih dahulu, sampai masalah Byakta selesai.


"Waaah! Bagus banget tempat ini, Om? Aku baru pertama datang ke tempat seperti ini," ungkap Rania kagum.


Kini keduanya sudah berada di apartemen yang dibeli Bastian, apartemen itu tidak terlalu mewah, tapi cukup nyaman untuk ditempati.


"Tinggallah disini sampai semua masalahmu selesai, ambil ini dan beli semua kebutuhanmu melalui aplikasi belanja online, karena aku tidak bisa mengajakmu belanja di luar, di sana cukup berbahaya untuk saat ini." Bastian menyodorkan sebuah kartu kredit pada Rania.


"Eh, tidak perlu sampai memberiku kartu seperti ini Om," tolak Rania cepat.


Meskipun dia membutuhkan beberapa keperluan, bukan berarti ia bisa menerima begitu saja, menurutnya ini terlalu berlebihan.


Selama ini Bastian sudah terlalu baik padanya, oleh sebab itu ia tidak akan serakah jika ia harus menerima pemberian bastian yang menurutnya sudah berlebihan seperti itu.


Jika tadi ia adalah kekasih dari Bastian, mungkin ia masih bisa menerima, setidaknya mereka dekat dan sudah saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan, aku yang membawamu kemari, sudah seharusnya aku juga yang akan menanggung semua kebutuhanmu, ambillah." Bastian kembali menyodorkan kartu kredit itu pada Rania.


Gadis itu hanya diam menatap kartu kredit yang terletak di meja, lalu tatapannya bertukar jadi menatap Bastian.


Sekuat tenaga Bastian menahan debaran yang semakin jadi setiap kali melihat mata indah Rania dan juga senyum indah gadis itu.


"Baiklah, aku akan pergi, banyak yang harus diurus, jika kau membutuhkan ku, hubungi saja aku." Bastian bangkit dari duduknya lalu membenahi jasnya dan langsung melangkah pergi.


Namun lagi-lagi Rania menghentikannya "Om!"


Bastian yang belum bisa menormalkan debarannya, ia berhenti tapi tidak menoleh sedikitpun pada Rania.


"Terima kasih Om, semoga harimu bahagia," ucap Rania tulus.


Tanpa menjawab ucapan Rania, Bastian kembali melangkah lebih lebar lagi agar ia cepat meninggalkan apartemen itu, sebab jika ia lebih lama disana, ia tidak akan tahan jika tidak berbalik arah dan langsung memeluk Rania.


Bastian melihat sekilas dirinya pada diri Rania, betapa ia dulu bukanlah siapa-siapa, ia hanya anak panti asuhan yang selalu dikatai oleh orang-orang tidak akan memiliki masa depan.

__ADS_1


Melihat Rania yang hidup dalam kubangan kemiskinan dan kesusahan membuatnya ingin sekali membantu gadis kecil itu agar keluar dari orang-orang jahat yang memanfaatkan kelemahannya.


Sesampainya di lift, Bastian menyandarkan tubuhnya yang hampir tak berdaya sebab degup jantung yang tidak seperti biasanya.


"Tuan, ada apa dengan Anda?" Tegur asistennya khawatir.


Bastian hanya menjawab dengan gelengan, lalu mengangkat tangannya sebagai isyarat dia baik-baik saja.


"Apa anda sakit, Tuan?" tanya asistennya lagi.


"No, i'm ok, hanya saja jantungku selalu berdebar kencang saat dekat dengan gadis kecil itu," ucap Bastian polos.


Membuat asistennya paham dan langsung menutup mulutnya yang tersenyum. Melihat asistennya Bastian kembali tegak dengan gaya tegasnya.


"Apa? Apa yang membuatmu tersenyum? Kau menertawakan aku, kau senang jika aku mati, hah!"


Bastian memandang sengit asistennya itu, berani sekali dia menertawakan aku, memangnya siapa dia? Batin Bastian marah.

__ADS_1


"T-tidak Tuan, mana mungkin saya menertawakan Anda," sangkal asistennya yang bernama Robin.


Bastian mendengus mendengar sangkalan dari Robin, padahal jelas sekali tadi dia menertawakan dirinya.


__ADS_2