
~ Garis wajahnya dingin, datar seperti tak akan bisa tersentuh. Namun, dibalik itu ada jiwa dan hati selembut kapas ~
Rania Prameswari -
Saat mobil melewati gerbang utama villa, mereka lolos begitu saja, karena memang tidak ada pemeriksaan ketat di sana.
Mungkin ini karena penjaga itu belum ada yang menyadari bahwa Rania sudah berhasil meloloskan diri.
Mobil mulai meninggalkan kawasan villa, Bastian baru menyadari ternyata villa itu terletak sangat jauh dari pemukiman warga setempat.
Tidak ada satupun kendaraan yang berpapasan atau beriringan dengan mereka, sepanjang jalan gelap hanya sorot cahaya mobil saja yang ada.
Mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata, mereka harus cepat pergi dan akan langsung menuju bandara.
Bastian akan membawa Rania pergi dari kota ini terlebih dahulu, baru akan memikirkan langkah selanjutnya, akan di antar kemana gadis yang masih ia genggam tanpa sadar karena masih dalam suasana menegangkan.
Rania yang menurut tanpa banyak bicara pun hanya diam, dia hanya bisa meresapi rasa hangat yang mengalir dari genggaman tangan Bastian.
Tidak disangka, meski sudah melaju dengan kecepatan rata-rata, sepertinya pihak musuh bisa mengejar mereka tidak kalah cepat.
__ADS_1
Bunyi suara tembakan mengudara samar namun tetap terdengar di telinga Bastian dan Rania.
Rania yang penasaran menoleh kebelakang, namun Bastian dengan cepat merangkul tubuh mungil Rania dengan satu tangannya.
"Jangan lihat kebelakang, diamlah, kau akan baik-baik saja bersama kami," ucap Bastian sambil mendekap tubuh mungil itu.
"Tuan, kita tidak bisa lari, kita harus berhenti agar kecurigaan tidak bertambah," jelas Joe yang sudah menduga pasti mereka akan mengejar mereka.
"Lakukan yang terbaik, aku percaya padamu," tegas Bastian sambil melepas dekapannya pada Rania.
Lalu mamandang lamat-lamat wajah cantik itu "Kau bilang suka film actionkan?" tanya Bastian lembut sekali.
Membuat jantung Rania semakin tidak bisa dikondisikan, ia bahkan sampai tidak menjawab pertanyaan Bastian karena terpesona dengan wajah tampan Bastian yang kini berada tepat di hadapannya sangat dekat sekali.
"Eh! Iya, ada apa, Om?" tanya Rania gugup, gadis itu membuang pandangannya ke arah lain.
"Kau bilang suka film action, anggap sekarang kita sedang syuting film, aku yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan dengan penampilan seperti ini," Bastian mengamati lagi kostum yang dikenakan Rania.
"Ya! Penyamaran, penyelamatan. Ayo kita lakukan, Om," kata Rania antusias.
__ADS_1
Setelah sepakat untuk berhenti dan siap menghadapi musuh, Joe memelankan kecepatan laju mobilnya.
Seolah tidak terjadi apa-apa, Bastian pun duduk layaknya seorang tuan besar yang sedang melakukan perjalanan dengan pengawalan yang sangat ketat.
Sedangkan Rania sudah memperbaiki penampilannya, sungguh dia memang terlihat sudah seperti anak buah Joe.
Dan benar saja, saat Joe sudah mengurangi kecepatannya, sebuah mobil Jeep menghadang mereka.
Mau tidak mau Joe harus memberhentikan mobilnya, mereka melihat keluar beberapa laki-laki bertubuh besar dari dalam mobil Jeep tersebut.
Joe menurunkan kaca mobilnya, pura-pura bingung dengan situasi yang ada, memasang muka sedikit masam kepada beberapa orang laki-laki itu.
"Keluar!" pinta salah satu dari orang jahat itu.
Joe pun menuruti tanpa berkata sepatah kata pun, setelah keluar dia langsung menutup kembali pintu mobilnya.
"Ada apa, kenapa anda menghalangi jalan kami?" tanya Joe pura-pura.
"Jangan berlagak bodoh, di mana Tuan mu?"
__ADS_1
Bukannya menjawab laki-laki kelompok orang-orang jahat itu malah mengajukan pertanyaan yang menyebalkan.
Bastian melepas genggaman tangannya dari tangan Rania, lalu membuka pintu mobil dan keluar. Bastian sengaja menodong Joe dengan banyak pertanyaan agar mereka tidak sempat melakukan hal yang sama padanya, yaitu bertanya tentang Rania.