Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 95


__ADS_3

Deg


Jantungnya berdebar kencang saat itu juga 'menikah' kata-kata itu langsung berdengung di telinganya.


Titik kesadarannya mengingatkan dia untuk refleks bertanya "Menikah dengan siapa, Nek?"


Nenek tidak menjawab pertanyaan Audrey, beliau langsung berlalu meninggalkan Audrey yang masih di selimuti rasa penasaran di hatinya.


Setelah nenek berlalu meninggalkan Audrey yang di penuhi rasa penasaran, gadis itu cepat-cepat merogoh tasnya mencari ponsel.


Cepat-cepat ia mencari kontak Byakta, lalu segera menghubunginya. Namun, ternyata nomor Byakta tidak bisa di hubungi.


Tidak berhenti sampai disitu, Audrey mencari kontak Bastian, lalu menghubunginya, kali ini bukan tidak aktif, akan tetapi tidak diangkat.


Audrey menggenggam ponselnya, sungguh ini diluar dugaan, bagaimana ia akan membujuk nenek kembali, pasti nenek melakukan ini agar ia tidak kembali pada Byakta lagi.


Tapi, nenek tidak bisa melakukan ini, sebab jelas tertulis bahwa ia dan Byakta belum resmi bercerai.

__ADS_1


Audrey meninggalkan ruang tamu menuju kamar nenek, dia akan bicara pada nenek sekarang juga, ini tidak benar, pikirnya.


"Nek, kenapa nenek melakukan ini?" tanya Audrey lirih.


"Apa kau mulai tidak memiliki sopan santun setelah bertemu dengannya lagi?" tanya nenek ketus.


Ia merasa Audrey tidak begini sebelumnya, dia gadis lemah lembut yang berbicara penuh sopan santun pada siapa pun.


Tapi, belakangan ini ia sering membantah neneknya dan juga sering tidak sependapat dengan keputusan nenek.


"Aku akan mengurus semuanya, kau tidak perlu khawatir, kau hanya perlu menurut dan jangan banyak bicara," tegas nenek dengan nada tinggi.


Lalu nenek kembali meninggalkan Audrey yang syok dengan sikap kerasnya nenek, ia seperti seorang yang limpah saat ini, tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya tanpa bantuan orang lain.


Ya, semua keputusan ada pada nenek, karena mulai saat ia memutuskan tinggal bersama nenek dan Tante Wina, nenek adalah walinya.


Ia pun sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menurut apa pun yang nenek lakukan jika itu adalah yang terbaik untuknya.

__ADS_1


Ia sama sekali tidak menyangka jika laki-laki yang sudah dianggap masa lalu, akan kembali dengan kisah yang belum usai.


Audrey tidak tahu akan melakukan apa, melihat kegigihan dan keras kepalanya nenek, ia tidak mungkin bisa melawan nenek.


Lalu, apakah ia akan pasrah saja dengan semua yang dilakukan nenek padanya? 'Ceria' satu kata yang pernah ia ingin menjalaninya.


Tapi, saat ini ia justru tidak menginginkan kata-kata itu ada di antara dirinya dan juga Byakta.


Sekali lagi ia menghubungi laki-laki itu, tapi tetap sama, tidak aktif. Lalu tanpa pikir panjang ia segera bergegas akan menemui laki-laki itu di tempat tinggalnya.


Saat ia melewati ruang tamu, ia melihat nenek ada disana sedang mengawasi para pekerja wedding organizer.


Namun, Audrey berlalu begitu saja tanpa menegur nenek, ia kesal saat ini. Meski ia harus menurut tetap saja rasa kesal itu ada di dalam hatinya.


Nenek tidak harus melakukan semua ini, nenek tidak harus keras seperti ini, seharusnya nenek tahu jika dia bukan lagi bayi kecil seperti dulu.


"Satu langkah saja kau keluar dari pintu itu, kau akan kehilangan dia untuk selamanya," ancaman nenek menghentikan langkah Audrey yang hampir melewati pintu.

__ADS_1


__ADS_2