Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 24


__ADS_3

Satu bulan berlalu, perut Audrey masih terlihat rata, akan tetapi tubuhnya kini terlihat lebih berisi, pipinya yang tadi tirus, kini sudah terlihat lebih tembem, aura kecantikannya pun bertambah, ia lebih terlihat dewasa sekarang.


Sore itu Audrey sedang duduk gazebo di taman depan, semenjak hamil Audrey sering menghabiskan waktu di tempat ini, karena semenjak hamil Byakta membuat peraturan baru yaitu melarangnya keluar gerbang utama.


"Byakta bilang, kamu tidak boleh kemana-mana, dia tidak mau kalian berdua kenapa-kenapa, kamu dan si bayi," ucap bibi Lauren menyampaikan pesan suaminya.


Sedangkan Byakta tidak bisa menyampaikan langsung, karena meski sudah satu bulan dan hampir memasuki bulan kedua kehamilannya, Audrey masih mual jika melihat wajah Byakta.


"Tapi, Bi. Bagaimana aku menjenguk adikku, jika aku tidak boleh keluar?"


Audrey sangat ingin membantah peraturan baru itu, akan tetapi ia tak berdaya, karena sepertinya laki-laki itu sudah memperhitungkan semuanya.


"Byakta akan mengurus soal adikmu, kamu jangan khawatir, dia pasti akan baik-baik saja," ujar bibi Lauren meyakinkan Audrey bahwa semua akan baik-baik saja.


Saat sedang asyik menggambar desain-desain baju, tiba-tiba seseorang menyapanya.


"Selamat sore," ucap seorang wanita cantik dengan tubuh seksi.


"Iya, selamat sore! Ada yang bisa saya bantu?"


Bukannya menjawab pertanyaan Audrey, wanita itu malah melontarkan pertanyaan lagi "Byaktanya ada?"

__ADS_1


Seketika mood Audrey terjun bebas, apa-apaan orang ini, sangat tidak sopan, begitu pikir Audrey.


"Tidak ada," jawab Audrey sedikit ketus.


'Siapa dia? Datang-datang langsung menanyakan soal suaminya, memangnya dia pikir, siapa dia! Bikin kesel aja'


Saat Audrey masih bergelut dengan pikirannya sendiri, sambil memperhatikan penampilan wanita itu, bibi Lauren datang.


"Melisa?"


Bibi Lauren datang dengan membawa jus buah serta cemilan ringan untuk Audrey, selama ia hamil bibi Lauren rutin melayaninya.


Audrey mengernyit saat melihat bibi Lauren ternyata mengenali wanita itu, mungkin saudaranya, pikir Audrey.


Bibi Lauren meletakkan nampan berisi jus dan cemilan tadi, lalu berangsur memeluk wanita yang bernama Melisa itu.


"Bibi apa kabar? Aku kangen banget sama, Bibi," sambungnya sambil menyambut pelukan bibi Lauren.


"Ya, seperti yang kamu lihat, bibi semakin tua dan renta," sahut Bibi Lauren bercanda.


Audrey melihat keduanya begitu akrab, mereka mengobrol tanpa peduli keberadaan Audrey disana.

__ADS_1


Saat Audrey akan beranjak meninggalkan dua wanita yang sepertinya sudah lama tidak bertemu, barulah bibi Lauren menyadari kalau ada Audrey di sana.


"Drey, kamu mau kemana?" tanya Bibi Lauren.


"Mau balik ke kamar, Bi?" tanya Melisa ingin tahu.


"Ah, ya, sebentar! Mel, ini Audrey istrinya Byakta. Drey, ini Melisa mantan istri Byakta, sini salaman," bibi Lauren melambaikan tangan isyarat agar Audrey mendekat.


'mantan istri? Mau apa dia kesini?' batin Audrey bertanya-tanya.


Namun, ia tetap mendekat dan mengulurkan tangan berkenalan dan di sambut acuh oleh Melisa.


'cih, jadi sekarang dia istrinya, rendah sekali seleranya, tubuhnya kurus, apa dia bisa hamil dengan tubuh kurang gizi begitu' Melisa mencaci Audrey dalam hati.


Audrey yang sudah melihat gelagat tidak baik dari wanita itu, ia pun malas untuk berbasa-basi, setelah selesai berkenalan, ia meminta izin pada bibi Lauren untuk masuk kedalam.


Sesampainya di dalam kamar, entah ide dari mana dan entah dorongan dari mana, gadis itu mengambil ponsel jadulnya lalu menghubungi Byakta.


Ada perasaan tidak terima di hatinya kala tahu wanita yang disebut mantan istri suaminya datang kerumah ini, apalagi terlihat begitu akrab dengan bibi Lauren.


Audrey jadi menduga jika Bibi Lauren memang selalu akrab dengan istri-istri Byakta terdahulu. Ia pun merasa rendah saat ini, bagaimana tidak, melihat Melisa yang begitu cantik, lalu di bandingkan dengan dirinya, pasti sangat jauh sekali.

__ADS_1


Audrey menggelengkan kepalanya, kenapa tiba-tiba hatinya merasa cemburu dan kenapa juga ia harus cemburu, bukannya dia sudah tahu bahwa Audrey menikahi mereka hanya karena ingin mendapatkan anak saja, begitu juga dengan dirinya.


__ADS_2