
Kenapa seperti kau yang paling terluka disini? Sehingga kau berhak pergi dan meninggalkan aku yang hancur berkeping. Tidakkah kau sadar untuk apa aku menikahimu, hingga saat dia pergi meninggalkan aku dan kau juga melakukan hal yang sama.
Kau pikir, hanya dirimu yang terluka? Hanya dirimu yang hancur? Tidakkah sekali saja kau melihat kehancuran ku meski aku tidak mengatakannya? Aku yakin kau tahu arti dari semua sikapku, sentuhanku, tapi atas nama terluka keegoisan mengalahkan akal sehatmu.
Ku akui memang aku bersalah, aku mengabaikan amanahmu tentang adikmu, iya aku bersalah. Tapi, apa aku harus dihukum seperti ini? Bukankah sekarang sudah impas? Kau kehilangan adik dan anakmu dan aku kehilangan anakku dan dirimu, bukankah itu sudah cukup menghukumku dalam waktu setahun ini?
Tapi, hingga hari ini kau tidak pernah kembali, kau tidak pernah terlihat, bahkan sekalipun aku mencarimu kau tidak pernah ada, tidakkah kau ingin tahu bagaimana aku, bagaimana aku menjalani hari tanpamu, apa sebegitu bencinya kau padaku?
Lihat aku, lihat aku! Aku yang selalu menangisi anakku, aku juga yang selalu menangisi kepergianmu dan terpuruk dalam penyesalan karena mengabaikan adikmu. Aku ingin mati, tapi Tuhan seperti tidak pernah mendukungku.
Kembalilah, kembalilah, maafkan aku, maafkan aku! Mari kita obati bersama luka hati kita, jangan begini. Aku tidak sanggup, sungguh aku tidak sanggup.
Setiap hari Byakta duduk termenung di dalam kamarnya, sesekali ia merenung dan bermonolog sendiri lalu menangis.
Setelah kepergian Audrey hari itu, esoknya Byakta jatuh sakit hingga satu bulan lamanya, beban pikiran dan keterpurukan bersatu hingga membuatnya tak berdaya.
Waktu itu dia ingin memperbaiki semuanya, namun dia terlambat. Audrey, gadis itu telah pergi, Byakta yang memang saat itu belum sehat sepenuhnya, menjadi drop kembali mendapati Audrey telah pulang ke kampung halaman ibunya.
__ADS_1
Sudah banyak yang terjadi dalam waktu setahun, sejak kepergian Audrey, Byakta seperti mayat hidup, kurus dan tak terurus. Ia tidak lagi pergi ke kantor, kerjanya hanya menyesap alkohol dan rokok untuk menghilangkan stresnya.
Bibi Lauren sudah menasehati untuk dia kuat dan tak jarang wanita tua itu menyuruh keponakannya untuk menyusul istrinya, namun jawaban Byakta selalu sama.
"Dia membenciku, Bibi. Dia akan lari jika melihatku datang, dia tidak akan pernah memaafkan ku"
Tatapan kosong yang selalu bibi Lauren lihat, kadang membuatnya ingin nekat pergi menjemput menantunya, akan tetapi Bastian selalu mengatakan, siapa yang akan menjaganya, lalu urusan kantor bagaimana jika aku yang pergi.
Namun kali ini Bastian nekat pergi, ia menyerahkan urusan kantor kepada staf Sekretaris, karena dalam satu bulan kedepan tidak ada proyek yang mereka tangani, hingga bisa membuat Bastian pergi.
Seperti takdir memang ingin mereka bertemu, tuhan mengatur semuanya dengan baik, Bastian menemukannya tanpa harus mencarinya.
"Aku tidak ingin sehat Bibi," sahut Byakta datar tanpa melihat Bibi Lauren meletakkan makanannya di meja.
"Apa putus asa akan membuat dia kembali, gunakan otakmu!" Bibi Lauren tersulut atas jawaban Byakta yang hampir setiap hari sama.
"Kau lihat Bastian, tidakkah kau kasihan padanya! Dia mengurus perusahaan sendirian, sedangkan kau? Diam melamun seperti orang bodoh," tinggikan Bibi Lauren suaranya, sudah habis kesabarannya kali ini.
__ADS_1
"Kau tahu sedang dimana Bastian, sekarang! Dia menjemput istrimu, dia sudah menemukannya sekarang. Sementara dirimu? Hanya diam seperti orang tidak waras."
Jika biasanya omelan Bibi Lauren tidak membuatnya bereaksi, tapi kali ini mampu mengguncang tubuh dan jiwa Byakta.
Ia menoleh melihat wajah marah Bibi Lauren, "kau tidak bohong? Dia menemukannya? Katakan kau tidak bohong, Bibi!" Byakta berbinar, jantungnya berdebar mendengar istrinya disebut.
Rasa iba pada keponakannya yang berantakan ini, bibi Lauren melunak, "iya, Nak. Persiapkan dirimu, Bastian sedang mengatur penerbanganmu besok,"
"Kenapa besok? Aku ingin malam ini, Bibi! Katakan padanya malam ini aku akan berangkat,"
Tidak menunggu jawaban bibi Lauren, Byakta langsung masuk ke kamar mandi, berniat membersihkan diri dan bersiap akan pergi terbang malam ini ke Indonesia.
Di dalam kamar mandi Byakta berdiri didepan cermin menatap wajahnya, ia memegang dadanya, debaran itu kembali lagi setelah lama menghilang.
Lalu ia meraba wajahnya, sungguh ini bukan dirinya, ia tak pernah seperti ini, bahkan janggutnya sampai panjang begini.
Dengan hati yang menggebu, Byakta membersihkan dirinya, mempersiapkan diri karena akan bertemu dengan sang pujaan hati yang telah lama menghilang.
__ADS_1
Indonesia i am coming ……