Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 46


__ADS_3

"Jangan bergerak! Diam di situ," titah Audrey dengan detak jantung tak beraturan.


Audrey masih ingin memastikan kalau laki-laki yang di hadapannya benar-benar laki-laki yang sama.


Byakta yang masih terhipnotis akan sosok yang ia rindukan hanya menurut tanpa protes, ia hanya melayangkan tatapan penuh kerinduan pada Audrey.


Audrey berjalan mendekat mengamati Byakta dari dekat, mulai dari wajahnya lalu melihat lagi dari atas kepala hingga ujung kaki, benar ini laki-laki itu, mantan suaminya, begitu dia berpikir.


Tapi kok bisa ada disini, hatinya terus bertanya-tanya dengan mata yang terus mengamati bahkan mengelilingi Byakta.


Tidak tahan dengan tingkah menggemaskan Audrey, Byakta berbalik langsung menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


Tidak ada penolakan ataupun gadis itu berusaha berontak menolaknya, membuat Byakta bisa meresapi rasa rindunya yang sudah mendapat penawarnya.

__ADS_1


"Aku rindu." Pelukannya semakin erat "setiap malam aku memeluk bayanganmu, setiap malam aku aku ingin kau hadir dalam mimpiku. Bahkan aku tidak ingin bangun lagi saat kau hadir dalam mimpiku, agar kau tak hilang saat kenyataan datang,"


Audrey hanya diam mendengarkan semua yang dikatakan Byakta, hatinya tersentuh dengan ungkapan yang terdengar begitu manis.


Ia kembali mengingat sedikit kenangan manis saat bersama, hanya sekejap rasa itu, bahkan sudah akan ia lupakan. Tapi, laki-laki ini kenapa datang kembali.


"Maafkan aku, maafkan aku." Peluknya lebih erat tubuh mungil itu. Tidak membiarkan Audrey terlepas dari dekapan dadanya, benar-benar bahagia mendominasi hatinya saat ini.


Apalagi mendapati wanita yang dicintainya tidak melakukan penolakan padanya. "Beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semua," ucap Byakta di akhir kalimatnya.


"Tidak, semua sudah berakhir." Audrey menggeleng dengan mata berkaca-kaca "lepaskan aku, berapa kali sudah ku katakan, lepaskan aku!" Bentak Audrey.


Ia mengingat ada wanita lain yang mungkin sudah melahirkan anaknya, ia tidak akan menjadi perusak dan tidak ingin menjadi yang kesekian. Tidak, ia tidak ingin itu.

__ADS_1


Ia sudah berdamai dengan segala luka masa lalu, mengikhlaskan segalanya dan berusaha bangkit saat takdir membawanya melangkah pergi.


"Aku sudah memaafkanmu, sejak dulu saat aku memutuskan pergi. Jadi, kau juga harus melepaskan aku." Audrey mundur berusaha menghindari Byakta yang terus ingin meraih tangannya "kau tidak pernah tau, bagaimana sulitnya berdamai dengan keadaan, tolong lepaskan aku." Audrey mengusap air matanya.


Perih itu datang lagi, saat bersamaan dua nyawa pergi begitu saja tanpa pesan dan apapun, itu sangat sulit dan sangat sakit.


"Tidak, aku tidak bisa hidup tanpamu, ku mohon beri aku satu kesempatan memperbaiki semua," mohon Byakta.


Audrey menggelang, ia tidak akan masuk kedalam lubang yang sama, mungkin yang terjadi dulu adalah teguran Tuhan untuk mereka semua, yang sudah berani mempermainkan sebuah ikrar sakral itu.


"Pergilah, aku sudah bahagia disini, jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja sebelum kau datang,"


Ada perih baru yang menyentil hatinya saat mengatakan itu semua, tapi ia mengenyampingkan itu semua demi seorang wanita dan seorang anak, yang tidak lain adalah Melisa dan anaknya.

__ADS_1


Audrey tidak ingin membayangkan seperti apa anak mereka, cantik atau tampan, ia menepis bayangan bahagia Byakta saat anak itu lahir. Karena ia harus menahan sakit saat membayangkannya, teringat akan nyawa yang bahkan saat itu baru satu bulan harus di renggut oleh manusia berhati iblis, Roland.


Entah seperti apa keadaan laki-laki itu, Audrey tidak ingin tahu, ia sudah cukup bahagia sekarang, kenapa harus di rusak dengan ingatan masa lalu yang sangat sakit itu.


__ADS_2