
Suasana di rumah Audrey menjadi sepi sejak kedatangan Byakta untuk mengungkap semuanya pada nenek.
Nenek jarang sekali keluar dari kamar, wanita tua itu seperti menghindari semua penghuni rumah termasuk bibi pembantu yang bekerja di rumah mereka.
Audrey yang merasa dia adalah penyebabnya menjadi tidak nyaman melihat nenek yang sekarang dingin padanya, padahal sebelum ini nenek selalu perhatian padanya, suaranya selalu menggema di setiap sudut rumah, kini sepi.
Audrey merindukan neneknya yang dulu, saat ini ia mencoba menghampiri sang nenek di kamarnya.
Ketukan pintu pun mengudara, "Nek, boleh Rey masuka?" Tidak ada sahutan, Audrey kembali mengetuk pintu, mungkin nenek tidak mendengarnya "Nek, Rey masuk, ya?"
Audrey memberanikan diri membuka pintu kamar nenek, ia mengintip terlebih dahulu ingin tahu nenek sedang apa di dalam.
Ternyata nenek sedang duduk di kursi goyangnya sambil memejamkan mata, Audrey tahu nenek tidak tidur, namun hatinya seperti tercubit saat nenek tidak menyahutnya tadi.
Gadis itu masuk perlahan lalu menutup pintunya kembali, berjalan pelan menghampiri nenek yang sama sekali tidak terusik akan kehadiran Audrey.
__ADS_1
Audrey merendahkan tubuhnya di hadapan nenek, menatap wajah tua itu sedih, meski baru setahun ia tinggal dengan nenek, namun Audrey dapat merasakan lagi kasih sayang ibunya yang sudah lama pergi.
"Nek," panggil Audrey sambil mengambil tangan nenek lalu dia genggam lembut.
Nenek masih tidak bereaksi, tetap diam dan memejamkan mata, membuat Audrey menjadi tidak enak hati, namun dia tidak bisa diam lagi.
Ini adalah tugasnya untuk memberi pengertian pada sang nenek mengenai Byakta, ia juga tidak ingin hanya Byakta yang berjuang, ini cinta mereka, bukan cinta satu pihak lagi, sudah sepantasnya dia juga membantu Byakta.
"Rey tahu nenek mendengarkan, maaf. Maaf Rey membuat nenek kecewa, dia datang tiba-tiba lalu ingin memperbaiki semuanya. Aku menolak, tapi nenek—-,"
"Nek, mungkin dulu dia tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi, tidak ada salahnya kita memberi kesempatan untuk orang yang ingin berubah, Nek maafkan, Rey dan juga dia," Audrey mulai terisak saat mengatakan itu semua.
Nenek masih saja diam dan terlihat enggan untuk merespon, membuat Audrey putus asa. Tidak tahu lagi akan bagaimana, kalau nenek saja bahkan tidak menganggapnya ada saat ini.
Audrey menghela nafas, tidak tahu akan berbuat apalagi, akhirnya Audrey memilih pergi dari kamar nenek.
__ADS_1
"Nenek istirahat, ya. Jangan banyak pikiran, nanti nenek sakit," ucap Audrey.
Setelah itu dia benar-benar pergi meninggalkan kamar nenek, sesampainya di kamar, Audrey langsung terisak.
Ia menyesali semuanya, ini bukan sepenuhnya salah Byakta, ia menyadari itu. Sebab dialah yang sebenarnya membutuhkan uang saat itu, jika dia tidak menyerah dan menandatangani kontrak itu, semua ini tidak akan terjadi.
Audrey melihat pada ponselnya, bahkan sampai detik ini Byakta belum menghubunginya, tiba-tiba keraguan menjalari hatinya.
Bagaimana kalau Byakta menyerah? Tidak bisa dibayangkan jika itu terjadi, harusnya jangan datang lagi, tapi kenapa sekarang datang memeluk lalu seperti melepas secara perlahan.
Ia mencoba menghubungi laki-laki itu namun tidak aktif, rasa takut kehilangan dan juga kesal menjadi satu saat ini.
"Pengecut, dasar pengecut, wajah saja yang garang, tapi ternyata lemah dan pengecut!" Banting Audrey ponselnya, benda itu berderai di lantai.
Dia tidak pernah segila ini, ya cinta sudah membuatnya gila, dulu dia ingin lari dan melupakan segalanya, tapi sekarang rasanya dia ingin mencekik leher laki-laki itu.
__ADS_1