
Bastian mengumpat saat ia menarik begitu saja selimut yang menutup tubuh gadis itu, terpambang jelas bahu putih mulus gadis itu.
"Astaga! Cepat pakai bajumu." Bastian membuang pandangannya ke arah lain.
Gadis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung memakai kembali kemejanya, dia tidak akan melawan laki-laki ini, karena ia akan memanfaatkannya sampai esok hari.
Jadi sebagai gantinya ia akan bersikap baik dan tidak membuat masalah dengan laki-laki yang tidak ia kenal sama sekali.
Bastian kembali duduk di sofa, pandangannya menajam pada gadis yang kini sudah berpakaian lengkap dan akan turun dari ranjangnya.
"Cepat pergi, sebelum aku laporkan pada pihak hotel kau menggangguku," kesal Bastian pada gadis yang sejak tadi hanya diam menunduk.
Namun, bukannya pergi. Gadis itu justru berlutut di depan Bastian sambil memegang telinganya sendiri.
__ADS_1
"Om, bisakah aku disini sampai besok, kalau tidak mereka akan menangkapku dan akan menjualku pada turis," ungkap gadis itu lirih.
Ia sama sekali tidak berani melihat Bastian, sebab yang ia lihat sekilas tadi, tatapan laki-laki itu seperti akan mengulitinya hidup-hidup.
Bastian mendesah, "Katamu tidak akan melibatkan ku! Jika kau terus disini apa tidak sama saja kau melibatkan aku?" Ketus Bastian.
"Aku tidak tahu pada siapa lagi aku akan meminta pertolongan. Tapi, percayalah aku gadis baik-baik, aku tidak akan menyusahkanmu, aku hanya butuh tempat bersembunyi saja." Tatap gadis itu wajah Bastian yang belum melunak sama sekali.
"Bagaimana bisa aku percaya padamu kalau kau gadis baik-baik, sedangkan tiga orang seperti algojo sedang mencarimu," cibir Bastian tak percaya.
Kali ini gadis itu memberanikan diri menatap Bastian, mata indah itu berubah jadi sendu, dari mata itu Bastian bisa melihat begitu banyak beban yang dipikul.
"Tiga orang yang anda bilang seperti algojo itu adalah anak buah turis yang akan membeli ku, sedangkan laki-laki tambun tadi adalah ayah tiriku, ibuku meninggal dua bulan lalu dan setelah itu ayah tiriku mau menjualku kepada turis,"
__ADS_1
Gadis itu mengusap air matanya "aku kabur dari mereka, maaf jika aku mengganggu anda om, tapi setelah besok tiba, aku akan pergi, ku mohon biarkan aku disini sampai besok, aku janji tidak akan menyusahkanmu," timpal gadis itu lagi.
Sepintas Bastian mengingat Audrey, dulu gadis itu memohon padanya karena terdesak, kali ini ia kembali mengalami hal yang sama, bedanya dulu Audrey memang target yang ia cari untuk menikah dengan bosnya.
Tapi kali ini atas alasan apa ia akan menolong gadis ini, dia tidak tahu siapa gadis ini, bukan tidak kasihan, hanya saja Bastian takut kalau gadis itu akan menipunya.
Bagaimanapun juga Bastian hanya seorang pendatang di negara ini, jika ada yang tahu ia terlibat masalah dengan orang lain, ia tidak akan mudah lolos, apalagi gadis itu mengatakan bahwa orang yang akan membelinya adalah seorang turis, sudah pasti orang itu adalah orang berkuasa.
"Berapa umurmu?" tanya Bastian setelah dari tadi diam memikirkan langkah apa yang akan dia ambil nanti.
"Delapan belas tahun, Om," jawab gadis itu.
"Baiklah, tinggallah disini sampai besok, lalu pergi sebelum pagi datang, aku tidak ingin terlibat dengan masalahmu." Bastian bangkit dari duduknya dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1