Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 71


__ADS_3

Pesawat mendarat sempurna di bandara Soekarno-Hatta. Byakta sendiri yang menjemput keluarganya di bandara, setelah menunggu hampir satu jam akhirnya terlihat olehnya Bastian dengan dua orang wanita yang tidak lain adalah bibi Lauren dan juga Melisa.


Byakta melambaikan tangannya pada mereka, membuat Melisa tersenyum, sedangkan Bibi Lauren malah menggerutu dan siap akan menarik telinga Byakta.


Semuanya mendekat pada Byakta, laki-laki itu mengulas senyum pada Raihan lalu mengambil alih anak itu dari tangan Melisa.


"Hi boy, are you ok? Sini Daddy Gendong, kau tambah gendut ternyata." Byakta mengecup pipi gembul Raihan dan balita itu tertawa.


Bagaimanapun kisahnya Raihan bisa ada, Byakta tetap mengakuinya sebagai anaknya, meskipun dia tidak terlalu peduli dengan Melisa.


Semua sudah selesai, kini ia hanya ingin membuka lembaran baru bersama Audrey, memulai lagi dari awal, meskipun akan sulit terhalang restu nenek.


"Kau selalu berbuat sesuka hatimu, sungguh kau tega kepada wanita tua seperti ku," cerca Bibi Lauren, sambil menarik telinga Byakta kuat.


Byakta mengaduh sakit saat Bibi Lauren benar-benar menarik telinganya kuat, "Apa yang kau lakukan, sakit!" Byakta mengusap telinganya sendiri.


Para pengawal yang di bawa Byakta dan juga Melisa hanya bisa tertawa melihat Bibi dan keponakannya itu, mereka selalu bertengkar hal sepele namun saling menyayangi satu sama lain.


"Kau pikir sepanik apa aku ketika kau meminta Bastian memesan tiket mendadak, aku pikir kau dalam bahaya, sialan!" Umpat Bibi Lauren tambah kesal karena Byakta tidak menyadari kesalahannya sama sekali.


"Wanita tua dilarang marah-marah, nanti tambah tua, ya kan, Boy?" ejek Byakta Bibi Lauren yang mendengus sebal.


Di tengah keributan Bibi Lauren dan juga Byakta. Bastian hanya diam, hatinya gelisa memikirkan Rania, barusan ia menerima pesan dari anak buahnya bahwa gadis malang itu dibawa oleh seseorang yang tidak tahu siapa.

__ADS_1


Bastian mengumpat dalam hati, kenapa ia baru dapat kabar setelah sudah sampai di Jakarta, tapi ia tidak bisa diam saja, nyawa seseorang tengah dalam bahaya saat ini.


Ia juga bingung harus mengatakan apa pada mereka kalau dia akan kembali ke Bali, alasan apa yang akan diberikan kalau Bibi Lauren bertanya.


Saat semua sudah masuk ke dalam mobil, Bastian menarik tangan Byakta dan mengajak laki-laki itu sedikit menjauh dari mobil, sedangkan Raihan sudah kembali bersama Melisa.


"Ada apa? Wajahmu terlihat khawatir sekali, apa sesuatu sedang terjadi?"


"Hmm, ada yang sesuatu mendesak, aku akan pergi, katakan pada bibi, aku kembali ke Milan hari ini karena urusan perusahaan,"


Byakta mengerutkan dahi, sebelumnya Bastian tidak pernah seperti ini jika menghadapi masalah apapun, tapi kali ini ia benar-benar terlihat berbeda.


"Masalah apa yang sedang terjadi? Kau benar akan kembali ke Milan hari ini?" Byakta menjadi khawatir melihat ekspresi Bastian yang semakin tampak aneh.


Tidak ingin membuang waktu, Bastian segera meninggalkan Byakta yang masih dirundung kebingungan.


Namun, ia akan menyimpan rasa penasarannya sampai nanti Bastian kembali atau menghubunginya. Byakta kembali di mana mobilnya menunggu.


Memasang wajah biasa saja, laki-laki itu masuk kedalam mobil tanpa bicara apa pun. Mobil pun melesat meninggalkan bandara.


"By, apa kau membawa dua mobil tadi?" tanya Bibi Lauren setelah mobil berjalan jauh.


"Tidak,"

__ADS_1


"Lalu, Bastian naik apa?" tanya Bibi Lauren sedikit heran.


Bibi Lauren sempat sekilas melihat wajah gelisa Bastian, wanita paruh baya itu pun merasa akhir-akhir ini Bastian sedikit berbeda, namun ia tidak pernah bertanya, sebab biasanya dia sendirilah yang akan menjelaskan perihal yang dihadapinya kepada Bibi Lauren.


"Bastian kembali ke Milan hari ini, ada masalah kantor yang tidak bisa diselesaikan lewat panggilan video," jelas Byakta sedikit gugup.


Sebab keduanya tidak pernah berbohong ataupun menutupi masalah apapun kepada Bibi, namun wanita paruh baya itu tampak percaya.


Namun Melisa mengingat kembali bahwa tidak ada masalah yang mendesak di kantor, wanita cantik itu mengetikkan pesan kepada seseorang untuk menanyakan masalah apa yang sedang terjadi di perusahaan Byakta yang ada di Milan.


_______________________________


Jangan kasih like, hadiah, komen apalagi vote kalau terpaksa, maaf aku nggak pernah memaksa kalian.


Kalau kalian kasih Alhamdulillah, kalau enggak ya nggak masalah 😌 yang penting jangan merasa terbebani untuk itu dan menganggap aku terlalu berharap hadiah dari kalian.


Dan lagi, aku bukan malas update. Hidupku bukan di dunia pernovelan saja, aku punya kehidupan real life dan baby umur 1 bulan setengah, jadi tolong, komentarnya di kondisikan ya guys, setidaknya nggak mau kasih like atau yang lainnya, hargailah susah payah saya demi memberi yang terbaik untuk kalian.


Dan juga terima kasih untuk yang sudah mampir ke karya abal-abal saya ini, terutama yang sayang ngasih like, Hadiah dan vote untuk novel ini. sumpah, itu nggak masalah.


Readers kalian luar biasa


oh iya, satu lagi yang kemarin protes sama visual Byakta dah aku ganti ya πŸ˜‚πŸ˜‚ serah kalian suka apa gk, dah aku ganti dengan yang lebih seram dan sedingin kutub Utara.

__ADS_1


__ADS_2