RATU NAGA API

RATU NAGA API
CHAPTER 22


__ADS_3

...***...


Pagi telah menyapa. Mereka semua telah siap melakukan aktivitas pagi itu. Tapi saat itu, ada hal yang sangat mengejutkan. Apakah itu?. Simak terus ceritanya.


Ryuu Fumiko saat itu menuju kamar Ryuu Amane. Karena sudah hampir jam 7 lewat namun belum juga keluar dari kamarnya. Begitu ia sampai di kamar Ryuu Amane, ternyata remaja itu masih tidur?. Amarahnya sangat membuncah, padahal ia telah berjanji akan jualan hari ini, tapi kenapa masih tidur?. "Apakah karena kelelahan dia langsung tidur selama itu?." Dalam hatinya sedikit heran. Tapi entah kenapa ia sama sekali tidak marah, atau pun kesal karen anaknya itu belum juga bangun.


"Amane?!. Apakah kau masih ingin tidur?." Ryuu Fumiko membuka tirai jendela, supaya cahaya matahari masuk, sehingga menyilaukan mata anak tirinya itu. "Hum?. Apakah kau mencoba untuk menarik perhatian dariku?." Ryuu Fumiko mendekati anak tirinya yang masih tertidur?. Apakah benar anak tirinya itu tidur?. Tapi kenapa tidak merespon ketika ia memanggil?. Saat itu ada dua kemungkinan yang ada di dalam pikirannya. Anaknya yang memang sedang mengantuk berat atau memang berpura-pura tidak mendengarkan suara panggilannya agar dibangunkan dengan penuh kasih sayang?. Apakah anaknya ini mulai manja padanya?. Namun saat itu ia tidak marah sama sekali, entah kenapa ia tidak bisa marah dengan sikap anaknya yang seperti itu.


Namun apa yang terjadi?. Ryuu Amane sama sekali tidak menanggapinya. "Amane?." Ia terus berusaha untuk membangunkannya, akan tetapi tetap tidak ada tanggapan. "Oi!. Kau jangan bercanda denganku!." Ryuu Fumiko sangat panik, ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. "Apakah kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan?."


"Amane?!." Ryuu Fumiko mencoba membangunkannya dengan segala cara, akan tetapi tetap saja belum ada tanggapan. "Amane?. Apa yang tejadi padamu amane?. Kenapa kau tidak merespon sama sekali?." Ryuu Fumiko sangat khawatir, dan perasaannya sama sekali tidak tenang.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mencoba memanggil dokter." Hanya itu yang ia ingat saat itu. Pikirannya juga sedang berkecamuk, apakah ia takut akan terjadi sesuatu pada Ryuu Amane?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Di sebuah tempat. Uzumaki Araumi saat itu juga dalam keadaan terluka parah. Ia mencoba membaringkan tubuhnya di sebuah kursi yang cukup nyaman. Ia tidak menduga sama sekali, jika panasnya api yang dihasilkan dari jurus tarian api dalam badai bisa menguapkan air. Kini kulitnya terasa sangat kering, panas dan menyakitkan. Saat itu Sukma raja Naga Air datang padanya.


"Maafkan hamba yang mulia raja naga air. Untuk saat ini hamba tidak bisa melakukan tugas hamba dengan baik." Tubuhnya terasa sangat sakit yang luar biasa. Sehingga ia tidak sanggup lagi untuk bergerak. "Hamba tidak menduga jika suku naga api melakukan cara itu untuk mengalahkan kita." Tentunya itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, dan kemungkinan ia akan mengalami tidur yang cukup panjang. Setidaknya satu bulan penuh untuk masa pemulihan?. Apakah selama itu?.


"Kau tidak perlu cemas. Aku sedang berusaha untuk mencari celah untuk keluar. Dan kau cepat sembuhkan lukamu. Itu akan memakan waktu yang cukup lama, karena luka yang kau alami cukup parah." Raja Naga Air tidak marah pada anak buahnya. Justru ia sangat khawatir, karena anak buahnya saat ini sedang terluka setelah bertarung dengan Ratu Naga Api yang tidak bisa diremehkan kekuatannya.


"Terima kasih atas kebaikan yang gusti raja naga api berikan pada hamba." Matanya semakin terasa berat. "Maafkan hamba sekali lagi." Ada perasaan bersalah yang ia rasakan saat ini karena ia tidak bisa membantu Rajanya untuk segera reinkarnasi.


"Kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Sisanya hanya menunggu waktu saja." Raja Naga Air sepertinya sangat memperhatikan anak buahnya itu. "Untuk saat ini aku harus bertahan dengan segala kemungkinan yang akan terjadi jika aku tidak bisa mendapatkan tumbal baru." Hanya itu yang bisa ia katakan pada saat kondisi yang tidak bisa dipaksakan sama sekali.


"Sungguh maafkan hamba." Suaranya terdengar semakin kecil, dan kini kedua matanya terpejam dengan sangat eratnya. Ia tertidur untuk sementara waktu untuk masa pemulihan tubuhnya.


"Wanita merah sialan itu ternyata telah reinkarnasi dan sekarang dia malah berniat menghambat proses reinkarnasi yang akan aku lakukan?." Raja Naga Air sangat marah, hatinya terasa sangat sakit, sesak dan segera ingin membalaskan sakit hati yang ia rasakan saat ini. Apakah ia tidak bisa melawan wanita merah itu?. "Kita lihat saja setelah ini!. Siapa yang akan berkuasa." Dalam suasana hati yang mendendam ia berkata seperti itu.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Raja Naga Air akan segera reinkarnasi?. Lalu bagaimana caranya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di sisi lain.


Akihara Masamune saat ini sedang berbaring di kamarnya. Karena adanya larangan tidak boleh keluar, maka saat ini ia tidak bisa bertemu dengan Ryuu Amane untuk memastikan bagaimana keadaannya. Perasaan gelisah yang menjadi-jadi karena ia tidak bisa memastikan bagaimana Ratu Naga Api saat ini.


"Tapi aku telah mengobatinya kan?." Ia mencoba untuk menenangkan dirinya. "Itu semua tergantung pada kondisi ryuu amane saja. Apakah dia mampu bertahan atau tidak. Apakah dia bisa mengikuti kekuatan gusti ratu naga api atau tidak." Perasaannya semakin gelisah, dan semakin tidak tenang memikirkannya. "Aku harap gusti ratu akan baik-baik saja. Aku akan memastikannya nanti malam. Aku harap keduanya baik-baik saja." Dalam hatinya berharap semuanya baik-baik saja. "Aku sangat yakin jika ratu naga api akan baik-baik saja. Aku harap ratu naga api akan baik-baik saja. Walaupun pada akhirnya ryuu amane akan berkahir seperti akihara masamune, tapi aku yakin ratu naga api akan baik-baik." Akihara Masamume atau Tatsu sangat takut, namun saat ini ia tidak bisa berbuat banyak selain berdoa jika Ratu Naga Api dan Ryuu Amanae akan baik-baik saja meskipun itu sangat mustahil.


Sementara itu di sisi lainnya.


Biksu Souji Gedaje sangat khawatir dengan keadaan Ryuu Amane. Ia juga tampak gelisah karena, sehingga ia tidak bisa konsentrasi sama sekali. Pikirannya saat ini tertuju pada kondisi Ratu Naga Api yang entah bagaimana. Apakah baik-baik saja atau sedang mengalami kesulitan?.

__ADS_1


"Semoga saja gusti ratu naga api baik-baik." Dalam hatinya hanya berharap seperti itu. "Aku juga tidak menduga jika eyang pensiero memiliki hubungan dengan ratu naga api di masa lalu. Apakah masa sekarang aku juga akan membantunya untuk mengatasi masalah naga air?." Dalam hatinya bertanya-tanya apakah itu hal yang seharusnya ia lakukan?. "Apa yang harus aku lakukan dalam kondisi yang seperti ini?." Dalam hatinya terus memikirkan cara agar dapat membantu atau menyelamatkan Ratu Naga Api atau Ryuu Amane dari rasa sakit yang mereka alami karena penyesuaian diri. Penyesuaian diri dari era yang berbeda memang sangat sulit untuk dilakukan. Seperti hukum alam yang sedang menguji mereka, siapa yang kuat, maka dialah yang akan bertahan, dan yang lemah akan terbuang dengan sia-sia. Apakah itu tidak bisa dihindari?.


Biksu Souji Gedaje menghela nafasnya dengan lelahnya, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia juga bingung dengan apa yang ia rasakan dan yang ia lihat hari ini. Ternyata ayahnya sama sekali tidak berbohong mengenai Naga Air dan Naga Api?. "Mungkin ini saatnya aku menggunakan kekuatan yang aku miliki. Walaupun tidak seberapa, aku harus bisa membantu ratu naga api. Supaya negeri ini tidak mengalami kekacauan yang sangat parah." Tentunya ia tidak ingin itu terjadi. "Aku harap ini akan berguna nantinya." Dalam hatinya sangat berharap dapat membantu keduanya, bukan salah satu dari keduanya?. Apakah ia tidak boleh berharap seperti itu?. Rasanya sangat menyakitkan memilih salah satu jika memang itu yang terjadi.


Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Simak terus ceritanya.


...***...


Dokter telah datang, dan memeriksa keadaan Ryuu Amane. Dengan hati-hati ia terus memeriksa keadaan remaja itu. Tentunya ia sangat terkejut, karena saat itu Ryuu Amane tidak bisa diselamatkan lagi?. Ia masih memastikan apakah ia tidak salah?.


"Untuk apa ibu memanggil dokter?." Bisik Ryuu Asuka sedikit heran.


"Tidak tahu. Tapi sepertinya terjadi sesuatu pada Amane." Balas Ryuu Wataru tidak mengerti kondisinya yang sekarang.


"Wajah amane terlihat sangat pucat sekali. Apakah terjadi sesuatu padanya?." Mereka bertanya karena merasa sangat penasaran.


Saat ini mereka sedang memperhatikan bagaimana Dokter itu memeriksa keadaan Ryuu Amane?.


"Apa yang terjadi padanya?." Ryuu Fumiko tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan Ryuu Amane. "Apakah anakku sakit?. Atau mengalami luka yang serius?." Ia terlihat sangat khawatir.


"Katakan pada kami apa yang terjadi padanya?." Ryuu Amatsu juga penasaran bagaimana keadaan putrinya.


"Maafkan saya tuan, nyonya." Dengan berat hati ia berkata seperti itu.


"Untuk apa kau meminta maaf pada kami?. Memangnya kau memiliki salah apa sehingga kau meminta maaf?." Entah kenapa emosinya bergejolak mendengarkan apa yang dikatakan dokter itu. "Katakan pada kami dengan jelas!." Hatinya sangat gelisah, dan tidak enak sama sekali.


"Anak tuan dan nyonya tidak bisa diselamatkan lagi. Anak nyonya dan tuan telah meninggal." Meskipun agak berat, namun ia menyampaikannya.


"Meninggal?!." Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar. Kata meninggal itu adalah yang sangat aneh bagi mereka.


"Benar. Putri tuan dan nyonya telah meninggal. Nyawanya tidak bisa diselamatkan lagi." Jawab dokter yang memeriksa keadaan Ryuu Amane.


"Apa?!. Itu tidak mungkin!." Gejolak amarah yang dirasakan Ryuu Fumiko sangat berbeda. Kepalanya terasa berdenyut sakit karena tidak bisa menerima dengan apa yang terjadi?.


"Tidak mungkin anakku meninggal!." Entah kenapa Ryuu Amatsu tidak bisa menerima itu. "Amane?!." Ia mendekati anaknya yang terlihat sangat pucat, dan tidak bergerak sama sekali?. "Apakah benar kau telah tiada nak?." Hatinya sangat sakit membayangkan itu. Tidak mungkin anaknya meninggal tanpa adanya alasan yang masuk akal.


"Tidak mungkin!. Tidak mungkin amane meninggal!." Ryuu Fumiko juga tidak menerima itu. Rasanya tidak mungkin anaknya meninggal. "Amane!." Ryuu Fumiko memeluk erat anak tirinya. Tangisnya tidak bisa ia tahan lagi.


Sementara itu alam bawah Sukma.


Ryuu Amane dan Ratu Naga Api saat ini sedang bertatapan satu sama lain. Mereka dapat merasakan perasaan itu.


"Maafkan aku, karena aku terlalu memaksakan diri untuk menggunakan  kekuatan yang aku miliki, kau akan berakhir." Sungguh, Ratu Naga Api sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Ini semua adalah takdir." Ryuu Amane tersenyum lembut. "Jangan salah diri gusti ratu. Ini semua telah terjadi karena takdir." Ryuu Amane tidak menyalahkan Ratu Naga Api.


"Tapi kau akan pergi meninggalkan tubuh ini untuk selama-lamanya. Dan aku akan reinkarnasi untuk menggantikan dirimu yang sekarang." Meskipun sebelumnya ia mengharapkan itu, tapi entah kenapa hari ini ia merasa sangat sedih. Ia yang telah menyebabkan Ryuu Amane pergi dari dunia ini selama-lamanya.


"Itu tidak apa-apa. Aku tidak akan marah." Ryuu Amane masih bisa tersenyum?. Terbuat dari apakah hatinya itu sehingga ia masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti itu?.


"Kenapa kau tidak marah?. Kenapa kau begitu saja menerima takdir yang telah terjadi?." Rasanya Ratu Naga Api ingin menangis karena kelembutan hati Ryuu Amane. "Harusnya kau marah, benci, dan mengutuk dewa yang telah memberikan takdir buruk padamu!." Di sisi lain ia sangat kesal dengan sikap Ryuu Amane yang seakan-akan pasrah dengan keadaan yang ia rasakan saat itu.


"Tenang saja. Di kehidupan berikutnya kita akan bertemu lagi." Begitu baiknya hati remaja itu, sehingga ia mampu membuat Ratu Naga Api menangis. "Tapi saat ini aku mohon jaga mereka dengan baik. Aku takut mereka akan menjadi tumbal naga air. Aku mohon jaga mereka semua." Itulah yang diinginkan oleh Ryuu Amane dalam hidupnya.


"Kau jangan meminta yang tidak mungkin aku lakukan." Ia berusaha untuk menahan tangisnya. Ingin rasanya ia memukul kepala Ryuu Amane, supaya remaja itu tidak mengobrak-abrik perasaannya.


"Tapi aku percaya jika gusti ratu akan melakukan itu. Aku yakin kekuatan yang gusti ratu miliki mampu melindungi mereka semua." Ryuu Amane mempercayai Ratu Naga Api akan melakukan itu dengan hatinya. "Semoga saja gusti ratu bisa menemukan orang yang gusti ratu cari selama ini. Aku akan mendoakan kebahagiaan gusti ratu." Begitu tulusnya apa yang ia katakan pada saat itu.


"Kegh!. Jangan berkata seperti itu padaku!." Sungguh, Ratu Naga Api tidak tahan dengan apa yang ia dengar. Hatinya sangat sakit mendengarnya, dan juga nafasnya terasa sangat sesak karena menahan perasaan yang membuncah di dalam hatinya saat ini.


"Sampai juga lagi, gusti ratu naga api." Setelah berkata seperti itu ia menghilang dan menjadi cahaya. Hanya tinggal Ratu Naga Api yang sedang menahan tangisnya. Hatinya sangat sakit karena ditinggal pergi oleh Ryuu Amane. Dan itu artinya ia akan mengambil alih tubuh Ryuu Amane sepenuhnya?.


"Tidak!. Kau tidak boleh pergi begitu saja!." Teriak Ratu Naga Api dengan sangat kuat, ia tidak dapat menahan kepergian Ryuu Amane. "Kenapa kau pergi!. Kenapa kau begitu lemah!." Teriaknya dengan sekuat tenaga. Hanya tangisan yang membuatnya semakin sesak.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Ryuu Amane benar-benar telah meninggal?. Temukan jawabannya dalam kisah ini. Salam cinta untuk pembaca tercinta.


...***...


Di kantor DPD.


Wakabayashi Ken saat ini sedang menemui Masumi Kenzo. Tentunya ia sedang bekerjasama dengannya untuk mengatasi masalah daerah selatan. Sebagai kepolisian yang bertanggung jawab untuk melakukan pengamanan pada warganya.


"Memangnya kali ini ada masalah apalagi?." Ia bertanya karena penasaran. "Apakah ada masalah yang lebih serius lagi?." Ia kembali bertanya.


"Tadi malam saya sedang mengawasi sekitar. Saya melihat biksu pemarah itu di jalan sempuh raya. Biksu pemarah itu sepertinya menolong anak SMA." Wakabayashi Ken menjelaskan padanya.


"Memangnya apa yang terjadi pada anak itu?. Sehingga dia membantunya?." Agak heran ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Wakabayashi Ken. "Apakah kau tidak menanyakan padanya?. Apa yang terjadi pada anak itu?." Rasanya sangat heran baginya.


"Aku tidak sempat bertanya padanya. Karena dia marah-marah dan malah menyakitiku pak. Karena itulah aku tidak mengetahui siapa anak itu." Wakabayashi Ken terlihat sedikit kesal.


"Hum. Sepertinya sangat mencurigakan sekali." Masumi Kenzo sangat penasaran. "Kalau begitu mari kita temui dia hari ini. Mari kita tanyakan padanya apa yang terjadi sebenarnya." Ia langsung bergerak, karena ia tidak mau terlalu lama membuatnya bertanya-tanya, menebak apa yang terjadi sebenarnya.


"Siap pak." Wakabayashi Ken segera menyusul langkah Masumi Kenzo.


"Aku harus mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang gadis itu." Dalam hatinya ingin segera menemukan jawaban atas apa yang telah ditanyakan hati nuraninya.


Sebagai seorang perwakilan daerah yang dipercayakan untuk mengatur daerah kawasan selatan, tentunya ia ingin mengetahui apa yang terjadi.

__ADS_1


Apakah mereka akan mendapatkan jawaban dari Biksu Souji Gedaje dengan baik?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Simak terus ceritanya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2