RATU NAGA API

RATU NAGA API
CHAPTER 55


__ADS_3

...***...


Ryuu Amanae on.


Uzumaki Arumi, dia adalah wanita yang merupakan reinkarnasi dari Sukma Suku Naga Air. Dia telah melakukan beberapa kejahatan setelah apa yang telah ia lakukan sejak saat itu.


Di pusat perbelanjaan.


Kali ini Uzumaki Araumi berada di sana. Matanya mengamati siapa saja yang berada di sana. Sama halnya dengan apa yang dilakukannya pada siswi tadi, ia meniupkan sesuatu pada seorang laki-laki yang hendak masuk ke toko. Laki-laki itu adalah seorang pekerja kantoran, namun suasana hatinya tampaknya sedang kacau. Pikirannya sangat kusut, hatinya mengutuk hidupnya yang penuh dengan masalah yang tidak berkesudahan.


"Kesedihan dan ambisi yang sangat luar biasa." Uzumaki Araumi dapat melihat itu dengan matanya. "Ini sangat cocok untuk dijadikan tumbal yang mulia raja agung naga air." Ia tersenyum lebar menatap korban di depan matanya.


"Fyuuuh!."


Tidak menunggu waktu yang lama, ia segera menargetkan korban tumbal. Ia tiup hawa tumbal kematian pada korban dengan sangat lembut.


Deg!!!.


Laki-laki itu merasa berada di tempat yang sangat aneh. Ia tidak mengerti kenapa ia berada di tempat yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. "Di-dimana aku?. Aku tidak salah masuk, kan?." Ia kebingungan dengan situasi sekitarnya saat ini. "Kenapa aku bisa berada di sini?. Sejak kapan?." Ia kebingungan, tidak mengerti apa yang terjadi padanya.


"Pergilah ke laut selatan, di sana. Akan aku perlihatkan dunia kantor yang menyenangkan untukmu. Bahkan kau bisa menjadi bos di sana." Ada suara yang membisikkan kata-kata seperti itu padanya. Memerintahkan dirinya untuk menuju laut selatan?. Tapi untuk apa?. Tentunya ia bertanya seperti itu, kan?.


"Siapa kau?. Tempat apa ini?. Kenapa aku harus ke sana?. Bukankah tempat itu terlarang saat ini untuk di kunjungi?." Ia bertanya balik pada seseorang yang tidak bisa ia lihat sama sekali.


"Kau tidak perlu mengetahui ini tempat apa." Jawab suara itu. "Tempat itu bukanlah tempat terlarang. Hanya orang-orang bodoh yang mengatakan tempat itu tempat terlarang." Lanjutnya.


"Memangnya apa yang kau inginkan dariku?. Sehingga kau menyuruh aku ke sana?." Kembali ia bertanya.


"Aku hanya memberikan penawaran padamu. Aku akan mengabulkan semua keinginan yang ada di dalam dirimu. Termasuk keinginan mu yang tidak ingin lagi tertindas hanya karena kau seorang pekerja kantor yang buruk." Itulah janji manisnya.


"Eh?. Apakah itu benar?." Ia tidak percaya sama sekali. "Kau tidak sedang menipu aku bukan?." Ia tidak ingin tertipu hanya karena bisikan itu.


"Aku tidak menipumu. Tapi aku berkata yang sebenarnya." Suara itu seperti sedang menggoda, dan memberikan harapan padanya. "Jika kau tidak mau, ya tidak apa-apa. Aku akan memberikannya pada orang lain." Benar-benar sangat menggoda.


"Tidak!. Jangan berikan pada orang lain!. Aku sangat membutuhkan itu!." Laki-laki itu sangat putus asa, sehingga ia tidak rela jika orang lain yang mendapatkan itu.


"Hehehe!. Baiklah, jika itu yang kau inginkan maka ambil lah sesuka hatimu. Datang saja ke laut selatan, maka kau akan melihat dan mendapatkan sendiri apa yang kau inginkan selama ini." Suara itu terdengar terkekeh penuh kesenangan.

__ADS_1


"Hwaaah!. Aku akan menjadi seorang bos?." Dalam angan-angan laki-laki itu ia telah menjadi seorang bos yang sangat sukses. Impian yang sangat mudah, keinginan yang selalu ia dambakan selama ini. "Aku akan ke sana segera. Supaya orang lain tidak bisa mengambilnya dariku." Hayalannya semakin liar saat ia membayangkan menjadi orang yang lebih kaya dari orang lain.


Padahal kenyataannya, pada saat ini ia dalam keadaan setengah gila. Berjalan tanpa arah dan tujuan?. Tapi pikirannya yang sedikit sadar itu membawanya menuju ke laut Selatan.


"Aku ingin menjadi bos yang sangat hebat!. Akan aku gunakan semua kekayaan ini untuk tuanku yang mulia naga air." Itulah yang dikatakan oleh lelaki itu dalam kesadarannya yang sangat kacau.


"Heh!. Aku harus mengumpulkan lebih banyak lagi. Sebelum matahari tenggelam, aku harus mencari mereka yang memiliki suasana hati yang sangat rapuh, sehingga dengan mudahnya aku merasuki mereka untuk menjadi tumbal kebangkitan yang mulia raja naga air." Uzumaki Araumi tersenyum lembut. Ia melihat kepergian laki-laki itu dengan senyuman penuh kemenangan. "Tunggulah saatnya, dan yang lainnya sedang berusaha untuk keluar dari sana. Mereka juga sedang berjuang untuk melakukan yang terbaik untuk keluar." Ia juga tidak sabar menunggu saudara-saudaranya untuk bereaksi dan keluar dari gerbang itu. "Jika saja pagar gaib milik ratu naga api tidak sekuat itu, pasti kami semua bisa keluar." Di saat yang bersamaan ia merasakan perasaan marah. "Tapi pertanyaannya, dimana ratu naga api itu berada?. Jangan sampai aku bertemu dengannya. Jika aku bertemu dengannya, maka berakhir sudah apa yang aku lakukan. Akan sia-sia semua usahaku." Hatinya sangat memanas, tercinta ia tidak ingin bertemu dengan Ratu Naga Api. Akan berbahaya jika itu sampai terjadi. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya gagal membangkitkan Raja Naga Air yang membutuhkan banyak tumbal. "Aku pasti akan melakukannya dengan baik." Itulah tekadnya saat ini.


Sungguh sangat mengerikan sekali dengan apa yang telah ia lakukan. Tidak manusiawi sekali jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.


Kantor Pusat Kota Sukuranburu.


Murasaki Abeno sangat kewalahan menerima laporan yang masuk dari daerah kawasan selatan. Ia tidak mengerti bagaimana caranya mengatasi masalah itu. Rasanya ia sangat menyesal karena telah menghancurkan Tugu Naga Api. Rasanya ia ingin kembali ke masa itu supaya mencegah mereka agar tidak menghancurkan Tugu Naga Api.


"Apa yang harus aku lakukan?. Kenapa legenda itu malah menjadi kenyataan?. Kenapa semuanya malah berantakan hanya karena setelah tugu naga api itu dihancurkan?." Hatinya sangat sakit menerima laporan yang masuk, melihat keadaan korban yang sangat mengenaskan. Apalagi banyak surat yang masuk tentang ketakutan masyarakat akan kejadian itu.


"Kita harus mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Telah banyak korban yang berjatuhan hanya karena ketidaktahuan kita untuk mengatasi hal gaib seperti ini." Ryouta Uzaki sebagai asistennya juga ikut prihatin dengan apa yang terjadi.


"Masalah kita tidak mengetahui, dan cara melihat sukma itu masuk ke dalam tubuh seseorang. Meskipun biksu souji mengatakan ciri-cirinya. Tapi tetapi saja kita tidak bisa melihatnya." Murasaki Abeno tidak bisa memikirkan cara mengatasi masalah itu. "Yang aku takutkan, bukan hanya di wilayah saja yang akan menjadi korbannya, bisa jadi wilayah lainnya juga akan menjadi korbannya." Pikirannya semakin kusut memikirkan hal terburuk yang akan mereka alami nantinya. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan itu semua.


"Kalau begitu aku akan menemui biksu souji. Mungkin dia bisa memberikan saran untuk mengatasi masalah ini." Murasaki Abeno ingin mengetahui semuanya dari Biksu Souji Gedaje. "Aku tidak akan membiarkan korban berjatuhan lagi hanya karena hewan mitos yang tidak jelas itu!." Ia harus melakukan sesuatu, atau warga Kota Sukuranburu akan menghilang dari peradaban dunia ini.


"Semoga saja kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik pak. Saya juga akan membantu bapak sebisa saya." Ryouta Uzaki menguatkan hatinya.


Dengan jatuhnya banyak korban, tentunya itu sangat mempengaruhi masyarakat. Masyarakat sangat ketakutan dengan kelanjutan itu. Sungguh sangat mengerikan jika tiba-tiba saja ada seseorang yang tergelempang mendadak karena ia tidak kuat menahan hawa Sukma Suku Naga Air yang dipenuhi oleh kegelapan yang sangat luar biasa.


SMA Selatan.


Saat ini Ryuu Amane sedang dipanggil oleh Pak Kazuo Fujitora. Tentunya itu karena pengaduan dari Izumi dan teman-temannya. Selain itu, orang tua mereka juga tidak terima sehingga atas apa yang dilakukan oleh Ryuu Amane terhadap anak-anak mereka.


"Maafkan saya, saya berjanji akan memberikan teguran yang sangat keras padanya." Pak Kazuo Fujitora takut dengan kedatangan mereka yang terlihat sangat marah. Orang-orang berduit yang merasa memiliki kekuasaan di Sekolah ini.


"Hah?. Kaki anakku cedera karena anak miskin ini!. Dan kau masih berani meminta maaf padaku?!." Hideo Kojima, ayah dari Hideo Izumi terlihat sangat marah dan tidak terima sama sekali dengan kondisi anaknya yang sebenarnya tidak terluka parah?.


"Kau pikir berapa besar biaya yang aku keluarkan untuk membiayai pengobatan anakku, hah?!." Matsui Hayate ayah dari Matsui Natsuki malah membicarakan biaya telah telah ia keluarkan untuk menyembuhkan cedera anaknya.


"Jika kau masih saja tidak bisa memberinya pelajaran!. Jangan salahkan kami!. Jika kau akan mengucapkan selamat tinggal pada sekolah ini!." Takeda Oharu ayah dari Takeda Ayuri mengancam Pak Kazuo Fujitora.

__ADS_1


Mereka semua mengancam Pak Kazuo Fujitora, hanya karena masalah itu?. Pak Kazuo Fujitora hanya diam sambil menahan amarahnya. Sebisa mungkin ia menelan perasaan sakit itu. "Sungguh-."


"Apakah hanya seperti itu?. Tujuan tuan-tuan menyekolahkan anak-anak tuan?." Ryuu Amane benar-benar geram dengan apa yang ia dengar saat itu.


"Hah?!. Apa yang kau bicarakan?!." Ketiganya menatap ke arah Ryuu Amane.


"Saya membicarakan cara tuan-tuan mendidik anak-anak tuan. Apakah tuan tidak bertanya?. Kelakuan seperti apa yang telah mereka lakukan pada saya?." Amarahnya sedikit memuncak saat ia melihat kilasan hidup Ryuu Amane selama ini. Sebagai Ratu Naga Api tentunya ia merasa simpati dengan apa yang dialami oleh Ryuu Amane. "Harusnya saya yang menuntut tuan-tuan agar bertanggung jawab atas apa yang telah anak-anak tuan lakukan terhadap saya!." Matanya menatap tajam ke arah mereka.


"Kau ini bicara apa?!. Jangan berkata yang tidak-tidak!." Hideo Kojima juga emosi mendengarkan ucapan itu.


"Coba tuan lihat ini!. Begitu banyak luka yang saya terima atas perbuatan anak tuan-tuan yang terhormat!." Ryuu Amane memperlihatkan beberapa bekas luka yang ia terima selama ini.


"Untuk apa kau memperlihatkan pada kami!." Hideo Kojima bergidik ngeri melihat luka itu.


"Ryuu kun." Pak Kazuo Fujitora sangat terkejut melihat itu. "Lukanya sangat banyak sekali." Rasanya ia tidak sanggup melihat luka lebam yang diperlihatkan Ryuu Amane.


"Apakah mereka semalam ini memiliki hati nurani pada saya?!. Apakah saya tidak berhak untuk sekali membalas atas apa yang telah mereka lakukan pada saya?!. Tidak!." Amarahnya semakin memuncak karena sakit hati yang dirasakan Ryuu Amane sang pemilik tubuh asli. Sementara itu mereka terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ryuu Amane atau Ratu Naga Api.


"Apakah tuan-tuan menyekolahkan mereka ke sekolah ini hanya untuk melakukan hal yang tidak berguna seperti itu?. Apakah tuan-tuan tidak memeriksa nilai mereka di sekolah ini?!. Atau tuan-tuan mengeluarkan uang tuan-tuan dengan sia-sia hanya untuk membeli nilai pada mereka?. Hanya tuan-tuan yang bisa menjawabnya!." Ryuu Amane berusaha untuk menahan tangisnya. Air matanya telah membasahi pipinya. Gejolak kesedihan yang ia rasakan saat itu telah menekan semua beban yang ia rasakan selama ini.


"Ryuu kun." Pak Kazuo Fujitora merasa simpati dengan apa yang ia dengar.


Namun saat itu Ryuu Amanae juga mengalami hal yang sangat sulit di dalam hidupnya. Ia dipanggil oleh mereka yang anaknya telah dianiaya Ryuu Amanae. Itulah yang aku lihat dari raut wajah mereka yang mau memanfaatkan keadaan.


"Jika tuan-tuan berada di posisi saya!. Apakah tuan-tuan tidak merasa sakit hati direndahkan?!. Dihina seperti itu?!. Dianiaya sampai terluka parah seperti ini?!. Apakah tuan-tuan berpikir saya ini adalah manusia batu?. Sehingga saya tidak merasakan perasaan sakit jika dilukai seperti ini?!. Jawab pertanyaan saya dengan hati dan nurani tuan-tuan!. Jangan tuan-tuan pandang saya sebagai orang rendahan hanya karena tuan-tuan memiliki harta!." Lanjutnya dengan semua amarah yang selama ini bertumpuk di dalam hatinya.


"Dia ini." Mereka tidak bisa menjawabnya, rasanya mereka kehilangan kata-kata mendengarkan ucapan Ryuu Amane.


"Jika tuan-tuan tidak rela anak tuan disakiti seperti itu, maka tuan-tuan katakan pada mereka, bahwa di dunia yang keras ini. Mereka tidak akan selalu bisa mengandalkan orang tua mereka hanya untuk menyelesaikan masalah. Jika suatu hari nanti mereka mengalami masalah yang lebih rumit lagi, apalah mereka masih bisa mengadu pada tuan-tuan atau tidak?." Ryuu Amane menghapus air matanya. Sorot matanya lebih tajam dari yang sebelumnya. "Selamat siang. Semoga tuan-tuan bisa memikirkan semuanya lebih baik ke depannya. Jika mereka berani lagi menyiksa saya, jangan salahkan saya untuk berbuat kasar pada mereka." Tanpa menunggu tanggapan mereka, tentunya ia pergi dari ruangan itu. Ia tidak peduli bagaimana tanggapan mereka.


Saat itu aku telah memberikan kepercayaan padanya agar bertindak lebih berani lagi. Jangan takut untuk mencoba hal yang baru, karena dengan mencoba maka kau akan mengetahui kebenaran yang menjadi tanda tanya bagimu. Apakah masih sanggup untuk melakukan itu dengan santainya?. Apakah kau yakin semuanya dijamin aman?. Hanya kau sendiri yang tentukan akan mengarah ke mana, dan tidak boleh diubah. Maka tetaplah pada pendirian yang kau miliki, jangan goyah hanya karena kau merasa bisa, merasa sombong dari apa yang kau lakukan selama ini.


Ryuu Amanae off.


Simak terus ceritanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2