
...***...
Ryuu Amane pada saat itu sedang bersama seorang pemuda yang telah ia tolong dari kejaran orang-orang yang sangat jahat. Meskipun ia dikenal dengan ratu Naga Api yang tidak memiliki perasaan apapun, namun pada saat ini ia membantu pemuda itu. Rasa peduli terhadap sesama manusia membuatnya ingin membantu?. Atau itu adalah perasaan yang dimiliki oleh Ryuu Amanae. Rasa simpati yang dimiliki Ryuu Amanae sepertinya sangat besar dari yang ia rasakan selama ini. Karena pada dasarnya Ratu Naga Api adalah wanita yang sangat cuek akan sekitarnya, kecuali pada suami yang ia cintai. Tidak mungkin ia bersikap dingin pada suaminya sendiri. Ups!. Lupakan. Mari kita lanjutkan.
Saat ini mereka berada di taman yang tidak jauh dari gang tempat Ryuu Amane menghajar pemuda preman yang kini tidak sadarkan diri karena pukulan maut dari Ryuu Amane telah menjatuhkan mereka semua.
"Tubuhnya kecil, tapi dia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa." Dalam hatinya merasa kagum pada Ryuu Amanae.
"Jadi kau tidak sengaja bersenggolan dengan mereka, setelah itu mereka malah mengajakmu ribut?." Ryuu Amane mencoba menebak apa yang tejadi pada saat itu.
"Um, ya, seperti itulah." Balasnya dengan suara pelan. Ia sangat gugup, karena memperhatikan Ryuu Amanae dengan tatapan penuh kekaguman.
"Kau tidak melawan mereka, karena kau kalah jumlah?." Ryuu Amane bertanya. "Atau karena kau takut pada mereka yang memiliki badan yang sangat besar?." Ryuu Amane kali ini menebak alasan kenapa pemuda itu tidak melawan sama sekali. Apakah dia tidak memiliki kekuatan atau keberanian untuk melawan seseorang yang merasa berkuasa atas ketidakberdayaan yang kita miliki?.
"Um." Pemuda bertopi itu kembali mengangguk. "Aku memang takut pada mereka yang memiliki wajah yang sangat menyeramkan. Mereka yang mencari masalah denganku. Entah apa salahku, tapi mereka yang duluan melakukan itu." Ucapnya dengan lesu, karena ia memang tidak pernah mencari masalah dengan siapapun juga.
"Kau ini sangat lemah sekali. Apakah kau tidak bisa melawan sedikitpun?. Kenapa kau hanya pasrah saja menerima itu semua?!." Nada bertanya sangat tegas terdengar dari mulut Ryuu Amane yang terlihat sangat marah dan tidak suka sama sekali. Entah kenapa ia malah bersikap cerewet dan begitu perhatian pada orang lain.
"Aku hanya tidak ingin membuat keributan yang lebih panjang dengan mereka. Hanya itu saja." Jawabnya sambil menundukkan wajahnya. "Aku tidak mau mereka mencariku hanya karena masalah kecil seperti ini." Ya, seperti itulah yang ia pikirkan selama ini. Ia tidak mau terlibat dengan siapapun?. Apakah ia polos atau memang tidak mau?. Bagaimana jika ia benar-benar dibunuh oleh orang lain suatu hari nanti. Apakah dia akan pasrah saja menerima itu?.
"Pantas saja kau terlihat sangat lemah." Ryuu Amane sangat merendahkan pemuda bertopi itu. "Jika kau berpikir bahwa dunia ini akan baik-baik saja jika kau mengalah, maka kau tidak akan pernah bangkit dari kelemahan yang kau miliki." Ryuu Amane bangkit dari duduknya. "Kau dengan mudahnya akan dikalahkan oleh orang lain." Dalam hatinya sangat heran dengan pemikiran seseorang seperti itu. Apalagi dia adalah seorang laki-laki. Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa berpikiran seperti itu?.
__ADS_1
"Tunggu!." Ia menahan Ryuu Amane agar tidak pergi dari sana. "Tunggu sebentar." Entah kenapa ia ingin menghentikan Ryuu Amanae agar tidak pergi dari sana. Hatinya merasa keberatan saat Ryuu Amanae meninggalkannya tanpa ia mengetahui siapa yang telah menyelematkan dirinya dari marabahaya itu.
"Apalagi yang kau inginkan?." Ryuu Amane menghentikan langkahnya. "Apakah kau masih belum puas dengan apa yang aku katakan tadi?." Ia membalikkan badannya agar melihat raut wajah terkejut dari Pemuda bertopi itu. Apakah ia telah berkata dengan sangat kasar?. Sehingga pemuda itu tampak takut. "Aku ini sebe sudah tua, mungkin terbawa umur jadi aku bicara seperti ini." Dalam hati Ryuu Amanae sedikit miris dengan keadaannya yang sebenarnya.
"Apakah aku boleh mengetahui siapa namamu?." Pemuda itu menatap Ryuu Amane dengan penuh harapan.."Mungkin suatu hari nanti kita akan bertemu kembali. Dan saat itu aku ingin mengenal dirimu dengan sangat baik." Entah kenapa perasaan yang ia miliki pada saat itu sangat berbeda, dan sangat menyakitkan untuk dilupakan begitu saja.
"Namaku ryuu amane. Jangan sampai lupa itu." Ryuu Amane hanya tersenyum kecil. "Jadi hanya ingin mengetahui siapa namaku?." Dalam hati Ryuu Amane ingin tertawa mendengarkan itu. Tapi sepertinya itu adalah hal yang sangat wajar jika seseorang ingin mengetahui namamu. Setelah itu Ryuu Amane pergi meninggalkan tempat itu.
"Ryuu amane?." Dalam hati pemuda bertopi itu sangat terkesan dan kagum dengan nama cewek yang telah menyelamatkan dirinya. "Namamu sangat indah sekali!." Teriaknya dengan penuh semangat yang membara. Sehingga itu dapat didengar dengan baik oleh Ryuu Amane. "Namaku takaharu yu!. Ingat itu ya!. Ryuu amane!." Teriaknya lagi dengan suara yang sangat keras. Ia berharap jika teriakannya dapat didengar oleh Ryuu Amane. "Pastikan kau mengingatku jika kita bertemu nanti ya." Lanjutnya lagi sambil melambaikan tangannya.
"Heh!. Cerewet sekali dia itu." Ryuu Amanae sedikit membenci itu. "Seharusnya aku tidak menyebutkan namaku, karena aku tidak mau terlibat dengan urusan pribadi mereka yang berada di zaman ini." Dalam hati Ryuu Amane sedikit menyesal dengan apa yang telah ia lakukan tadi. "Urusanku saat ini hanya untuk memastikan jika naga air tidak akan lagi berbuat kejahatan di kota sukuranburu yang telah dibangun oleh suamiku." Dalam hatinya tentunya tidak ingin itu terjadi.
"Wanita yang sangat kuat. Padahal dia masih sangat muda." Takaharu Yu benar-benar terpesona pada Ryuu Amanae. "Semoga suatu hari nanti aku bisa bertemu lagi dengannya." Ia sangat berharap bisa bertemu dengan gadis pemberani itu. "Aku juga harus merubah diriku. Supaya aku tidak mempermalukan diriku. Aku akan berlatih menjadi lebih kuat lagi. "Aku harus bisa melakukannya." Dalam hatinya telah membuat tekad yang sangat besar. Ia telah membuat tekad untuk berubah, supaya tidak terlihat lemah, jika bertemu dengan Ryuu Amanae. "Ryuu Amanae. Aku akan berubah." Dalam hatinya merasakan gejolak perubahan yang sangat luar biasa.
...***...
Kembali ke Kuil Tenkuu No Seiden.
Akihara Masamune saat ini sedang menjelaskan kepada mereka semua mengenai apa yang terjadi, apa yang membuat suku Mizu begitu mengagung-agungkan nama Ratu Naga Api?. Apa yang telah ia lakukan sehingga mereka semua sangat kagum padanya?. Tentunya ada alasan dibalik sikap Suku Mizu yang sangat menghormati Ratu Naga Api.
"Sebenarnya pada saat itu-." Akihara Masamune sangat gugup ketika hendak ingin menceritakan kisah itu pada mereka semua. "Aku tidak ingat dengan jelas, tapi apa salahnya mencoba mengingatnya." Dalam hati Akihara Masamume sedikit ragu dengan ingatannya tentang kisah itu.
__ADS_1
Kembali ke masa itu.
Sukuranburu yang serba jaman dahulu, pada saat itu sistem kerajaan atau kaisar yang memimpin Kota Sukuranburu. Ratu Naga Api dan Raja Naga Api yang masih muda memimpin kota kerjasama Sukuranburu bagian selatan yang saat itu kebetulan ada dua suku, dan satu Suku Mizu yang merupakan kerabat dekat dari Suku Naga Air. Akan tetapi mereka sepertinya tidak bisa bertahan lagi. Suku Mizu hampir saja ingin memisahkan diri dari Suku Naga Air karena sikap mereka yang terlalu kejam. Apalagi kala itu suku Mizu benar-benar dalam bahaya karena ancaman dari Raja Naga Air. Mereka tidak ingin bermusuhan dengan Suku Naga Api, sehingga hidup mereka terancam karena Raja Naga Air.
"Kenapa kalian malah tidak ingin mengikuti apa yang telah kami rencanakan?!." Bentak Raja Naga Air dengan emosi yang meledak-ledak. Kepalanya sangat panas karena menerima penolakan yang telah mereka katakan padanya. "Aku tidak akan mengampuni kalian, karena kalian telah berani membela musuh kami!. Padahal kita ini adalah satu kekeluargaan!." Amarahnya yang meledak-ledak itu tentunya membuat suku Mizu sama sekali sangat tidak suka. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk membantah ucapan itu. Tentunya itu sangat berlawan arah dengan apa yang dilakukan. "Katakan padaku kenapa kalian sama sekalian tidak setuju dengan apa yang telah kami sepakati!." Bentaknya dengan suara yang sangat tinggi, membuat orang-orang suku Mizu sangat terkejut dan tidak nyaman sama sekali.
"Diam kau!." Kepala suku Mizu akhirnya membalas ucapan itu. "Tentunya kami tidak setuju dengan apa yang kalian lakukan!." Bentaknya dengan nada tinggi. "Apalagi kalian ingin berperang dengan suku naga api!. Kami sama sekali tidak memiliki dendam apapun pada mereka!. Karena itulah jangan paksa kami untuk melakukan hal yang tidak kami inginkan!." Amarahnya sangat membuncah mendengarkan ancaman itu. Tentunya ia memikirkan dampak perperangan itu bagi keselamatan suku Mizu, meskipun mereka dibawah naungan Suku Naga Air.
"Apakah kau ingin mati secepatnya kakek tua?!." Bentak Raja Naga Air penuh dengan kemarahan yang sangat luar biasa. Sungguh sangat menguras emosi ketika berhadapan dengan orang-orang yang sama sekali tidak ingin bergabung dengan rencana besar yang telah mereka siapkan. "Kenapa kau tidak menurut saja?. Aku yakin hidupmu akan jauh lebih aman jika kau masih mau menuruti apa yang telah kami lakukan." Ia bahkan tidak dapat mengendalikan kemarahannya sendiri. "Tapi kau malah membantah apa yang aku katakan!. Maka kau akan menerima kematian dengan cara yang sangat tidak biasa." Raja Naga Air menyeringai lebar. Senyumannya terlihat sangat mengerikan, seakan-akan saat ini ia adalah predator yang siap memangsa musuhnya yang sudah lemah tidak berdaya.
"Kau usah banyak bicara!. Kami sama sekali tidak mau menuruti apa yang kau inginkan!." Balas kepada suku Mizu tidak mau kalah. Mereka benar-benar akan pernah patuh pada mereka yang ingin melakukan kejahatan. "Lebih baik kami mati dari pada kami membunuh nyawa yang tidak berdosa." Dengan sangat tegas Kepala suku Mizu berkata seperti itu. Ia tidak takut sama sekali. Lebih baik mati dari pada berperang dengan orang-orang yang tidak memiliki salah apapun terhadap Suku Naga Api.
Karena kemurkaan yang ia rasakan pada saat itu, Raja Naga Air telah menahan mereka semua. Mereka semua akan dibebaskan jika mereka mau bertarung dengan suku naga api yang jelas-jelas bukanlah musuh bagi suku Mizu. Bukan hanya itu saja, mereka dijadikan budak untuk mendirikan bangunan benteng pertahanan kekuatan mereka. Sungguh sangat kejam sekali apa yang telah dilakukan oleh Raja Naga Air pada Suku Mizu. Mereka menyiksa mereka dengan sangat kejam, tanpa adanya perasaan kemanusiaan sedikitpun.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka bisa melakukan sesuatu yang dapat membuat mereka tidak menggangu lagi?. Bisakah mereka saling melindungi diri mereka dari kejahatan yang telah mereka rencanakan?. Apakah mereka akan mengalami kesulitan nantinya karena telah berani membantah keinginan Raja Naga Air yang menginginkan perorangan dengan Ratu Naga api, juga Raja Naga Api?. Hanya waktu yang akan menjawab semua itu. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Simak terus ceritanya.
...***...
Sementara itu Raja Naga Air yang berada di laut selatan saat ini masih berusaha untuk melakukan sesuatu. Walaupun tubuhnya tidak bisa bergerak, namun pikirannya masih melayang-layang entah kemana. Tentunya memikirkan cara untuk kembali bangkit, supaya ia bisa menguasai dunia ini.
"Tumbal, kenapa tumbalnya lama sekali. Tumbal yang mereka berikan padaku masih belum cukup. Aku masih membutuhkan banyak tumbal untuk bangkit kembali." Dalam pikirannya masih membutuhkan tumbal yang lebih banyak lagi. Bahkan dalam keadaan seperti itu itu ia masih saja memikirkan hal yang berbahaya. "Terkutuk lah kau ratu naga api. Berani sekali kau memperlakukan aku seperti ini." Hatinya masih sangat dendam pada Ratu Naga Api yang telah membuatnya seperti itu.
__ADS_1
"Aku akan segera bangkit kembali, aku akan segera bangkit dan membalas semua apa yang pernah kalian lakukan padaku." Hatinya sungguh sangat dipenuhi oleh dendam yang sangat membara. "Aku akan merebut kembali tahta, kedudukan, serta kekuasaan yang aku miliki. Tunggulah hingga pada saat itu. Aku tidak akan mengampuni kalian semua, karena kalian telah berani merendahkan aku." Dalam hatinya sangat membara. Ingin segera melakukan itu semua, akan tetapi fisiknya belum mampu melakukan itu. Hanya pikiran jahatnya saja yang menginginkan itu semua. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu anak buahnya untuk melakukan itu semua. Apakah ia tidak bisa melakukannya sendiri?. Sedangkan kondisinya masih dalam keadaan seperti itu. Apakah ia bisa melakukan itu dengan baik?. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Namun dalam hatinya sebagai Raja Naga Air, ia tidak akan mudah menyerah walaupun pikiran jahatnya menginginkan itu, tapi sayangnya tubuhnya tidak bisa diajak kompromi sama sekali. Entahlah, semuanya hanya berjalan sesuai dengan takdir yang telah ditentukan. Hanya bisa melakukan itu saja.
Next.