
...**...
Ryuu Amane on.
Siapapun orangnya akan marah jika disambut seperti itu. Mereka datang dengan niat yang baik, meminta bantuan pada seorang biksu yang mungkin mengerti masalah hal yang gaib. Tapi sayangnya biksu Souji Gadeja sekali tidak menjawab dengan sangat baik tujuan itu. Mereka memiliki pandangan masing-masing, kenapa mereka bersikap seperti itu.
Murasaki Abeno masih menjelaskan apa yang akan ia lakukan untuk mengatasi masalah ini pada mereka semua.
"Ini menyangkut masalah nyawa banyak orang. Karena itulah aku mohon kerjasamanya agar kita bisa melindungi mereka semua dengan baik." Murasaki Abeno terlihat sangat sedih. "Apakah kalian tidak merasa kasihan pada para korban serta keluarga mereka yang ditinggalkan?." Lanjutnya. Hatinya sangat sakit, dan semakin sakit karena ia belum juga menemukan caranya. "Jika aku mampu melakukannya, maka aku tidak akan meminta bantuan pada kalian semua untuk menyelesaikan masalah ini." Ia mengatakan apa yang ia rasakan. "Karena aku tidak mampu. Makanya aku meminta bantuan kalian supaya masalah ini segera diatasi dengan baik." Ia hampir saja menangis karena perasaan sedih yang ia rasakan pada saat ini.
"Itu benar biksu souji gedaje." Kali ini Masumi Kenzo yang berbicara. "Dengan segala hormat. Katakan pada kami bagaimana caranya kita mengetahui seseorang itu adalah reinkarnasi naga api, juga bagaimana caranya kita menemukan ratu naga api supaya bisa menyegel kekuatan naga air?." Masumi Kenzo terlihat sangat tidak sabaran.
"Jadi kalian beranggapan seperti itu?." Dalam hati Ryuu Amane dapat menyimak apa yang mereka katakan.
Sedangkan Biksu Souji Gedaje hanya diam saja. "Tidak mungkin aku mengatakan jika ratu naga api berada di sini." Dalam hatinya menghela nafasnya. "Aku yakin kalian tidak akan percaya.
"Kami mohon tuan biksu-." Ucapan Wakabayashi Ken terpotong.
"Ya, ya, ya, ya." Biksu Souji Gedaje merasa lelah dengan apa yang mereka lakukan. "Aku akan melakukannya." Lanjutnya. Tentunya itu membuat mereka semua tercengang dengan apa yang mereka dengar. "Tapi aku minta syarat, jika kalian tidak boleh datang ke sini, dan galian hanya menerima hasil bersihnya saja. Kembali ia menghela nafasnya dengan lelah sambil berkata seperti itu.
Memang seperti itulah yang terjadi diantara Mereka yang memiliki egois yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Pukul 14.30 sore.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Biksu Souji Gedaje yang memberikan janji pada mereka, bahwa ia akan membantu mereka untuk mengatasi masalah itu. Murasaki Abeno, Masumi Kenzo dan Wakabayashi Ken segera pamit undur diri.
"Huffh!. Akhirnya mereka pergi juga." Biksu Souji Gedaje bernafas dengan lega. "Sangat menyebalkan sekali mereka itu tiap hari datang seperti sangat menggangguku." Dalam hatinya sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Masumi Kenzo dan Wakabayashi Ken.
"Sepertinya kau tidak suka pada mereka." Ratu Naga Api atau Ryuu Amane sangat jelas menangkap sikap buruk Biksu Souji Gedaje pada mereka. "Apakah itu sangat mengganggumu?." Entah kenapa itu ia melihat itu dari raut wajahnya Biksu Souji Gedaje.
"Sangat tidak suka, dan itu sangat menggangguku." Ia tidak menyangkalnya. Itu artinya benar. "Beberapa kali mereka datang padaku. Dan aku telah mengatakan pada mereka bahwa uang yang mereka berikan padaku, aku berikan pada mereka yang tidak mampu karena larangan keluar rumah jika tidak ada urusan penting." Ucapnya dengan nada kesal. "Jika aku menerima uang mereka, aku tidak melakukan apa yang mereka inginkan, aku yakin mereka memliki senjata untuk memaksa aku untuk melakukan pekerjaan itu. Aku tidak sudi menjadi pekerja mereka." Lanjutnya dengan nada kesal.
Ryuu Amane dan Akihara Masamune tertawa hambar mendengar apa yang dikatakan oleh Biksu Souji Gedaje. Mereka tidak menyangka, meskipun seorang Biksu, terkadang mereka suka mengeluh, dan memiliki beberapa hal yang sama sekali tidak mereka sukai.
"Sungguh mulia sekali hatimu." Ryuu Amane memujinya. "Tapi di sisi lain, kau sangat pemilih sekali dalam membatu orang lain." Ryuu Amane sangat heran dengan itu. "Apakah seperti itu sikapmu sebagai seorang biksu?. Sangat luar biasa sekali." Ryuu Amane tidak dapat menahan tawanya pada saat itu.
"Jendral souji pensiero pasti bangga memiliki keturunan seperti kau." Bahkan Akihara Masamune juga memujinya. "Sungguh sangat luar biasa sekali penerus dari souji pensiero ini." Ia sangat ingat bagaimana watak Jendral Souji Gedaje. Namun ia tidak menduga jika keturunannya malah menjadi seorang biksu?. Meskipun mereka tidak mengetahui apa yang terjadi setelah Ratu Naga Api memutuskan untuk menjadi pilar segel bagi suku Naga Air, sepertinya ada banyak hal yang telah mereka lewatkan.
"Berisik!." Akan tetapi sepertinya Biksu Souji Gedaje sangat tidak suka. "Meskipun kalian adalah naga api, aku tidak akan segan-segan juga." Ia menatap tajam ke arah Ryuu Amane dan Akihara Masamune. "Aku adalah aku, dan aku tidak akan akan menuruti perkataan siapapun juga." Ucapnya tanpa adanya keraguan. "Jadi jangan harap aku bisa membantu siapa saja dengan mudahnya tanpa pertimbangan!." Itu adalah keputusan yang telah ia buat setelah ia merasakan bagaimana harus bersikap pada orang lain agar tidak semena-mena padanya suatu hari nanti.
__ADS_1
"Hoo!. Boleh juga pendirian yang kau miliki." Akihara Masamune terkesan. "Sangat tidak ingin merepotkan diri sendiri." Lanjutnya. "Sangat menggambarkan keturunan souji pensiero." Sangat miris rasanya membayangkan bagaimana sikap Souji Pensiero pada saat itu.
"Tapi kenapa kau malah melindungi kami?." Ryuu Amane merasa heran dengan itu. "Kau tidak mengatakan pada mereka, jika kami adalah reinkarnasi naga api?." Ryuu Amane ingin mendengarkan apa yang ada di dalam hati Biksu Souji Gedaje yang sebenarnya. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?. Atau ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami?." Ryuu Amane benar-benar mengajukan pertanyaan yang menguji hati Biksu Souji Gedaje.
"Heh!." Ia malah memalingkan wajahnya sambil mendengus kesal. "Pemerintah itu lebih dengan ilmu politik. Akan berbahaya jika gusti ratu diekspos oleh mereka, aku yakin gusti ratu akan dijadikan alat bagi mereka untuk melakukan pertahanan kota ini." Itulah alasan kenapa ia tidak suka dengan politik yang dimainkan oleh pemerintah. "Mereka akan melakukan apapun saja, setelah itu mereka akan duduk santai sambil memberi perintah. Tentunya aku sangat membenci dengan sikap yang seperti itu." Biksu Souji Gedaje sepertinya mengetahui bagaimana kemungkinan terburuk yang akan terjadi nantinya. "Karena itulah aku tidak akan mengatakannya, meskipun mereka memaksaku dengan cara yang kasar nantinya, aku sendiri yang akan melawannya." Dalam hatinya berkata seperti itu.
"Jadi ada yang seperti itu?. Sungguh serakah sekali." Ryuu Amane sedikit terkejut mendengarkan itu. "Pantas saja kau tidak ingin terlibat dengan hal-hal yang merepotkan seperti itu." Ryuu Amane sedikit memahami apa yang dikatakan Biksu Souji Gedaje. "Tidak di zaman dahulu, atau zaman sekarang. Rasanya sama saja. Menginginkan hal yang instan, memerintahkan orang lain karena kekuasaan yang miliki hanya karena mereka memiliki uang untuk membayar orang-orang kecil. Namun malah menyuruh mereka mati demi menjaga sebuah rahasia." Hatinya sangat benci untuk mengingat itu semua.
"Sangat mengerikan juga politik di zaman ini." Akihara Masamune sangat tidak suka dengan politik yang seperti itu. "Bahkan lebih mengerikan dari pada zaman aku hidup dulu." Ia tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang yang sekarang memanfaatkan orang lain untuk kepentingan mereka. "Tapi intinya sama-sama ingin berkuasa tanpa menodai tangan mereka, hanya bisa mengandalkan orang lain dalam bertindak." Sebagai pengawal pribadi Ratu Naga Api, ia melihat itu semua, tapi apa yang ia lakukan benar-benar tulus ingin menjaga keselamatan Ratu Naga Api yang selalu menjadi incaran orang-orang pada masa itu. Entah itu dari segi politik, dari segi kehidupan biasa sebagai wanita cantik, atau sebagai menantu yang tidak diinginkan?. Ia telah menjadi saksi apa yang terjadi pada masa itu.
"Karena itulah aku tidak mau membantu mereka. Namun demi melindungi gusti ratu juga tuan tatsu, akan aku lakukan untuk menutupi identitas asli gusti ratu juga tuan tatsu." Biksu Souji Gedaje tersenyum ramah menatap keduanya. Begitu tulus atas apa yang ia katakan pada mereka.
"Terima kasih atas kebaikannya." Ryuu Amane sangat senang mendengarnya. "Aku sangat bersyukur masih ada orang yang baik di dunia ini." Ia dapat merasakan itu. "Suatu hari nanti aku pasti akan membalas kebaikan yang kau berikan padaku." Ryuu Amane tersenyum kecil.
"Syukurlah gusti ratu." Akihara Masamune juga sangat bersyukur akan hal itu.
"Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu." Saat itu Ryuu Amane ingat sesuatu yang sangat ingin ia ketahui dari hatinya.
"Apa yang ingin gusti ratu tanyakan?." Ia balik bertanya.
"Apakah kau mengetahui dimana letak bangunan kuno atau sejenis monumen ratu atau raja naga api?. Ada sesuatu yang ingin aku pastikan di sana." Ryuu Amane tentunya ingin melakukan sesuatu.
"Baiklah, jika memang gusti ratu ingin ke sana akan saya antar ke sana." Sepertinya ada hal yang penting yang ingin dilakukan Ryuu Amane. Karena itulah ia tidak menolaknya. "Tapi sepertinya tidak semudah itu kita masuk ke sana." Di sisi lain ia juga harus memperingatkan Ryuu Amane atau Ratu Naga Api akan satu hal.
"Maafkan aku. Aku akan mengantarmu ke sana besok. Karena malam ini kita akan memantau kembali di mana uzumaki araumi berada." Karena merasa sungkan, ia memberi hormat pada Ryuu Amane karena telah berani meremehkan kemampuan Ryuu Amane atau Ratu Naga Api. Dan di sisi lainnya juga ia harus memperingatkan Ratu Naga Api mengenai wanita yang merupakan wadah naga Air.
"Ya. Kau benar." Ryuu Amane tentunya tidak akan lupa dengan itu. "Akan berbahaya jika dia masih hidup setelah melarikan diri dari jurusku." Lanjutnya sambil mengingat bagaimana pertarungan mereka pada saat itu. Mereka tidak akan membiarkan itu terjadi, dan mereka akan segera mengatasinya.
Aku tidak menduga sama sekali, jika dia tidak ingin mengatakan siapa kami yang sebenarnya. Terkadang seseorang membiarkan dirinya terlihat jahat dimata orang lain demi melindungi sesuatu yang sangat berharga baginya. Terima kasih aku ucapkan padamu Biksu Souji Gadeja. Kau sama baiknya dengannya, kalian yang melakukan sesuatu tampa pamrih. Aku sangat kagum padanya yang seperti itu.
Di suatu tempat.
Setalah kejadian itu, semaunya sangat kacau, meskipun parah, namun masih bisa diatasi kembali. Karena hanya laut selatan saja yang mengalami kerusakan parah. Akan tetapi tempat itu sekarang menjadi tempat terlarang bagi siapa saja yang ingin memasukinya. Pemerintah telah memberikan syarat edaran larangan itu.
Murasaki Abeno sebagai Gubernur Kota Sukuranburu memberikan pengumuman itu melalui media. Sehingga terjadinya keributan tentang kebenaran itu. Media sosial juga sedang sibuk membicarakan fenomena yang terjadi di Laut selatan. Murasaki Abeno sedang sesi wawancara dengan beberapa TV mengenai masalah aneh itu.
"Saya murasaki abeno. Selaku gubernur kota sukuranburu menghimbau pada penduduk kota sukuranburu. Untuk sementara waktu jangan mendekati laut selatan. Karena kawasan laut selatan saat ini sedang berbahaya." Itulah penjelasan singkat darinya.
"Lalu bagaimana cara mengatasi masalah laut selatan itu pak?. Apakah bapak akan menyewa seseorang yang mengetahui cara mengatasi masalah laut selatan?." Wanita itu kembali bertanya. Tentunya itu pertanyaan yang mewakili mereka semua. Mereka takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Sebagai gubernur saya akan mencari solusinya. Harap semuanya menaati larangan tersebut. Karena akan berbahaya jika sukma naga itu keluar dari sana." Hanya itu yang bisa ia jawab.
"Sukma naga?." Mereka yang berada di sana sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Murasaki Abeno.
"Maaf, saya tidak bisa menjelaskan lebih rinci. Namun kami akan berusaha mengatasi masalah itu dengan cepat." Murasaki Abeno segera meninggalkan tempat, tentunya dibantu pengawalnya. Sehingga pemburu berita menghebohkan itu tidak bisa mengejarnya.
"Pak!. Tunggu dulu pak!. Jelaskan pada kami!. Tolong jelaskan pada kami!." Mereka berusaha untuk mengejar Murasaki Abeno. Akan tetapi ia segera masuk ke dalam gedung gubernur. Mereka semua kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keterangan yang lebih lanjut.
"Maaf, jangan mengganggu untuk sementara." Itulah yang dikatakan oleh satpam yang menghalangi mereka supaya tidak masuk ke dalam gedung gubernur.
"Untuk saat ini kita tidak bisa mendapatkan keterangan langsung dari tuan murasaki abeno. Tapi kita semua berharap itu bukanlah bencana yang akan membuat negeri ini dilanda ketakutan." Itulah harapan dari sang reporter.
Namun dibalik semua apa yang dilakukan oleh Murasaki Abeno dan bawahannya adalah demi melindungi semua orang yang sama sekali tidak mengetahui jika sukma naga air telah mengancam kehidupan manusia yang tadinya aman, namun hanya karena adanya masalah itu, kini semua orang sangat takut untuk melakukan aktivitas di luar.
Saat ini Kota Sukuranburu bagian selatan sepertinya mengalami teror sukma naga air yang sangat menakutkan. Banyak korban yang telah berjatuhan karena masalah itu. Media cetak, media sosial, dan lainnya telah heboh karena masalah ini. Apalagi korban yang berjatuhan sangat banyak, sehingga mereka semakin ketakutan. Bahkan ada yang demo di depan kantor dewan perwakilan daerah kota bagian selatan. Masumi Kenzo sendiri juga bingung harus bagaimana caranya mengatasi masalah ini.
"Selamat siang pemirsa. Ini masih menyangkut kasus aneh yang menimpa kota selatan kota sukuranburu yang sama-sama kita cintai." Seorang reporter cantik memulia siaran langsung yang mungkin akan disaksikan oleh orang banyak melalui televisi. "Hingga saat ini belum ada tindakan dari dewan perwakilan daerah bapak masumi kenzo. Padahal korban telah berjatuhan?. Apakah bapak masumi kenzo masih akan tetap diam?. Sedangkan korban telah terlihat di depan mata kita semua?. Keadaan korban yang terverifikasi sebagai korban dari Sukma naga hingga saat ini belum ada tanggapan." Lanjutnya. "Keluarga korban juga belum menerima tindakan konvensasi dari apa yang terjadi?. Bagaimana mungkin ini dibiarkan begitu saja?. Padahal sudah banyak korban yang jatuh akibat sukma naga air?. Apakah benar?. Semua ini adalah ulah sukma naga air?. Sedangkan kita semua tidak bisa melihat sosok hewan mitos yang seharusnya tidak ada lagi di dunia ini?."
Mereka semua yang berasal dari stasiun televisi yang berbeda-beda terus memberikan laporan mengenai apa yang terjadi.
"Bisa dilihat saat ini ada beberapa masyarakat yang mulai bergerak untuk melakukan demonstrasi. Mereka sangat kecewa dengan bapak masumi kenzo yang tidak memberikan klarifikasi mengenai korban?." Seorang reporter wanita lainnya melihat situasi di depan gedung kantor DPD yang saat ini dipenuhi oleh masa, dan juga dijaga ketat oleh satuan kepolisian bersenjata agar mereka tidak nekad masuk ke dalam gedung.
Sementara itu di dalam gedung.
"Maaf pak?. Di depan gedung masyarakat telah berkumpul. Bahkan media telah memanasi keadaan pada masyarakat agar kita semua bertindak." Kadoaki Takayama sebagai salah satu anggota yang ikut bekerja di dalam kantor Gubernur merasa tidak nyaman dengan apa yang ada di luar sana. Sehingga ia melapor pada Masumi Kenzo agar segera menjelaskan pada mereka semua mengenai masalah yang terjadi.
"Mereka semua tidak akan mengerti!. Bahkan aku sendiri tidak mengerti." Masumi Kenzo bangkit dari duduknya.
"Pak?. Apa yang akan bapak lakukan?." Kadoaki Takayama merasakan perasaan yang tidak nyaman sama sekali. Karena apa yang ia lihat saat ini lebih menyeramkan dari yang ia bayangkan selama ini.
"Akan aku buat mereka mengerti arti ketakutan yang aku rasakan selama ini. Sehingga mereka tidak lagi berani demo di depan kantor ini." Hatinya sedang membara semangat berjuang seseorang yang mengalami hal yang sangat buruk.
"He?." Kadoaki Takayama sangat heran dengan apa yang akan dikerjakan oleh atasannya itu. "Memangnya bapak punya rencana apa?." Kadoaki Takayama kembali bertanya pada atasannya itu.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mereka." Balasnya dengan perasaan suasana hati yang bergejolak.
"Aku harap bapak tidak melakukan hal yang sangat merugikan nantinya." Kadoaki Takayama mencoba mengingat atasannya agar tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
Saking takutnya, mereka malah melakukan aksi protes terhadap pemerintah, mereka menganggap pemerintah tidak becus dalam menangani sebuah masalah, sehingga mereka memutuskan jalur demo. Apakah mereka tidak takut?. Cara yang mereka gunakan justru membuat Kerusuhan. Bagaimana jika yang datang adalah sukma naga air?. Apakah mereka tidak memikirkan itu?. Demi dan untuk apa mereka melakukan itu, jika kematian mengintai mereka?. Apakah bisa menghindar dari masalah yang terjadi?. Tidak semudah itu.
__ADS_1
Ryuu Amanae off.
...**...