
...3 hari kemudian ......
Sebelum mematikan laptop, aku memeriksa sebuah situs.
Untuk pertama kalinya aku menyesal dengan apa yang aku lakukan, aku harus membaca pemberitaan bukan hanya tentang pertunanganku, tapi juga Arkan.
Aku ingat ada janji dengan wartawan berita, untuk memanfaatkannya, aku mengajak mereka bediskusi tentang skadal itu.
Selagi berdiskusi, aku selalu berhati - hati, agar tidak mendatangkan masalah baru.
Setelah diskusi selesai, dalam hati aku berharap masalah akan segera bisa di tangani.
...Beberapa menit kemudian .......
...Tok tok!...
Seseorang mengetuk pintu berhasil mengalihkan perhatianku, ternyata yang datang adalah Kean.
Kean langsung menghampiriku, menatap lekat diriku sehingga membuat aku kehilangan kata - kata.
"Kamu baik - baik aja, kan?" aku menganggukkan kepala menanggapinya.
"Pemberitaan itu mengangguku, Adara." ucapnya seraya menangkup wajahku.
Aku diam sejenak, kemudian mundur menjauh beberapa langkah, memberi jarak antara aki dan Kean.
"Ka-kau mau minum, sesuatu?" tawarku.
Aku tersenyum manis, agar dia tidak membicarakan itu lagi, ia menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum padaku.
Aku meminta karyawanku untuk membawakan kopi untuk Kean, Kean terlihat senang aku menjamunya.
Begitu waktu menunjukkan saatnya untuk rapat, aku segera bergegas ketempat tersebut.
Aku buru keruang rapat, agar tidak terlambat. namun ....
Aku melihat Papa dan Mama datang bersamaan, seketika aku menghentikan langkahku.
"Apa yang mereka lakukan disini?' batinku mulai cemas. Tanpa menunggu lama aku langsung menghampiri mereka.
"Mama ... Papa ... kalian kenapa bisa disini?" tanyaku heran.
"Bawa kami ke ruangamu, baru setelah itu kita bicara." aku mengangguk setuju, kemudian menuntun mereka ke ruanganku.
Setibanya di ruanganku, mereka menatapku dengan tatapan dingin.
"Adara, apa hakmu mengklarifikasi berita yang beredar?!" tanyanya yang terselip nada kesal.
"Tentu saja aku punya hak, ada masalah apa dengan itu?" tanyaku dengan nada santai.
Mereka kembali terlihat kesal, bahkan lebih kesal dari sebelumnya. aku berusaha bersikap seperti biasa saja, seperti tidak terjadi apa - apa.
__ADS_1
Tiba - tiba karyawanku datang, dan mengingatkanku akan rapat yang seharusnya berjalan. seketika aku bernafas lega kerena rasanya aku baru saja di selamatkan.
"Maaf, bukannya aku tidak sopan ... tapi aku harus segera pergi." pamitku, sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan mereka di ruanganku.
Aku dan karyawanku itu berjalan beriringan, aku hanya diam sambil terus melangkahkan. karyawanku itu menatapku dengan raut wajah cemas.
"Buk, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Aku baik - baik saja, dimana mereka?" tanyaku dengan nada dingin, tanpa mengalihkan pandangan.
"Diruangan sebelah sana." katanya sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat.
Aku mengamati arah tunjuknya, lalu melanjutkan perjalanan.
...Beberapa menit kemudian .......
Rencana awal yang sudah di rencanakan dengan rapi, aku terpaksa harus mengganti rencanaku.
Karena saat aku kembali dari rapat penting, aku melihat para orang tuaku masih menungguku di ruanganku.
"Masih ada yang perlu dibicarakan?" tanyaku dengan nada dingin.
"Dengar Adara, mau tidak mau perjodohan ini akan tetap berlanjut." ucapnya dengan nada tegas.
Aku menghela nafas panjang, seperti biasa mereka selalu keras kepala.
"Kalau begitu silahkan Mama saja yang di jodohkan," entah dari mana datangnya keberanian itu, seolah aku tak takut dengan apa yang akan terjadi.
...Beberapa menit kemudian .......
Aku sedang memainkan ponselku, sambil menunggu pesanan dan temanku datang.
Sementara Arkan, sedang sibuk memikirkan pemberitaan yang sama denganku. Namun dia dengan wanita yang waktu itu pernah bertemu denganku.
"Kau kenapa, Arkan?" tanya Dean.
Arkan mengabaikan kedua temannya, dan makin larut dalam pikirannya.
...Tok tok!...
Suara ketukan di pintu ruangan Arkan, berhasil mengalihkan perhatiannya.
"Ternyata kau, Glen." dengusnya kesal, kemudian kembali menyandarkan kepalanya.
Glen adalah salah satu teman baik Arkan, Namun jarang dekat karena banyak kesibukkan.
Dia sering keluar negeri untuk metting, atau sekedar memeriksa keadaan perusahaan. Karena dia termasuk orang kepercayaan Arkan.
"Oh ... iya, soal berita itu, apa benar?" Dion yang berada di samping Glen, langsung perutnya pelan, agar tidak bicara sembarang.
"Apa? kenapa?" Dean memberi isyarat untuk diam, Glen yang akhirnya menangkap isyarat itu. mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang lain.
__ADS_1
Arkan dan orang yang jodohkan dengannya itu, sudah cukup lama di jodohkan dan karena Arkan selalu menolak. Orang tuanya menjadi terus mendesaknya.
Gadis itu menerima begitu saja perjodohannya tersebut, karena memang sejak lama ia mengincar Arkan.
Entah karena pengaruh Arkan, atau karena dia mencintainya, yang pasti dia menginginkan Arkan sejak lama.
Baru pertama kali Arkan memikirkan pemberitaan miring mengenai dirinya, hingga ia tak fokus kerja. Pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan teman - temanya yang ada di ruangannya.
Sementara Arkan Pergi, selama 15 menit aku menunggu dari waktu yang di janjikan, akhirnya kedua temanku itu datang.
Aku menatap Shane dan Vivia secara bergantian dengan wajah datar, mereka hanya tersenyum kaku.
"15 menit." keluhku, sambil melipat kedua tanganku di dada.
"Macet." Aku terkekeh, membayangkan apa saja yang mereka lakukan hingga bisa kompak tak seperti biasanya.
Aku tersenyum sambil meminta mereka duduk, aku kembali memanggil waiters untuk mencatat pesanan mereka.
Begitu waiters itu selesai mencatat, waiters itu langsung pergi untuk mengambilkan pesanan kami.
...Beberapa jam kemudian ......
Begitu kembali dari Kafe saat malam harinya, aku terkejut melihat Arkan bersandar pada mobilnya di depan apartementku.
"Bagaimana, dia bisa sampai disini?' batinku, aku mendekat pada Arkan.
"Sedang apa kau disini?" tanyaku heran dengan nada dingin.
Arkan tak menjawab pertanyaanku, dia malah menatapku lekat, dan tidak mengalihkan pandangannya kembali.
"Kau tidak dengar aku bertanya, ya?" tanyaku mulai kesal. Arkan masih tak bergeming.
"Baiklah, aku pergi kalau begitu."
...Greb!...
Belum sempat aku melangkahkan kaki, Arkan menarik tanganku, sehingga aku langsung jatuh ke pelukkannya.
Aku terdiam mematung, otakku mencoba mencerna atas apa yang tengah Arkan lakukan.
Tanpa disadari kalau aku tidak merasa marah atau kesal, dengan tindakannya yang tiba - tiba tersebut, dan justru membuat nyaman. Tapi itulah yang membuatku tidak mengerti.
Begitu tersadar, aku berusaha melepaskan diri darinya. anehnya saat melihat wajahnya aku sama sekali tidak merasa marah, sebenarnya apa yang terjadi?
"U-untuk apa kau, memelukku Hah?!" aku terdiam saat dia melangkahkan maju sehingga membuatnya semakin dekat denganku, refleks aku berjalan mundur dengan pandangan tak bisa lepas darinya.
"Sepertinya aku menyukaimu, Adara." saat mendengar itu dari mulutnya, aku tidak tahu harus memperlihatkan reaksi seperti apa selain terkejut.
...🌠🌠🌠🌠🌠...
Hai ... semoga suka ya, jangan lupa like and komen vote dan juga review.
__ADS_1