
Ting!
Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Arkan. sehingga memecahkan suasana.
Setelah membaca pesannya, Arkan kembali menoleh kepadaku.
"Ada kerjaan, aku kembali ke kantor dulu , ya." pamit Arkan.
Aku mengangguk, setelah mencium pipiku, Arkan pergi meninggalkanku di kamar.
Setelah Arkan pergi, aku kembali larut dalam pikiranku.
***
Hingga pada malam harinya, Aku tengah menyiapkan makan malam di bantu oleh bibik, sambil menunggu Arkan yang sebentar lagi akan pulang.
"Good night, sayang!" ucap Arkan seraya mengecup pipiku tiba - tiba.
"Arkan!" seruku dengan raut wajah kesal.
Arkan terkekeh, tampaknya menikmati wajah kesalku.
"Kamu masak apa, hari ini?" tanya Arkan penasaran.
"Kamu bisa liat sendiri, kan?" tanyaku balik.
Arkan mengikuti arah pandangku, lalu memperhatikan makanan yang sudah terhidang di meja.
"Yaudah ... kalau gitu aku mandi dulu," ujar Arkan.
"Hmm ... "
"Dah ... sayang!" Arkan mengecup bibirku sekilas, lalu menjauh.
"Arkan!" seruku dengan tatapan tajam.
Arkan hanya terkekeh, sedangkan aku menatap kesal dirinya
***
Aku menyiapkan makan malam untuk Arkan. lalu kami berdua fokus dengan makan malam.
Setelah selesai makan malam, kami berdua bersantai di depan tv, sambil menonton acara kesukaan kami berdua.
Kami tampak menikmati kebersamaan berdua malam itu, hingga akhirnya aku menyerah karena mengantuk, tanpa aku sadari aku tertidur di pangkuan Arkan.
***
Keesokan paginya ...
Paginya aku terkejut, karena kudapatkan sudah berada di tempat tidur. dan Arkan tidak ada di sampingku.
Aku turun ke bawah, untuk mengecek keberadaan Arkan. namun aku tak menemukannya dimana - mana.
"Bibik!" seruku dari arah ruang tamu.
Bibik yang mendengar panggilanku, meninggal pekerjaannya, lalu menghampiriku di ruang tamu.
"Ya. non?!" tanya Bibik.
"Bibik liat, Arkan ... suami saya?" tanyaku
"Udah pergi tadi," ungkap Bibik.
"Hah?"
"Ya-yaudah ... makasih bik." ucapku.
"Sama - sama, non." simbat bibik.
"Oh ya ...non mau sarapan apa, pagi ini?" tanya Bibik.
"Apa aja, Bik!" jawabku, yang kemudian pergi meninggalkan bibik ke kamar mandi.
***
__ADS_1
Sekembalinya aku dari kamar mandi, ku lihat hidangan sudah siap di meja makan.
Aku mengirim pesan ke Arkan. sebelum aku beralih ke makanan yang di buat bibik.
[ Arkan kenapa kamu nggak bangunin aku ? ]
Aku beralih ke makanan yang sudah siap saji, ku letakkan ponsel di sampingku. barang kali Arkan akan cepat membalas pesanku.
Sampai aku selesai makan, tak ada balasan dari Arkan. itu membuatku merasa aneh, Arkan tak pernah seperti ini sebelumnya.
Setelah mondar - mandir ku putuskan, untuk menunggu balas dari Arkan, kalau tak juga dibalas baru aku akan menelponnya.
Aku mencoba bersikap tenang, tapi rasa khawatir terus menggorogoti diriku.
Ku ambil ponsel yang sebelumnya aku letakkan, tanganku mulai bergerak mengetikkan sesuatu. sampai akhirnya aku tak sabar akhirnya kuputuskan menelponnya.
"Ya, sayang? "Aku menarik nafas lega karena Arkan menjawab telponku.
"A-Arkan!" seruku dengan nada gemetar.
"Ada apa? semua baik - baik aja, kan?" tanya Arkan dengan nada cemas.
"Nggak ... aku nggak papa," ujarku mencoba menenangkan Arkan.
"Maaf ... aku cuma khawatir, soalnya pesan aku belum kamu bales," ujarku dengan nada sedih.
"Maaf ya sayang ... tadi aku ada kerjaan," jelas Arkan.
"Oh ... yaudah kamu lanjut aja ya, maaf kalau aku ganggu kamu." ucapku.
Belum sempat Arkan membalas ucapkanku, ponselku keburu mati karena kehabisan baterai.
"Yah ... mati," aku pergi ke kamar, setelah mendapatkan charger, ku isi kembali daya ponselku.
Tok tok tok!
Aku tersentak dengan suara ketukan pintu yang tiba - tiba di kamarku, ku lihat bibik mulai memasuki kamarku.
"Non ... ada tamu," ujarnya.
"Kedua teman, non," ungkapnya.
"Hah?" aku segera menghampiri kedua temanku itu, yang tengah berada di lantai bawah.
"Hai, Dar!" sapa Shane.
"Hai!" balasku.
"Kenapa nggak langsung, ke kamar aja?" tanyaku heran.
"Hehe ... kita sengaja biar kamu, ikut turun." sahut Vivia.
"Sialan!" gerutuku.
"Yaudah ... duduk," pintaku.
Aku segera duduk, di ikuti oleh kedua temanku, tak lama bibik datang membawa minuman.
Setelah mengatarkan minuman bibik kembali ke dapur.
"Ada masalah apa?" tanyaku.
"Ini ... temen kamu, dia pengen kamu ikut," jelas Vivia.
"Ikut?" tanyaku bingung.
"Iya ... aku kesin, mau minta bantuan kamu, Dar!" sahut Shane.
"Bentar, bantuan apa nih?" tanyaku semakin bingung.
Kulirik satu persatu mereka, tampak mereka sedang bingung menjelaskannya denganku.
"Begini ... kan sih, Shane!"
"Dia kan mau Merid, jadi dia mau minta bantuan buat pilih baju pengantin," jelas Vivia.
__ADS_1
"Hah?"
"Kamu bisa kan, Dar?!" tanya Shane harap cemas.
"Bisa kok, tapi kenapa nggak kamu sendiri aja, kita berdua temenin?" tanyaku heran.
"Duh ... Dar!" seru Shane.
"Kamu tau kan, selera kamu itu bagus banget," ujar Shane.
"Yaudah ... iya, kalau gitu aku ganti baju dulu, ya." aku berbajak dari tempatku, lalu pergi ke kamar.
beberapa menit kemudian aku kembali, lalu kami pun berangkat.
***
Setibanya di butik pengantin, Shane tampak antusias, saat melihat semua pakaian putih dengan berbagai gaya di depan matanya.
"Ini salah satu butik, favorit aku," ungkapku.
"Silakan kamu pilih, nanti kita berdua nilai," sambungku.
"Ok." tanpa menunggu lama, Shane memilih pakaian yang dia sukai.
Aku dan Vivia membiarkan dia memilih sendiri, agar dia tidak menyesal nantinya saat memakainya.
"Vi!" seruku kepada Vivia yang berada di sampingku, Vivia menoleh ke arahku.
"Dion ... kemana? kenapa mereka nggak barengan aja?" tanyaku bingung.
"Kata Shane ... sih, biar jadi kejutan," ungkap Vivia.
"Hah?"
"Iya ... jadi mereka akan penasaran seperti apa penampilan masing-masing," jelas Vivia.
"O-oh ... " ucapku dengan nada pelan.
Tak lama Shane datang dengan gaun yang dia pilih dan sudah dia kenakan.
"Gimana?" tanya Shane. sambil berputar memamerkan gaunnya.
"Dar ... kamu aja deh ... kamu kan yang paling ngerti," bisik Vivia.
Aku menghela nafas, kemudian mengamati Shane.
"Shane!" seruku.
"Kamu nggak mau coba, gaun yang lain?" tanyaku.
"Kenapa nggak cocok, ya?" tanya Shane dengan wajah sedih.
"Bukan ... siapa tau ada yang lain, sesuai selera kamu," jelasku, biar bagaimana pun aku tak ingin Shane. jadi salah faham.
"Yaudah ... aku coba lagi, ya." Shane pergi, dan kembali memilih gaunnya.
"Aku mau liat - liat juga, Ah ... " Vivia berdiri lalu pergi melihat gaun yang ada di butik itu.
"Sialan ... aku di tinggal sendiri,' batinku kesal.
"Adara?!" aku terkejut saat melihat siapa yang memanggilku, dan saat aku lihat ternyata dia adalah Kean.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hai ... gimana part kali ini semoga suka ya
Jangan lupa like and komen vote dan reviewnya juga.
Kalau ada masukkan silakan komen di bawah.
Ingat kalau kalian ingin bacaan kalian menjadi berkualitas, terus dukung author kesayangan kalian siapapun itu, agar author kalian mengembangkan tulisannya.
ok sekian dari author.
sampai jumpa di cerita selanjutnya.
__ADS_1