
Sementara Arkan dengan ritual mandi
nya, Adara pergi ke dapur untuk menyiap kan sarapannya, setelah selesai menyiapkan semua keperluan Arkan, untuk pergi ke kantornya.
Hari ini Adara hendak menyiapkan sandwich untuk menu sarapan mereka.
Menu sarapan mereka :
Tak lama kemudian Arkan yang sudah selesai dengan riutal mandinya, dan tampak sudah rapi, langsung menghampiri Adara di dapur.
***
Saat di dapur dia tersenyum, melihat istrinya yang tampak sibuk, menyiapkan sarapan.
Grebbb....
Lagi - lagi Adara di buat kaget saat Arkan memeluknya dari belakang, ternyata dia masih belum terbiasa dengan kebiasaan Arkan yang selalu memeluk dirinya.
"Arkan!" panggil Adara, seraya menoleh ke belakang.
"Hmmm...." gumam Arkan, yang menyandarkan kepalanya ke pundak Adara, seraya sekali mencium tengkuk leher Adara.
Deg deg deg....
Dan entah kenapa, Adara selalu tak bisa mengontrol detak jantungnya, saat dirinya berdeketan dengan Arkan, mungkin dirinya yang saat ini sudah mulai mencintai Arkan, masih belum terbiasa dengan sikap Arkan yang sekarang.
"Dar!? " panggil Adara.
"Hmm..." gumam Adara, seraya menoleh ke belakang.
"Kenapa bau harum tubuh kamu, selalu membuat aku kecanduan, ya," entah dapat dari mana Arkan kata - kata itu, tapi itu berhasil membuat pipi Adara memerah.
Karena salah tingkah Adara mendorong Arkan, agar terlepas dari Arkan.
"Kamu tuh ya, pagi pagi udah ngehalus aja," gadis itu berjalan ke meja makan, kemudian meletakkannya makanan yang terakhir.
"Bukan ngehalus, sayang...." Arkan berjalan ke meja, dan duduk di dekat Adara.
Adara duduk di dekat Arkan, kemudian memberikan sarapan untuk Arkan.
"Makasih, sayang." ucap Arkan, lagi lagi pipi Adara memerah, sederhana, tapi itu mampu membuat Adara jadi salah tingkah.
"Nggak di jawab, nih?" tanya Arkan.
Adara mengehela nafas kemudian menatap Arkan.
"Iya." jawab Adara, seraya tersenyum.
"Iya, apa?" tanya Arkan dengan nada menggoda.
"Iya, sama - sama, sayang...." sahut Adara, Sedangkan Arkan tersenyum puas ke arah Adara.
Adara menyantap sarapannya, begitu juga dengan Arkan, mereka tampak begitu menikmati kebersamaan mereka pagi itu.
***
Setelah membereskan bekas sarapan mereka, Adara dan Arkan bersiap ke kantor.
"Jam berapa nanti, pulang?" tanya Adara, seraya merapikan dasi Arkan.
"Mmm...nggak tau, kita liat nanti ya, kalau kerjaan aku nggak banyak, aku bakal pulang cepet." simbat Arkan seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Adara.
"Nanti siang luch bareng, ya," ajak Arkan, Adara terseyum kemudian mengangguk kan kepalanya.
"Yaudah, kita ke kantor sekarang, yuk," Adara merangkul lengan Arkan, Dan berjalan bersama ke mobil mereka.
Karena jarak kantor mereka cukup berlawanan arah, mereka jadi memakai mobil mereka masing - masing untuk pergi ke kantor mereka.
****
Hari pertama mereka bekerja, setelah cuti karena pernikahan mereka, mereka di sibukkan dengan pekerjaan kantor mereka.
Mereka sudah di sibukkan dengan metting, rapat besar, dan lain - lain.
Tapi meskipun demikian, mereka tampak menikmati dunia kerja mereka, meskipun mereka merasakan ke lelahan.
Tapi itu lah dunia kerja mereka, yang sudah lama mereka geluti sejak lulus dari perkuliahan mereka.
Saat Adara mulai bersantai di ruang kerjanya, tiba - tiba seseorang datang dan mengetuk pintu.
Tok tok tok....
Adara sedikit terkejut, dan melirik ke pintu.
"Masuk!" seru Adara.
Kreaakkk....
Seseorang membuka pintu, kemudian masuk.
"Kean?" Adara sedikit terkejut, saat melihat Kean berada fi kantornya, gadis itu bertanya - tanya apa yang di lakukannya di kantornya.
"Ada apa, nih?" tanya Adara heran.
Laki - laki itu mendekat ke meja kerja Adara, Adara menatap bingung Kean.
"Nggak, gue cuma mau ketemu lo aja, karena gue denger lo, barusan balik dari paris." jelasnya, dengan senyum di wajahnya.
Gadis itu menatap bingung laki - laki di hadapannya itu kemudian terkekeh.
"Kalo gue udah balik, emangnya kenapa?" tanya Adara, seraya memangku dagu.
"Mau minta oleh - oleh," simbatnya dengan nada santai, kemudian duduk di kursi di depan Adara.
"Yah... gue nggak ada oleh - oleh tuh, kan gue kesana buat kerja, bukan buat liburan." ujar gadis itu.
Tok tok tok...
Ketukan pintu, membuyarkan obrolan mereka, mereka menoleh ke pintu secara bersamaan.
"Arkan!" seru Adara.
Adara sedikit terkejut, dengan kedatangan Arkan yang tiba - tiba, dia menoleh ke Kean, kemudian kembali menoleh ke Arkan.
Gadis itu beranjak dari tempatnya, kemudian melenggang menghampiri Arkan.
"Kenapa nggak bilang kalau, kesini?" tanya Adara, ketika sudah di hadapannya.
Arkan melingkarkan tangannya ke pinggang Adara, menghapus jarak di antara mereka.
"Kan sengaja, lunch barengnya jadi, kan?" tanya Arkan, seraya mengecup kening Adara.
Wajah gadis itu langsung panas, dia merasa tidak enak sekaligus malu, karena Arkan melakukannya di depan Kean.
"Ekhmm....." dehem Kean, memecahkan suasana.
"Eh?!" Adara mencoba mengendalikan dirinya, agar tidak terlihat salah tingkah.
"Malu banget, astaga!' batin Adara
"Arkan, nggak bisa lihat Sikon banget, sih!' batin Adara.
"Lo, yang di rumah sakit itu kan" tanya Kean.
"******! Kean pakek acara inget lagi.' batin Adara.
gadis itu melirik dua lelaki yang ada di ruangannya itu, secara tidak langsung ruangan tersebut menjadi panas.
gadis itu mennelan ludah, secara menatap keduanya secara bergantian.
"Oh, kenalin gue Arkan, suami Adara," ungakapnya seraya merangkul gadis itu, gadis itu hanya menahan rasa malunya, sembari menutup wajahnya yang saat inu memerah.
"Gue Kean, temen sekaligus rekan kerja Adara." entah situasi macam apa yang saat ini di hadapi oleh Adara, namun gadis itu bisa merasakan hawa panasnya.
"Arkan, kita makan siang aja yuk, Kean kalo mau ikutan nggak papa," ajak gadis itu, Arkan menatap heran istrinya itu yang mengajak Kean makan siang bersama mereka.
"Hahaha... terimakasih tapi itu tidak perlu, gue langsung balik aja, lagian ada kerjaan lain yang harus gue urus." dalih Kean laki - laki itu tampaknya paham betul jika dia bergabung bersama mereka, dirinya hanya akan jadi nyamuk.
"yaudah, kalau gitu gue pergi dulu," mereka berdua mengangguk, dan Kean pun melenggang pergi.
"dia yang waktu itu jenguk papa kamu, kan?" tanya Arkan dengan nada dingin.
gadis itu menatap heran Arkan, apakah Arkan sedang cemburu karena Kena datang ke kantornya.
__ADS_1
tentu saja pasti cembur, siapa yang tak cemburu kalau pasangannya di datangi orang lain, pertanyaan bodoh !
sekarang gadis itu harus memikirkan cara agar Kean jadi tak salah faham kepadanya.
gadis itu harus menyiapkan mental dan penjelasan yang bisa di terima oleh Arkan.
****
"Jadi lunch nggak, sih?!" tanya gadis itu seraya melingkarkan tangannya ke lengan Arkan.
Arkan masih menatap dingin ke arahnya, membuat Adara melepas tangannya yang melingkar di lengan Arkan.
Gadis itu menghela nafas berat, dia paling malas kalau harus terlibat dalam situasi yang seperti.
tapi kayaknya Arkan nggak akan berhenti bersikap dingin kepadanya, kalau dia menjelaskan sesuatu kepadanya.
"yaudah iya, aku jelasin." gadis itu memasang muka murung, dan Arkan memasang wajah serius, untuk mendengar penjelasan dari Adara.
gadis itu pun mulai menjelaskan, bagaimana Kean yang tiba - tiba datang ke kantornya, dan masuk ke ruangannya, sampai Arkan yang tiba - tiba datang tampa memberitahunya.
"Yaudah kalau gitu, aku percaya kok," gadis itu tersenyum, dan perasaan lega mulai masuk ke dirinya.
kemudian memeluk Arkan, begitu juga sebaliknya, gadis itu beruntung mempunyai Arkan yang begitu percaya padanya, dan tak memperpanjang masalah.
pelukan hangat itu berakhir dengan kecupan di kening gadis itu, kemudian mereka pergi mencari makan siang.
****
mereka mencari tempat yang menurut mereka tak jauh dari kantor mereka berdua.
setelah sampai di tempat tersebut, mereka memasuki tempat tersebut.
mereka mengedarkan pandangan mereka dan melihat sekelilingnya, untuk melihat apakah masih ada tempat untuk mereka.
karena mengingat sudah memasuki jam makan siang, tempat tersebut tampak ramai dengan pengunjung.
setelah mencari akhirnya mereka mendapatkan tempat kosong untuk mereka, setelah duduk di tempat tersebut, mereka memanggil waiters dan memesan makanan untuk mereka.
setelah waiters itu mencatat pesanan mereka berdua, waiters itu pun pergi mengambilkan pesanan mereka.
selama waiters itu pergi mengambilkan pesanan, Arkan dan Adara sibuk dengan ponsel mereka.
"Arkan!" mereka menoleh ke sumber suara, yang memanggil nama Arkan.
Ekpresi gadis itu langsung mengecut, saat melihat siapa yang dk hadapannya, Arkan yang melihat ekspresi kecut istrinya itu, bingung harus bagaimana.
ini bukan sesuatu yang di rencanakan, dan mereka berdua akan berdua bertemu dengan Maura, saat jam makan siang.
yah...Maura, entah gadis itu tau dari mana, tapi keberadaannya membuat suasana di sana tampak tak enak.
"Ma-Maura?" Arkan benar - benar terkejut, saat melihat Maura di hadapan nya, dan yang membuat Adara semakin kesal gadis itu tersenyum di depan Arkan.
Arkan yang di bisa merasakan hawa dingin di sekitar nya, dan itu sudah pasti itu dari Adara.
Arkan menghela nafas berat, entah situasi apa yang di hadapinya saat ini, tapi ini sangat membuatnya tidak nyaman sekali.
"Lo, ngapain disini?" tanya Adara dengan nada dingin.
"Menurut, lo?" tanya balik Maura.
Arkan hanya menyimak arah pembicaraan kedua wanita di hadapan nya itu, barang kali ada mengarah ke memancing keributan.
Mendengar simbatan Maura membuat Adara sedikit kesal, tapi dia masih mencoba mengontrol emosinya.
Gadis itu memperhatikan Maura yang duduk di sebelah Arkan, dan itu membuat Adara semakin kesal, gadis itu mengepalkan tangannya, dan masih mencoba menahan emosinya yang siap meledak kapan saja.
"siapa yang ngizinin lo, duduk di sebelah suami, gue!" serunya dengan menekankan kata suami, membuat Maura sedikit kesal.
"Maaf, tapi gue nggak perlu izin dari, lo," simbatnya, gadis itu bertambah kesal, melihat gerak - gerik Maura, yang sekarang bergelayutan manja di lengan Arkan.
Arkan mencoba menyingkir, tapi Muara terus menahannya, sedangkan dia tau Adara sudah sangat marah, di lihat dari matanya yang mulai memerah.
tak lama waiters datang membawa makanan pesanan mereka, dan melihat ke minuman yang di bawakan oleh waiters tersebut.
diraihnya segelas air tersebut, dan melihat ke arah Maura yang masih bergelayutan manja di lengan suaminya itu.
syurrrrr.....
gadis itu melayangkan air yang berada di gelas tersebut, membuat Maura jadi kelabakan.
"Gue, pikir lo perempuan yang mempunyai harga diri, tapi kayaknya gue salah," gadis itu meletakkan gelasnya ke meja, dan Maura berdiri, menatap Adara dengan tatapan menantang.
"Lo, nggak lebih dari wanita ja**n*" Maura hendak menampar Adara karena tak terima dengan ucapan Adara, namun Adara mampu menahannya.
Mata mereka saling bertatapan, Arkan yang melihat situasinya sudah tak terkendali, membuatnya bingung harus bagaimana, di tampa melihat Adara yang sedang berpacu dengan emosinya.
Plakkk.......
tamparan keras mendarat di pipi kanan dan kiri Maura, Arkan melotot dia sedikit kaget dengan perbuatan istrinya itu, Arkan mengedarkan pandangannya.
terlihat semua pengunjung disana, melihat ke arah mereka, dan kini mereka menjadi pusat perhatian, bahkan Waiters yang sebelumnya masih di sana langsung pergi, karena tak mau terlibat dengan masalah mereka.
"Jangan pernah lo berpikir, lo bisa ngotori wajah gue, dengan tangan lo, yang kotor itu!" seru gadis itu, yang masih berpacu dengan emosinya yang saat ini meledak.
"Ini peringatan buatan lo!" seru gadis itu, dengan nada penuh penekanan, sedangkan Maura masih menatap Adara, dengan tatapan kesal.
"Jangan pernah lo, ganggu rumah tangga gue, apalagi suami gue, ngerti?!" gadis itu memebereskan barang - barangnya, kemudian melenggang pergi.
Arkan yang melihat Adara pergi, hanya menghela nafas berat, Arkan melihat Maura sekilas, kemudian memutuskan untuk berbicara dengan Maura sebentar sebelum menyusul Adara.
"Gue harap, setelah ini lo berhenti nganggu gue, Maura!" Maura menyimak apa yang di katakan oleh Arkan.
"Gue nggak tau, lo tau dari mana gue, ada disini, tapi seharunya lo nggak disini," Arkan melihat sekitar dan begitu juga Maura yang mengikuti arah pandang Arkan.
tampak semua pengunjung disana masih melihat ke arah mereka, sebelum mengalihkan pandangan mereka.
"Karena lo hanya bikin malu diri lo, sendiri, lo bisa liat sendiri, kan" setelah mengatakan itu Arkan beranjak pergi, namun tangannya di tahan oleh Arkan.
"Lo, nggak bener - bener ninggalin gue, kan?" tanya Maura, Arkan melirik tangannya yang di tahan oleh Arkan.
"Please jangan tinggalin gue..." tangis wanita itu meledak, Arkan semakin bingung harus bagaimana.
Arkan merasa kasihan melihat Maura yang menangis, tapi dia juga harus mengutamankan istrinya.
perlahan Arkan melepaskan tangan Maura, Maura yang menggelengkan tangannya, tak ingin Arkan pergi meninggalkannya.
setelah tangan Maura lepas, Arkan melenggang pergi, kemudian menyusul Adara.
gadis itu menangis sejadi - jadinya, saat menatap Arkan yang pergi meninggal kannya, sampai Arkan menghilang dari pandangannya.
Sekarang gadis itu sadar, kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah, meninggalkan Arkan, demi karirnya sebagai model, dan pada akhirnya dia membuatnya kehilangan Arkan selamanya.
***
"Dara!" panggil Arkan, gadis itu menoleh, saat Adara menoleh ke Arkan, terlihat gadis air mata mengalir di pipinya.
gadis itu menangis, dengan sigap Arkan mendekati istrinya itu.
grebb.....
Arkan mendekap Adara ke dalam pelukkannya, tangis gadis itu pecah saat dalam pelukkan Arkan.
Arkan mengusap pungunggung Adara, dan mencoba membuat Adara tenang, Adara mengeratkan pelukkannya, dan Arkan membalas pelukkannya.
Tak lama Arkan melepas pelukkannya, di tatapnya mata istrinya yang berair tersebut, kemudian di usapnya.
Adara kembali memeluk Arkan, di balas pelukkannya oleh Arkan, seraya mengusap punggung Adara.
****
"tadi ngobrol apa sama, Maura?!" tanya Adara sambil melirik Arkan di sebelahnya.
saat ini mereka berada di dalam mobil, dan dalam perjalanan ke rumah mereka.
"Dar, udah ya, aku nggak mau nantinya kita, jadi berantem." simbat Arkan, dengan mata masih fokus ke depan.
"Apa sih, orang aku cuma nanya," gadis itu mengalihkan pandangannya, kerena kesal Arkan tak mau menjawab pertanyaannya.
"tapi pertanyaan kamu bikin keributan, sayang..." gadis itu seketika gadis itu mendengus kesal, melihat raut isinya itu, Akran hanya terkekeh, kemudian mengusap pucuk kepala Adara.
"Arkan!" seru gadis itu, dengan tatapan kesal, kemudian merapikan kembali rambutnya yang di berantaki oleh Arkan.
Arkan tertawa melihat reaksi istrinya itu, yang tanpa risih dengan ke jahilannya itu.
Adara melirik sini ke arahnya, Arkan masih fokus ke jalan.
__ADS_1
cup...
Gadis itu terdiam mematung, jantun
nya berdetak lebih kencang, dan dia baru sadar kalau mereka berhenti tepat saat lampu merah menyala.
Arkan mendekatkan kepalanyanya dengan kepala Adara, dan saling menyandarkan kepala mereka, kemudian saling memejamkan mata.
"Udah berhenti cemburunya?" mata Adara terbuka saat mendengar ucapan Arkan.
"siapa yang cemburu?" dalih gadis itu.
"ck..." Arkan terkekeh, kemudian kembali menjalankan mobilnya, karena lampunya sudah kembali hijau.
gadis itu tampak sedang berpikir, seraya melirik tangan Arkan, dengan ragu di raihnya tangan Arkan, kemudian di genggamnya.

Arkan melirik tangannya yang di genggam oleh Adara, seraya sesekali melihat kejalan, kemudian tersenyum di depan Adara.
Gadis itu membalas senyuman Arkan, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Arkan.
Arkan melirik istrinya yang bersandar di bahunya, hanya tersenyum, kemudian mengecup sekilas kening istrinya itu, kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke jalan.
***
"kamu yakin, nggak mau balik ke kantor?" tanya Arkan.
gadis itu menggelengkan kepalanya, kemudian duduk di sofa, Arkan menghampiri istri nya itu, kemudian duduk di sebelahnya.
Adara bersandar di dada bidang Arkan, yang duduk di samping, Arkan mengelus pucuk kepala istrinya itu.
"Kenapa, humm...?" tanya Arkan.
Adara tak menjawab gadis itu hanya diam, dan mengeratkan pelukannya.
"Masih kepikiran soal, tadi?" tanya Arkan?" lagi lagi gadis itu hanya diam.
"Dara!" panggil Arkan.
Gadis itu melepas pelukannya, kemudian menatap wajah Arkan.
"Kenapa?" tanya Arkan, yang bingung melihat istrinya yang menatap dirinya sedemikian rupa.
"Kamu....kamu nggak ada perasaan apapun kan sama, Maura?" tanya Adara.
"Dar!" Arkan menatap kedua kelopak mata Adara, dengan tatapan mendominasi.
Perlahan Arkan melihat Adara, yang mulai menangis

Tangis Adara ketika Arkan mendekapnya ke dalam pelukannya.
"Ka- kamu nggak akan ninggalin aku, kan?" khisk..." tanya gadis itu dengan nada suara yang segugukkan

"Kamu ngomong apa, sih?" gadis itu memeluk erat Arkan, seakan tak ingin melepaskannya.

"Udah, ya," pinta Arkan dengan nada lembut.
"Aku, mulai takut kalau kamu akan ninggalin aku, Arkan!' batin Adara.
"Karena biar bagaimana pun, kalian lebih dulu kenal, di banding aku,' batin Arkan.
"Aku takut, dia akan menggunakan hal tersebut untuk merebut kamu.' batin Adara.
Arkan melepas pelukkannya, kemudian manangkap wajah istrinya, gadis itu menatap wajah Arkan, yang menangkap wajahnya.
"Denger," pinta Arkan, gadis itu mulai mengendalikan dirinya, sampai akhir nya tak lagi terdengar tangisannya.
"Nggak akan ada yang ninggalin, kamu." gadis itu tersenyum, ada perasaan lega di hatinya, mendengar ucapan suaminya itu, dan mereka kembali berpelukkan.
***

"Kamu ngapain, sih?" tanya Arkan, yang menghampiri istrinya yang asyik dengan ponselnya.
"Arkan!" gadis itu sedikit kaget, karena tiba - tiba Arkan ada di hadpannya.
"Ngapain, humm?" tanya Arkan sekali lagi seraya menyentuh pucuk kepala Adara.
"nggak ngapa - ngapain," jawab gadis itu seraya menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum.
"oh, ya aku bawain minum buat, kamu." Arkan meletakkan minuman di atas meja, gadis itu menghampiri Arkan yang berjalan ke meja.

"Kenapa senyum kayak gitu?" tanya Arkan, yang kemudian melirik tangannya yang di genggam oleh Adara.
"Nggak papa, Hehe..." jawab gadis itu seraya mengalihkan pandagannya.
"Dar!" panggil Arkan, gadis itu menoleh, dan kemudian.
Arkan mendekatkan wajahnya, gadis itu yang faham apa yang hendak di lakukan oleh Arkan, kemudian memejamkan matanya

*****
Hari itu menjadi hari yang panjang untuk mereka, sebagai pasangan suami istri.
Besok harinya, pagi ini bangun lebih awal, gadis itu langsung mengedarkan pandangan dan di lihatnya Arkan masih tertidur pulas, dengan tangan yang masih melingkar di pingangnya, tanpa sehelai benang di badannya.
Gadis itu pun memakai kembali pakaian nya, dan pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Adara pergi ke dapur, untuk memasak sarapan untuk Arkan.
Saat dengan sibuk dengan masak kan nya, gadis itu di buat terkejut dengan tangan yang melingkar di pingangnya.
Sontak gadis itu membalikkan badan nya, dan di lihatnya Arkan, dengan senyum di wajahnya.
"Pagi!" ucap Arkan yang mendekatkan Adara dengan dirinya, Arkan melingkar kan tangannya ke pinggang Adara.
sehingga menghapus jarak di antara mereka.
"Pagi!" balas Adara.
"Cantik banget, sih!" puji Arkan, membuat Adara tertawa.

Gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Arkan yang sudah rapi dengan seragam kantornya.
"Morning kissnya mana?" tanya Arkan dengan nada menggoda.
sontak Adara memukul pelan dada Arkan, Arkan hanya terkekeh, dan mengeratkan pelukannya.
"Kan semalam udah," ucap gadis itu seraya menyandarkan kepalanya ke dada bidang Arkan, seraya memainkan jarinya.
"Beda dong sayang," goda Arkan, sontak Adara memukul pelan dada Arkan, kemudian mendorong Arkan menjauh.
"Udah masih pagi juga," Adara melanjutkan pekerjaannya, menata sarapan mereka ke meja makan.
Arkan mengambil ahli pekerjaan Adara, dan Adara ikut membantu, karena tak dia mungkin membiarkan suaminya mengerjakan sendirian.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
hai... gimana ceritanya, semoga suka ya
kalau ada masukkan untuk author, silakan komen dari kalian.
author tunggu masukkannya
jangan lupa like and comen, vote dan reviewnya.
dan jangan lupa mampir ke cerita author don't call me lambe turah dan what's wrong with my school.
ok author tunggu kalian di cerita author yang lain.
dan makasih buay dukungan kalian selama ini, karena memang itu yang saat ini author butuhkan.
__ADS_1
ok see you