
"Selamat ya, sayang..."
"Makasih, ibu!"
Aku bahagia melihat ekspresi bahagia mereka, tak aku sangka mereka akan se bahagia ini.
Tapi, ada sesuatu yang menjanggal.
Bagaimana setelah ini? apa Maura akan berhenti? atau mungkin sebaliknya.
Aku tidak pernah berharap kalau Maura berhenti, aku hanya ingin dia sadar kalau yang selama ini dia lakukan salah.
Begitu banyak ke bahagia di dunia, kenapa dia harus merusak rumah tangga orang lain.
Bukankah seharunya dia mencari kebahagiaannya sendiri, dan bukannya menghancurkan ke bahagian orang lain.
****
Mama memintaku duduk di sampingnya, dan ibu duduk di sampinku.
Mereka menyodorkan kertas, entah kertas apa itu, aku sendiri tidak tau.
Saat aku membuka dan membacanya, aku di buat terkejut kerena itu daftar belanjaan yang cukup panjang.
Aku tidak tau, dari mana mereka mendapatkan inspirasi untuk membuat semua daftar ini.
Tapi apa aku harus membeli semua yang ada di daftar?
"A-apa ini?"
"Mama!"
"Ibu!"
"Sayang...ini yang harus kamu lakukan saat kamu hamil,"
"Dan kamu harus beli semua yang ada di daftar itu."
"Kamu mengerti, kan?"
"A-apa ini perlu?"
__ADS_1
"Perlu!"
Saat melihat mereka mengatakannya bersamaan, Aku bisa melihat kekompakan antara ibu dan ibu mertuaku.
Arkan tolong aku....
***
"Arkan kamu harus menjaga istri, dan juga calon anak kalian,"
"Iya, pa!"
"Kalau ada sesuatu kamu bisa bilang ke ayah, atau ke papamu."
"Iya, ayah!"
"Kamu sudah beli vitamin?"
"Susu ibu hamil?"
"Pa!"
"Apa? kenapa?"
"Belum...tapi_"
"Kalau begitu biar Papa, saja!"
Papa berjalan menjauh, dan sedang menelpon seseorang entah siapa itu.
Arkan benar - benar bingung harus bagaimana, bahkan ayahku juga ikut ikutan.
***
Mereka sibuk mempersiapkan untuk calon cucu mereka, Aku mengerti kalau mereka senang dan ingin memberikan yang terbaik untuk cucu mereka, tapi apa ini tidak berlebihan?
Aku melihat semua ruangan penuh dengan barang yang baru di kirim, baju bayi, sepatu bayi, mainan, dan masih banyak lagi.
Aku terduduk di sofa, dan menatap nanar semua barang itu.
"Kamu kenapa, sayang?"
__ADS_1
Arkan duduk di sampjngku, lalu aku menyandarkan kepalaku, kepundaknya.
"Arkan!"
"Apa yang akan kita lakukan dengan semua barang ini?"
"Aku juga bingung,"
Aku merasa kalut sekarang di lain sisi, mereka ingin menyambut cucu pertama mereka.
Tapi di sisi lain, ini terlalu berlebihan menurut ku, apa yang harus aku lakukan dengan semua barang ini sekarang.
***
Tidak ada pilihan lain menerima dan menaruh semuanya, di bantu oleh bibik, kami membawa semua barang itu ke kamar tamu, agar tidak menyerak ruang tamu.
Beberapa menit kemudian...
Aku dan bibik selesai memindahkan semuanya ke kamar tamu, dan akhirnya semuanya tidak bertumpuk di ruang tamu.
Aku kembali ke keluarga yang masih berkumpul di ruang tamu.
mereka tampak masih mengobrol dengan hangat, saat mereka menyadari keberadaanku, mereka langsung menoleh ke arahku.
Sejak saat itu aku menyadari bertapa beruntungnya aku mempunyai mereka di sekelilingku.
Aku menghampiri mereka dengan senyum di wajahku, dan mereka pun membalas senyumku.
Ibu mendekatiku, lalu merangkulku, sambil berjalan mendekat ke yang lainnya.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai....
Gimana part kali ini?
semoga suka ya
Kalau ada masukan silakan comen di bawah.
Jangan lupa like and comen, vote and reviewnya juga.
__ADS_1
ok, see you.