
Adara mulai cemas, kalau orang tua anak itu salah paham, dan melaporkan mereka ke polisi.
"Saya, Arkan!" ucap Arkan memperkenalkan diri ke wanita itu.
"Dan ini , istri saya Adara." Adara sedikit terkejut dengan Arkan yang memeprkenal dirinya sebagai istrinya, tapi pada kenyataannya dia memang nyonya Arkan.
"Kami di sini menemani putri anda, karena dia main di luar, bagaimana kalau dia di culik." ujar Arkan
Ekpresi wajah wanita itu langsung berubah kecut.
"Sebagai orang tua, bagaimana anda bisa meninggalkan putri anda, apa anda tidak berpikir soal keselamatan putri anda?!" Ekpresi Arkan saat ini pun sulit di gambarkan, karena dia terlihat serius.
"Arkan!" seru Adara.
"Tidak apa." sahut wanita itu.
"Saya ini wanita karir, dan Queen tidak mau ikut saya ke kantor, dan kakek dan neneknya jauh dari kami, jadi saya juga bingung menitipkannya di mana." jelas wanita itu.
"Apa kamu tidak punya keluarga lain?" tanya Adara.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, tampak gadis itu bersedih.
"Sejak saya menikah dengan suami saya, saya jauh dari keluarga," ujar gadis itu.
"Sedangkan kami berdua sibuk dengan pekerjaan kami." sambungnya.
Adara ikut merasa sedih, saat melihat ekpresi sedih wanita itu.
"Terimakasih kalian sudah menemani, Queen." ucap wanita itu.
"Sebagai rasa terimakasih, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawar wanita itu.
Arkan dan Adara saling melirik satu sama lain, dan mempertimbangkan tawaran ibu dari gadis kecil itu.
Setelah mempertimbangkan, akhirnya mereka setuju dan makan siang bersama.
****
Beberapa menit kemudian mereka selesai makan siang, Arkan dan Adara pun berpamitan pulang, karena masih ada pekerjaan.
Setelah berpamitan, Arkan dan Adara pun Keluar dari apartment tersebut, dan kembali ke apartement milik Adara.
****
Di apartement Adara, tampak mereka duduk santai di sofa di ruang tengah, sambil memainkan ponsel mereka masing - masing.
Saat sedang asyik dengan ponselnya
Ting
Sebuah notif pesan masuk di ponsel Adara.
Adara membuka pesan tersebut kemudian membacanya.
"Adara online"
[ dara! ]
[ kalian sudah pulang? ]
"Read"
Deg.
Adara sedikit terkejut, ketika melihat isi dari pesan tersebut.
"Mama tau dari mana aku pulang?' batin Adara.
"Jawab dulu, deh." jari jemari Adara mulai mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan tersebut.
"Adara online"
[ Mama tau dari mana? ]
[ jawab dulu Dara ]
"Read"
Adara menutup layar ponselnya, kemudian melirik Arkan.
"Arkan!" Panggil Adara.
"Hmm...." gumam Arkan yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Lo bilang ke mama, kalau kita udah pulang?" tanya Adara dengan wajah bete.
"Hmmm...." gumam Adara lagi.
"Ishh....." dengan kesal Adara kembali mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan tersebut.
"Adara online"
[ iya ma, kita udah pulang ]
[ kamu habis ngapain sih, lama banget bales chat dari mama?]
[ maaf, ma ]
[ kalian kenapa cepet banget pulang?]
[ kalian nggak berantem, kan?]
"Nggak berantem, tapi jadi nyamuk,' batin Adara.
[ nggak ma, kita nggak berantem ]
[ cuma males aja lama lama disana ]
[ yaudah nanti kita dinner bareng, kalian jangan sampai nggak datang ya ]
" Mama Adara offline"
"Yah udah offline aja." kata Adara.
"Kenapa?" tanya Arkan sambil meletakkan hpnya.
"Itu, Mama ngajak diner." jelas Adara kemudian berdiri.
"mau kemana?" tanya Arkan.
Adara tak menggubris, kemudian pergi meninggalkan Arkan.
"Dara!" panggil Arkan, kemudian menyusul Adara.
Arkan berhasil mengejar Adara, kemudian menahan lengan Adara.
"Duh... apa sih!" seru Adara, gadis itu menghempas kasar tangan Arkan, dari lengannya.
Kemudian berbalik menatap kesal, ke laki - laki yang saat ini berada di hadapannya.
"Lo, masih kesel?" tanya Arkan.
"Lo ngapain bilang ke mama kalau kita udah pulang, sih!" terlihat raut kesal di wajah gadis itu.
"Loh, emang apa salahnya ngabarin?" tanya Arkan.
"Tau ah!" dengan kesal gadis itu pergi meninggalkan Arkan ke kamarnya, sedangkan Arkan masih diam di tempatnya.
****
Jauh dari tempat mereka, seorang gadis dengan penampilan seperti gadis sosialita datang ke sebuah caffe untuk menemui temannya.
"Hai!" sapa Maura.
"Hai!" simbatnya.
Maura duduk di kursi tepat depannya.
"Ra, kamu serius mau balik ke indo?" tanyanya.
"Serius, emang kenapa?" tanya Maura seraya menatap penasaran sahabtnya itu.
"Terus kerjaan kamu disini, gimana?" tanyanya kebingungan.
"Udah tenang, udah aku handle, kok." jelas Maura.
"Lagian nih ya, aku balik itu, untuk merebut kembali pacar aku," ungkap Maura.
"Hah? maksudnya gimana?" tanyanya.
"Jadi, cowok aku itu, udah nikah sama cewek lain," ungkap Maura.
"Hah?!" sahabat baik Maura tampak terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh Maura tersebut.
"Kenapa nggak kamu lepasin aja, sih!" serunya.
Sahabat Maura itu tampak tak setuju, karena sahabatnya itu ingin merusak rumah tangga orang lain.
"Nggak bisa dong, kan kita masih pacaran, dan sejak awal Arkan itu pacar aku, kamu juga tau itu." ucap Maura.
__ADS_1
"Ya, tapi status dia itu udah jadi suami orang, Ra...." sahabatnya itu tampak berusaha membuat Maura mengerti, tapi Maura tampak tak mau mengerti.
"Dia nggak bilang kalau dia udah nikah tuh," ungkap Maura.
"Hah?! gimana?" tanyanya bingung.
"Dia, nggak bilang kalau dia udah nikah, dengan kata lain dia nggak ngakui istrinya," ungkap Maura.
"Bentar, aku makin nggak ngerti deh."gadis itu tampak mencoba mencerna maksud ucapan Maura.
Tapi dia masih tak mengerti maksud dari ucapan Maura.
"Dia itu di jodohin, jadi nggak ada cinta di pernikahan mereka, yang Arkan cintai masih, Maura." gadis itu tampak tersenyum bangga.
"Lo, tau dari mana semua itu?" tanyanya heran.
"Informan gue, lah." jawabnya.
"Jadi lo, masih mau ngerebut Arkan dari istrinya itu?" tanyanya.
"Gue cuma mengambil yang sejak awal milik gue, bukan ngerebut." Protes Maura.
"Tuh, cewek gatel aja yang main nikahin pacar orang." sambungnya, seraya memasang wajah kesal.
"yah... itu sih hak kamu ya, tapi satu hal yang harus kamu tau." ucapnya.
"Sesuatu yang bukan di takdirkan jadi milik kita, nggak akan pernah jadi milik kita." ucapnya.
gadis itu meraih tasnya, kemudian pergi meninggalkan Maura disana.
"Fely!" panggil Maura.
"Argg....." geram Maura.
Maura terlihat kesal, karena sahabat baiknya itu sama sekali tak memihak kepadanya.
Gadis itu hanya mendengus kesal, karena sahabtnya itu bukan memberikan solusi malah pergi meninggalkannya.
*****
Disisi yang berbeda.
Waktu jam makan malam tiba, tampak semua orang sudah berkumpul, termasuk orang tua Arkan.
Semua suasana di sana tampak tegang, apalagi melihat ekspresi orang tua mereka masing - masing.
Membuat mereka menjadi tegang, dan harus bingung memulai bagaimana, dengan keheningan tersebut.
"Dara!" panggil Mama Arkan.
"Ya, Ma?" tanya Adara yang sedikit terkejut, karena tiba - tiba di panggil.
Mama Arkan tampak menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraan.
Mama Arkan tampak menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraan.
"Apa kamu dan Arkan, tidak suka dengan rencana bulan madu ini?" tanya Mama Arkan dengan nada sedikit ragu.
"Sayang..." Mama Arkan mulai meraih tangan Adara, kemudian megenggamnya.
"Mama tau, kalian tidak saling mencintai, tapi kalian bisa belajar untuk saling mencintai." ucap Mama Arkan.
Adara tampak mendengar kan dengan serius, apa yang coba Mama Arkan katakan.
"Sayang..kalian sudah telanjur menikah, tidak ada kata pisah setelah itu," ujar Mama Arkan.
"Dan Mama juga tidak ingin mendengar, kalau kalian akan pisah, mengerti?" tanya Mama Arkan.
"Maksud Mama mengatakan ini semua ke Dara, apa ma?" tanya Adara yang masih tidak mengerti.
"Dara, nggak ngerti." sambungnya.
"Kamu kenapa dan Akran pulang terpisah, dan tinggal di tempat yang terpisah?" tanya Mama Arkan.
Sontak hal tersebut membuat Adara sedikit terkejut, karena mertuanya itu bisa mengtahui hal tersebut.
Membuatnya jadi bingung harus mencari alasan seperti apa.
"Ma-mama tau dari mana?" tanya Adara dengan nada gugup.
"Jawab, Dara!" pinta Mama Arkan dengan nada sedikit di tekan.
"Dan kamu Arkan, kenapa kamu masih berhubungan dengan Maura?" tanya Mama Arkan.
"Hah?! Mama sampai tau soal Maura?!' batin Adara, ia benar - benar dia buat terkejut olehnya.
Membuat mereka berdua tak bisa berkutik.
"Ya, Ma?" tanya Adara.
"Dari mana kamu mengumpulkan uang untuk membeli apartement itu?" tanya Mama Adara.
"Ya ampun, Mama sampai tau soal apartement gue?!' batin Adara.
Sekarang mereka panas dingin, karena bingung harus menjelaskan dengan bagaimana.
"Adara!" panggil Mama Arkan.
"Y-ya, Ma?" tanya Adara dengan wajah tertunduk.
Gadis itu seperti sudah kehilangan muka menatap Para orang tua tersebut.
"Angkat wajah kamu kalau mama bicara." perintah Mama Arkan.
Gadis itu memberanikan diri untuk menatap wajah mama Arkan.
Dan menunggu apa yang ingin di katakan oleh mama Arkan selanjutnya.
"Apa kamu tau, apa tujuan kami memberikan kalian waktu untuk bulan madu?" tanya Mama Arkan.
"Sayang... itu agar kalian bisa lebih mengenal." jelas mama Arkan.
"Lebih bagus, setelah dari sana kamu langsung hamil." sambungnya.
"Ma!" sela Adara.
"Tolong jangan menyela, saat mama bicara!" seru Mama Arkan.
"Sayang... apakah sesulit itu mencintai Arkan?? " tanya Mama Arkan dengan lembut.
Adara terdiam, dia tak tau harus menjawab apa, Arkan hanya mendengarkan sejak mamanya mulai bicara.
"Dan kamu Arkan, apakah sesulit itu mencintai Dara?" tanya Mama Arkan.
"Ma!" seru Arkan.
"Mama taukan, Arkan udah lama, cintanya sama Maura Ma!" Terlihat raut serius di wajah Arkan, dan meminta mamanya untuk mengerti dirinya.
Sedangkan Adara menahan sesak yang, bergejolak dihatinya.
"Arkan!" ucap papa Arkan dengan nada tinggi.
"Kamu sadar apa yang barusan kamu katakan itu, baru saja menyakiti Adara istri kamu." ujar papa Arkan.
"Tapi itu kenyataannya, Pa!" Arkan benar - benar membela cintanya terhadap Maura ketimbang perasaan Adara sebagai istrinya.
"Arkan!" tangan kekar papa Arkan itu hampir saja melayang ke pipi Arkan, tapi tangannya terhenti saat Adara sudah berdiri di depan Arkan, untuk melidungi Arkan.
"Pa, jangan salahkan Arkan untuk perasaannya," pinta Adara bisa meresakan kalau tubuhnya saat ini begetar, tapi dia harus bisa mengendalikannya.
"Karena perasaan itu tidak bisa di paksakan." lanjutnya.
"Adara, sudah memberi pilihan pada Arkan, dan sepertinya Arkan lebih memilih Maura." ucap Adara dengan suara parau.
"Untuk itu, Dara berpikir, dari pada semua semakin terlanjur, dan terlambat untuk di perbaiki." kata Adara.
"Akan lebih baik, kalau Arkan dan Dara pisah." sontak semua terkejut mendengar keputusan Adara.
Mereka tak menyangka, termasuk juga Arkan, kalau dia akan bicara seperti itu di hadapan keluarga mereka.
"Dara!" seru Mama Adara.
"Apa kamu sadar, dengan yang kamu bilang barusan?" tanya Mama Adara.
"Kamu pikir pernikahan itu apa? main - main?!" Mama Adara terlihat tidak senang dengan ucapan Adara barusan.
"Kalian bertiga duduk lah dulu." pinta Mama Arkan..
Papa Arkan dan Arkan duduk ke tempat mereka semula, tapi Adara masih berdiri di tempatnya.
"Dara!" panggil Mama Arkan lembut.
"Maaf, tapi Adara tak bisa lama - lama disini, permisih," setelah berpamitan Adara pergi meninggalkan Arkan dan keluarganya.
Sepanjang perjalannya, air mata Adara tak berhenti mengalir, hingga ia masuk ke dalam mobil miliknya.
Adara melajukan mobilnya, kemudian pergi menjauh dari caffe tersebut.
****
__ADS_1
di tempat sebelumnya.
"Arkan!" seru Papa Adara.
"I-iya, pa." sinbat Arkan dengan nada terbata - bata.
"Kenapa kamu diam aja, kerja!" ucap papa Adara dengan nada sedikit tinggi.
"Ta-tapi, pa." ucap Arkan.
"Kejar!" tegas papa Arkan.
Arkan pun langsung berhabur keluar, dan menuju mobilnya.
Arkan melajukan mobilnya, dan meninggalkan tempat itu.
Di sepanjang perjalanan Arkan berpikir, harus mencari Adara dimana, rasanya tidak mungkin dia kembali ke apartment nya.
Tapi kemana lagi Adara akan pergi dengan mobilnya, Arkan melirik ke sekeliling, namun tak melihat Adara sama sekali.
Arkan teringat sesuatu, kemudian meraih ponselnya.
Arkan berniat melacak Adara melalui GPS nya dan beruntung Adara masih menyalakan GPS nya.
Arkan terkejut, saat melihat Lokasi yang di tunjuk oleh GPS tersebut, GPS itu menunjuk kan sebuah tempat club malam, dengan cepat Arkan melajukan mobilnya dan langsung menuju tempat itu.
****
Di tempat Adara.
Saat ini gadis itu dalam kondisi mabuk berat, tapi masih sedikit sadar.
Gadis terlihat menyedihkan, karena raut wajahnya yang seperti orang prutasi.
Seorang laki - laki menghampiri Adara, kemudian duduk di sebelahnya.
"Hai, mau gue temenin?" tanya laki - laki itu.
Adara melirik laki - laki yang mengajaknya mengobrol tersebut, tapi penglihatannya sedikit kabur.
Gadis itu kembali menyandarkan kepala di mejanya, laki - laki itu hanya tersenyum dan memandangi Adara.
Laki - laki itu tampak telarut dalam kecantikkan Adara, hingga tanpa sadar dia ingin mencium Adara.
Laki - laki itu mendekatkan wajahnya dengan Adara, yang masih besandar di meja dengan mata tertutup.
***Tiba - tiba.
Brukkkk***....
Seseorang memukulnya, yang membuat dirinya jadi terpental.
Di lihatnya orang yang memukulnya, dengan tatapan kesal, dia tidak tau kalau itu adalah Arkan, suami dari gadis yang hendak dia cium tadi.
Arkan berjalan ke arah laki - laki yang hendak mencium istrinya tersebut kemudian......
Brukkkk.....
Lagi - lagi Arkan memukul laki - laki tersebut, membuat laki - laki itu tersungkur.
Keributan membuat semua orang yang ada disana panik, dan menjadi riuh.
Karena keriuahan tersebut, membuat Adara terbanngun, Adara tampak mencari sumber keriuhan tersebut, namun penglihatannya saat inu terlalu kabur.
Dan kondisinya yang saat ini masih sedikit mabuk, membuatnya jadi tak tau harus melakukan apa.
Perkelahian antara Arkan dan laki - laki tersebut, menambah keriuhan di tempat itu, hingga akhirnya laki - laki itu tak bisa melawan Arkan lagi.
Barulah tempat itu menjadi tenang, namun ketegangan masih ada disana.
Arkan menghampiri Adara, dan membopong Adara keluar dari club tersebut.
Arkan membawanya ke mobilnya, dan membiarkan mobil Adara masih disana.
Arkan menancaokan gas, dan meninggalkan club teesebut.
***
Arkan membawa Adara ke sebuah rumah, dan menggendongnya ke kamar, dan meletakkannya di tempat tidur.
Arkan menyelimuti tubuh Adara dengan selimut, agar Adara tidak kedinginan.
Arkan yang hendak pergi, tiba - tiba tangannya di tahan oleh Adara.
"Jangan pergi....." gadis itu mulai mengigau.
"Arkan!" panggil Adara, yang masih mengigau.
"I love you." ucapan Adara tersebut meski dalam ke adaan tidak sadarkan diri membuat Arkan sedikit terkejut.
"I love you....." gadis itu memutar badannya sehingga membelakangi Arkan, hanya diam tak tau harus merespon bagaimana.
Hal tersebut membuat Arkan jadi berpikir, haruskah dia memberi kesempatan untuk Adara.
Mungkin hatinya saat ini masih milik Maura, tapi keberadaan Adara di hidup Arkan, membuat semuanya berubah.
Adara membuat semuanya menjadi lebih berwarna, yang tidak bisa dia dapatkan saat bersama Maura.
Maura yang lebih mementikan karirnya, sangat membuat Arkan menjadi di nomor 2 kan.
Tapi bagaimana pun juga, hubungannya dan Maura tidak lah sebentar, pasti akan memakan waktu untuk melupakan itu semua.
Sampai saat itu, apakah Adara akan menunggunya?
Apakah Adara akan memberikannya kesempatan ke 2?
Di tatapan wajah gadis itu, dan di amatinya setiap jengkal wajah gadis itu, di elusnya dengan lembut kepala gadis itu, membuatnya semakin nyenyak tidur.
Cup.
tampak sadar Arkan mengecup kening Adara, kemudian beranjak dari tempat tidurnya.
***
06 : 00
"Eugh..." gadis itu terbagun dari tidurnya.
Dirasanya kepalanya sedikit pusing, kemudian memegang kepalanya.
Tak lama Arkan masuk ke kamar, dengan nampan berisikan minuman dan makanan.
"Arkan?" tanya Adara setelah melihat Arkan yang masuk ke kamarnya.
Adara melirik ke sekeliling, dia tak mengenal tempat tersebut, ini bukan lah apartementnya, atau pun apartement Arkan.
"Arkan!" panggil Adara.
"Kita dimana?" tanya Adara yang kebingungan.
"Kita di rumah gue" ujar Arkan.
"Ru-rumah lo?" tanya Adara setengah tak percaya.
Gadis itu langsung bangkit dari tempat tidurnya, kemudian berlari ke luar jendela.
Di lihatnya dari tempatnya, pemandangan sekitar yang tampak begitu indah, dengan taman dan bunga.
"Wuaaaa.... keren!" seru Adara yang takjub.
"Kenapa heboh gitu, sih?!" Arkan berjalan ke arah Adara, yang tampak masih mengamati sekitar dari jendela kamarnya.
"Ini keren tau," protes Adara.
"Kok lo nggak bilang lo punya rumah?" tanya Adara.
Arkan memasang wajah datar, Adara menatap bingung Arkan.
"Kenapa?" tanya Adara.
"Mandi sana, bau alkohol tau nggak." setelah mengatakan itu Arkan pergi meninggalkan Adara di kamarnya.
Adara menatap bingung Arkan, Adara mencoba mencerna maksud dari ucapan Arkan.
Gadis itu mencoba mengingat, setelah berhasil mengingat Adara langsung bergegas membersihkan dirinnya.
****
setelah membersihkan dirinya, Adara pergi menemui Arkan dengan ragu, di ruang tamu.
Arkan yang sedang duduk santai di ruang tamu, seraya memainkan ponselnya, tampak begitu menikmati aktivitasnya.
Adara menghampiri Arkan, Arkan yang menyadari keberadaan Adara, langsung menghentikan aktivitasnya.
Dengan wajah tertunduk Adara menghampiri Arkan, sedangkan Arkan menatap Adara seraya melipat kedua tangannya.
Dia menunggu sampai Adara, berada di dekatnya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Jangan lupa like and comen dan jangan lupa kasih reviewnya ya
Ok see you